Seventh Sense [EP.21]
[EP.21 – Mysterious Power]
“Apa yang harus Adi lakukan, Yah?” tanya Gray dengan suara hatinya. Pemuda itu memejamkan mata, berusaha keras memusatkan konsentrasi pada suara ayah.
“Pikirkan apa yang paling ingin kamu lakukan, Di. Kebesaran tekad yang kamu miliki akan membantumu dari situasi ini, Nak. Berusahalah berpikir keras, pusatkan energi spiritualmu pada otak dan telapak tangan. Maju dua langkah dan pukul keras udara di depanmu.”
Gray menuruti perkataan ayah. Pemuda itu memikirkan apa saja hal yang paling ingin ia lakukan. Pertama, di pikiran Gray, ia sangat ingin membuat bangga ayah, ibu dan kakeknya. Kedua, Gray ingin melihat senyum Vanya dan ketiga, pemuda itu ingin tertawa bersama Atan, Rin, dan Zera.
Tanpa sadar, aura hitam pekat yang menguar dari tubuh pemuda itu perlahan lenyap seiring dengan mengalirnya semua energi spiritual ke beberapa bagian tubuhnya.
“Manusia bodoh! Kau pikir aku tak tau apa yang kau pikirkan? Kau memikirkan gadis malang itu, bukan? Dia sudah kulenyapkan wahai anak malaikat keparat!”
Konsentrasi pemuda itu buyar seketika kala mendengarnya. “Jangan dengarkan dia, Di. Vanya ada bersama ayah. Ayah berhasil menyelamatkannya. Fokus, Nak! Dengarkan suara teman-temanmu di luar sana.”
“Gray! Bangun, Bro!”
“Gray! Bangun! Kita sudah sampai, nih?”
“Yaelah! Nih, bocah pasti gadang lagi, deh!”
“Arkan, coba tabokin pipinya. Mungkin Gray pingsan.”
“Udah gue getok dari tadi, tapi gak bangun-bangun, nih, anak!”
“Pasti tenggelam dalam mimpi basah, nih, bocah!”
Gray tersenyum ketika mendengar suara teman-temannya. Pemuda itu kembali berkonsentrasi mengendalikan energi spiritualnya. Entah apa yang terjadi, yang pasti energi spiritual yang menguar dari kedua telapak tangan pemuda itu tampak berbeda.
Di telapak kanan mengeluarkan api merah dan di telapak kirinya mengeluarkan api berwarna biru, sebagai wujud dari energi spiritual yang ia keluarkan.
“Bagus, Di. Tarik napas, hembuskan. Dalam sekali pukulan kamu harus bisa memecahkan dinding tak kasat mata di depanmu itu.” Ayah lagi-lagi memberikannya intruksi. Gray menurut tanpa banyak bertanya. Pemuda itu menarik napas dalam dan mengembuskannya perlahan.
“Kau benar-benar malaikat keparat, Gabriel! Lebih baik kau serahkan saja anak itu padaku, sebelum tangan kanan Sang Penguasa kegelapan yang ikut andil dalam mengambil jiwanya.”
Suara makhluk yang sudah tidak asing lagi bagi Gray itu ikut masuk ke benaknya. Gray berusaha keras agar energi spiritual di kedua telapak tangannya tidak lepas kendali.
“Tangan kanan atau pun tangan kiri dari Penguasa Kegelapan. Suruh dia berhadapan langsung denganku! Kau hanya salah satu bala tentara kelas rendahan, yang diciptkan Zealdios untuk membantunya keluar dari dimensi terkutuk itu! Tak akan kubiarkan bangsa kalian menyakiti anakku, Keparat!”
“Sombong kau, Gabriel! Siapa bilang aku tak bisa menyakiti anakmu?! Lihat saja! Akan kubuat anakmu berada dalam dua pilihan terberat dalam hidupnya. Jiwanya pasti akan kudapatkan sebagai tumbal kebangkitan Zealdios!”
“Lakukan sekarang, Di!” perintah ayah tanpa peduli apa yang makhluk itu katakan.
Gray kontan membuka kedua matanya. Alih-alih memukul tembok tak kasat mata di depannya, pemuda itu malah mengerahkan tangannya ke langit-langit bus, tepat mengenai kedua bola mata merah yang menyembul dari sana.
Jerit kesakitan yang memekakkan telinga menggema. Kedua api berbeda warna di telapak tangannya berkobar semakin besar. Tangan pemuda itu sampai bergetar menahan energi spiritualnya yang semakin tak terkendali.
“Bedebah kau manusia rendahan!” Jerit kesakitan makhluk itu semakin memekakkan telinga.
“Sang Penguasa Kegelapan tak akan tinggal diam mengenai hal ini. Lihatlah, Gabriel! Anakmu benar-benar akan kami jadikan tumbal untuk kebangkitan Zealdios dan gerbang dimensi gaib!”
Gray semakin geram mendengar ocehan makhluk itu. Gray menjerit menahan rasa sakit efek energi spiritual yang ia keluarkan begitu banyak. Tubuhnya terasa tercabik dan sangat panas.
“Adi! Kendalikan amarahmu, Nak! Jangan sampai kamu tertelan oleh kata-katanya!”
“Adi gak sanggup, Yah!” teriak Gray sembari menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Suara ayah tak terdengar lagi, justru seperti suara kaca pecah yang menggema seiring dengan jerit kesakitan dari sang makhluk mengerikan. Dimensi ciptaan makhluk mengerikan itu hancur bertepatan dengan meleburnya kedua mata merah di langit-langit bus.
