Seventh Sense [EP.01]
[EP.01 - The Beginning]
Sorak-sorai para siswi menggema di seluruh penjuru stadion indoor milik SMA Gema Nusa, tak menyurutkan konsentrasi Gray Adiaksa yang sedang mendribble bola melewati lawan demi lawan yang siap menghadang.
Pemuda itu mengoper bola ke rekan satu timnya lalu ia berlari ke depan dan kembali memberi kode pada rekannya agar bola dioper kembali padanya.
Sang rekan yang mengerti maksud Gray pun langsung melempar bola pada pemuda itu dan Gray tanpa buang-buang waktu langsung berkelit dari lawan yang hampir menangkap bola di tangannya dengan melakukan shoot ke ranjang dan bola pun masuk ke ranjang lawan. Gray mengepalkan tangannya ke udara sembari bersorak senang karena tepat pada saat bolanya masuk ke ranjang peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan pun dibunyikan.
Rekan satu tim Gray berlarian ke arah pemuda itu dan saling bertos ria serta tanpa dikomando mereka mengangkat Gray dan melambungkan pemuda yang menjadi ace pada pertandingan kali ini ke udara. Kembali, sorak-sorai para gadis semakin menggema di seluruh penjuru stadion.
“Mantap, Gray! Pokoknya tahun depan lo harus ikut turnamen lagi bareng kita,” ujar Arkan yang merupakan salah satu rekan satu tim Gray.
Gray tersenyum pada rekan-rekannya, ini pertandingan ke sekian kalinya yang Gray ikuti dan berakhir pada kemenangan dengan dirinya sebagai pencetak skor terbanyak. Gray bangga. Namun, tentu saja ia tak besar kepala atas segala pencapaiannya selama ini.
Kertas warna-warni bertaburan dari langit-langit stadion mengiringi diturunkannya tropi kemenangan dengan tali yang langsung mengarah pada kerumunan Gray dan rekan satu timnya. Mereka mendongak penuh bangga menatap tropi kemenangan yang perlahan mendekat.
Sorak-sorai dan tepuk tangan semakin menjadi, euforia kemenangan semakin terasa dan kekecewaan tentu saja juga dirasakan oleh pihak lawan yang kalah telak dengan tuan rumah turnamen tahun ini, tetapi mereka tetap sportif dan memberikan ucapan selamat kepada tim pemenang.
Acara penutupan turnamen pekan olahraga sekolah semakin meriah dengan penampilan tim band dari SMA Gema Nusa berkolaborasi dengan SMA Bakti Mulya.
“Arkan, sekarang jam berapa?” tanya Gray sedikit berteriak pada Arkan yang ada di samping karena lantunan suara musik dari tim band menggema di seluruh penjuru studion.
“Hampir setengah tujuh, Bro. Kenapa? Lo buru-buru mau pulang?” balas Arkan sembari memperlihatkan arloji di pergelangan tangannya yang baru saja ia pakai.
Seketika Gray mengumpat kesal dan raut bahagia di wajahnya hilang begitu saja. Buru-buru ia keluar dari kerumunan rekan-rekannya dan berlari tunggang-langgang ke arah ruang ganti khusus anak-anak tim basket. Tanpa membuang waktu pemuda itu membuka loker dan mengambil tasnya secara tergesa-gesa.
“Sial! Kenapa bisa lewat dari jam enam, sih?!” umpat Gray kesal di sela-sela larinya menyusuri koridor sekolah yang sudah tampak sepi.
“Motor sialan! Saat dibutuhin mogok aja kerjanya!” Gray semakin kesal saat mengetahui motornya tidak bisa dinyalakan. Gray semakin gelisah, ia menoleh ke arah kanan dan kiri secara intens, setelah tak ada yang terlihat ia pun kembali berlari ke arah gerbang sekolah.
Setelah berhasil keluar dari gerbang sekolah tanpa gangguan dari ‘mereka’, Gray langsung berlari secepat mungkin menuju terminal yang berada tak jauh dari sekolahnya. Pemuda itu berhasil sampai di terminal tepat saat adzan Magrib dikumandangkan. Lagi-lagi ia mengumpat dalam hati. Bukan hanya mitos semata, melainkan fakta bahwa pada waktu Magrib seperti ini, ‘mereka’ yang tidak terlihat oleh mata manusia normal pada umumnya akan menampakkan diri di sekitar Gray.