Gray sontak membuka kedua mata dan terbatuk dengan mengeluarkan darah. Napas pemuda itu tak beraturan, keringat dingin meluncur dari plipisnya. saat ini pemuda itu sudah kembali ke realita. Dimensi dan ilusi ciptaan makhluk mengerikan tadi lenyap sudah.
Arkan dan beberapa siswa lain mengerumininya dengan tatapan panik. “Kenapa, Bro? Kok, lo berdarah? Lo nyemilin lidah sendiri?” tanya Arkan setengah panik yang langsung mendapat jitakan dari teman di sampingnya.
“Air! Ambil air!” kata Bams, selaku ketua kelas di kelas Gray. Pemuda pendek itu juga tadi yang menjitak kepalanya Si Arkan. Arkan bersungut-sungut mendengar perintah ketua kelasnya itu, lalu dengan berat hati pemuda itu pun akhirnya bergegas pergi mencari air.
Gray masih setengah sadar. Pemuda itu berusaha membuka lebar kedua matanya. Dadanya terasa sesak dan kedua tangannya terasa terbakar. Dalam hati pemuda itu mengucap ribuan syukur karena jiwanya sudah kembali raga dan realita.
“Terima kasih, ayah,” gumam pemuda itu dalam hati sebelum kedua matanya kembali menutup rapat.
Tubuhnya benar-benar terasa lelah dan tak bertenaga. Gray sadar, itu efek samping dari energi spiritual yang ia keluarkan di dimensi astral ciptaan jin keparat itu terlalu berlebihan. Masih terekam jelas di otaknya, api merah dan biru itu bersatu dan berkobar begitu besar. Sebelumnya Gray belum pernah membentuk energi spiritual sebesar dan sedahsyat itu
***
Beberapa menit sebelum Gray kembali ke realita.
Beberapa saat setelah jiwa Vanya melebur menjadi serpihan cahaya. Gabriel – ayah Gray, dapat dengan mudah mengumpulkan serpihan jiwa gadis itu. Vanya berhasil ia selamatkan. Saat itulah, Vanya pun menceritakan semuanya pada Gabriel.
Gabriel menyadari, lambat laun Sang Penguasa Kegelapan akan melakukan hal ini, maka dari itu jauh-jauh hari pria paruh baya itu sudah menanamkan energi sensorik pada tubuh Gray, agar ia dapat merasakan apabila anaknya berada dalam marah bahaya. Dengan energi sensorik Gabriel juga dapat mengetahui keberadaan anaknya.
Gabriel pun dapat dengan mudah mematahkan mantra gaib, yang menyelimuti semua siswa kelas XI IPS 2 yang berada di dalam bus dari jarak jauh. Pria paruh baya itu juga menghapus ingatan mereka tentang apa yang sudah terjadi.
Bus pun kembali melaju dengan normal. Hanya Gray yang tak dapat ia tarik kembali jiwanya dari dimensi astral tersebut, maka dari itu Gabriel memilih masuk ke alam bawah sadar anaknya.
Setelah berhasil menenangkan Gray yang panik sendiri karena ilusi yang diciptakan jin keparat itu. Gabriel memandu anaknya untuk berkonsentrasi dan mengeluarkan energi spiritual. Namun, di luar dugaan. Energi spiritual yang Gray keluarkan, justru lepas kendali dan membuatnya keluar paksa dari alam bawah sadar anaknya.
Gabriel sadar, energi spiritual anaknya semakin berevolusi menjadi semakin kuat. Gray belum bisa mengendalikan energi spiritual sedahsyat itu. Begitu Gray berhasil menghancurkan dimensi astral, pria paruh baya itu langsung berteleportasi ke Museum Nasional. Dari kejauhan ia melihat beberap siswa tengah mengerubungi anaknya di kursi panjang tak jauh dari bus terparkir.
Pria paruh baya itu menatap cemas sembari mengucap doa agar anaknya selalu dalam lindungan Sang Pencipta. Karena terlalu panik, lagi-lagi Gabriel menggunakan kemampuannya. Pria paruh baya itu menjentikan jari dan seketika waktu pun terhenti.
Dedaunan yang berterbangan terhenti di udara, air yang mengalir dari keran terhenti, aktivitas manusia yang sedang berjalan pun juga ikut terhenti. Semua seakan beku oleh waktu, hanya pria paruh baya itu yang bisa bergerak dalam anomali yang ia ciptakan.
Dalam sekejap mata pria paruh baya itu sudah berada di samping tubuh anaknya. Gabriel mengangkat tubuh Gray sembari menatap nanar wajah pucat itu. “Maafkan ayah, Di. Semua kekacauan dalam hidupmu karena ayah, Nak. “
Sebelum berteleportasi, tak lupa Gabriel memanipulasi ingatan teman-teman Gray, bahwa hari ini anaknya sama sekali tidak masuk sekolah. Setelah Gabriel berteleportasi, barulah aliran waktu kembali berjalan sebagaimana mestinya.
“Nah, loh! Gue bawa aer untuk siapa ini?” tanya Arkan bingung. Sebab pemuda itu mendapati dirinya berjalan menuju temannya yang sedang berkumpul dengan tangan membawa sebotol air mineral. Tapi ia lupa akan tujuan sebenarnya, untuk siapa dia membawa sebotol air mineral itu?
***
Bersambung

Komentar
Posting Komentar