Bulu kuduk Gray meremang seketika saat makhluk astral berwujud kakek-kakek berumur delapan puluhan tahun duduk terbatuk-batuk di sebelahnya. Wajah kakek itu tidak terlalu menyeramkan, hanya sebelah bola mata yang terkeluar dari rongga serta mulutnya mengeluarkan darah. Gray sudah terbiasa dengan penampakan seperti ini, hanya saja ia tak tahan dengan aroma yang dikeluarkan oleh sosok astral di sampingnya ini.
Gray semakin mengernyitkan dahinya sembari menahan napas karena aroma yang menguar dari sosok astral itu semakin menusuk indra penciumannya, aroma tersebut tak lain dan tak bukan ialah aroma khas daging busuk pada umumnya.
Gray bisa dikategorikan manusia tidak normal, sebab ia bisa melihat, mendengar, mencium bahkan menyentuh makhluk astral. Terdengar tidak masuk akal memang, awalnya Gray juga sangat frustrasi ketika mendapatkan kemampuan itu, tetapi Gray mencoba beradaptasi dan alhasil ia bisa sedikit menekan rasa takutnya terhadap makhluk-makhluk mengerikan itu. Namun, tetap saja, satu hal yang masih menjadi misteri di benak Gray, kenapa dirinya bisa menyentuh makhluk tak kasat mata?
“Taxi!” teriak Gray cukup keras sembari beranjak dari duduk ketika sebuah taxi melintas di depannya.
Taxi berhenti, tak menunggu waktu lebih lama lagi, Gray sedikit tergesa memasuki kendaraan tersebut. Napas lega dapat ia hembuskan ketika sudah berada di dalam taxi, sedikit ia tolehkan kepalanya ke kaca jendela menatap sosok astral berwujud kakek-kakek yang duduk di sebelahnya tadi, makhluk itu masih ada di sana dan sebelah mata sosok astral itu tepat menatap ke arahnya, spontan Gray terlonjak kaget dan buru-buru mengatur pernapasannya yang mulai terasa sesak.
“Tujuannya ke mana, Mas?” tanya sopir taxi tanpa menolehkan pandangannya dari jalanan.
“Jalan cendana lima perumahan garuda nomer dua tiga, Pak.”
Setelah mengatakan tujuannya, Gray menyandarkan punggung sembari merogoh ponsel dari dalam tasnya. Ada tiga belas kali panggilan tak terjawab dari ayahnya dan tiga panggilan tak terjawab dari kakeknya. Gray mengernyitkan dahinya bingung. Tak seperti biasa ayahnya menelepon hingga sebanyak itu.
Tanpa pikir panjang pemuda itu pun mendial kontak ayahnya dan menempelkan benda pipih itu ke telinga. Terdengar nada sambung untuk beberapa saat sebelum panggilan tersebut di jawab orang di seberang sana.
“Assalamualikum, Yah. Kenapa, Yah? Maaf, tadi Adi gak angkat teleponnya.” Gray memang terbiasa menyebut nama belakangnya sendiri saat berbicara dengan keluarganya.
“Walaikumsalam, Di. Ayah mau tanya saja, Nak, gimana final turnamenmu hari ini?”
Mendengar pertanyaan sang ayah, senyum tipis terbit di wajah pemuda itu. Gray memang sempat memberitahu ayahnya bahwa hari ini ia ada pertandingan final turnamen basket di sekolahnya.
“Alhamdulillah, hasilnya memuaskan, Yah.”
“Syukurlah, Nak, tapi kamu tidak diganggu sama ‘mereka’, kan?” Gray paham maksud dari pertanyaan ayahnya.
Pemuda itu menghembuskan napas lelah dan menempelkan kepalanya pada kaca jendela.
“Di terminal Adi ketemu satu, Yah, tapi dia nggak ganggu sama sekali, kok.”
Taxi tiba-tiba berhenti mendadak membuat tubuh Gray terdorong ke depan dan ponsel yang ada di tangannya jatuh ke bawah kursi. Gray berdecak kesal sembari menatap jengkel ke arah sopir taxi yang menatapnya melalui spion depan.
“Maaf, Mas. Di depan lagi banyak kerumunan orang, sepertinya ada kecelakaan,” ujar sopir taxi itu sembari mengambil botol air mineral di dashboard dan meminum isinya hingga tandas.
Gray tak merespon, pemuda itu sibuk meraba-raba ke bawah kursi mencari ponselnya yang entah ke mana perginya.
“Ketemu!” gumam Gray saat merasakan benda pipih itu sudah dalam genggamannya.
Gray menarik tangannya dari bawah kursi dan langsung terlonjak kaget saat ia melihat di genggaman tangannya bukanlah ponsel melainkan telapak tangan berlumuran darah.
“Astagfirullah,” ucap Gray sembari kembali mengatur deru napasnya yang lagi-lagi tidak stabil karena rasa terkejut menguasai dirinya.
“Kapan bisa hidup normal, sih?!” umpatnya sambil berdecak kesal dan kembali merogoh bawah kursi untuk mencari ponselnya. Berhasil, benda itu akhirnya benar-benar sudah berada di genggaman Gray.
“Lupa charger, wajar dia tewas,” gumam Gray seraya mengusap layar ponselnya yang tidak bisa menyala lagi.
Taxi kembali melaju menuju arah rumahnya. Sepanjang perjalanan Gray berusaha menahan napas dan menutup matanya saat sosok astral mengerikan tiba-tiba muncul di kursi samping kemudi. Di kepala sosok astral tersebut tertancap kapak cukup besar dan wajahnya dipenuhi dengan darah serta aroma bangkai yang menguar dari sosok itu benar-benar membuat Gray mual dan sesak napas.
“Pak, stop aja, Pak. Saya turun di sini!” kata Gray sembari sedikit menggoyang kursi kemudi di depannya itu.
Taxi pun berhenti, Gray bergegas mengeluarkan uang seratus ribu dari dompet dan langsung keluar dari taxi tersebut tanpa menerima kembaliannya.
“Mas! Kembaliannya!” teriak sopir taxi tersebut dengan menyembulkan kepalanya dari jendala.
“Ambil saja, Pak!” balas Gray di sela-sela larinya.
Sesampainya di depan rumah, usai mengetuk pintu dan mengucap salam Gray langsung membuka pintu yang memang tidak terkunci dengan sedikit terburu, sebab di pohon rambutan seberang rumahnya ada sosok astral wanita berbaju putih tengah menangis dengan suara yang cukup keras.
“Kek!” gumam Gray sembari mengatur napasnya yang kembali tidak stabil karena berlari.
Sang kakek yang menunggu di ruang tamu langsung berdiri menyambut Gray. Wajah cucunya itu tampak pucat pasih dengan peluh mengalir di dahinya. Gray berjalan gontai mendekati sang kakek.
“Kek ... suara ... bau ... mengerikan ... Kapan Adi bisa hidup dengan normal, Kek?” Gray berucap parau dengan mata yang sudah memerah. Ini kali kesekiannya Gray mengeluhkan kemampuan yang ia punya kepada sang kakek.
Sang kakek paham betul apa yang dikatakan cucunya itu. Semenjak kemampuan itu berkembang hidup Gray memang tidak baik-baik saja dan yang hanya bisa mengatasi hal itu walaupun bersifat sementara hanyalah kakeknya.
Bulir bening itu tanpa sadar merembes dari kedua sudut mata Gray. Seperti biasa, ketika cucunya seperti ini sang kakek akan langsung menutup kedua telinga Gray dengan kedua tangannya lalu mulai melafalkan doa-doa sebagai bentuk perlindungan untuk Gray dari makhluk-makhluk astral.
“Masih mendengar suara ‘itu’?” tanya sang kakek setelah selesai melafalkan doa-doanya dan melepas tangan dari telinga cucunya.
Gray mendongak dengan wajah memerah, lalu pemuda itu menggeleng samar. Sang kakek pun tersenyum dan menepuk pundaknya pelan.
“Sekarang kamu masuk kamar, ambil wudhu dan shalat, setelah itu kamu istirahat sebentar. Nanti kakek panggil untuk makan malam kalau ayah dan ibumu sudah pulang.”
Gray mengangguk samar dan melangkah menuju tangga ke lantai dua, sebelum kakinya menginjak anak tangga, pemuda itu menghentikan langkah dan berbalik memandang ke arah sang kakek sembari tersenyum simpul.
“Terima kasih, Kek. Adi harap suatu saat nanti kakek bisa kasih tahu Adi yang sebenarnya. Apa yang melatarbelakangi kemampuan terkutuk ini.”
***
Bersambung

Komentar
Posting Komentar