Seventh Sense [EP.20]

 


Chapter Sebelumnya




[EP.20 – Astral Dimension]


Beberapa menit sebelumnya.  


Vanya yang terlelap nyaman di bahu Gray, mendadak merasakan hawa panas menyelimuti dirinya. Gadis astral itu menggeliat sejenak sebelum membuka kedua matanya. 


 Vanya refleks berdiri dari duduk ketika makhluk yang tak asing lagi baginya tengah tertatih mendekatinya dan Gray. Vanya melirik Gray sekilas, pemuda itu masih terlelap. Tubuhnya gemetar ketakutan sembari mencoba menggoyangkan bahu Gray berkali-kali. 


 “Bu! Bangun, Bu! Dia datang lagi, Bu!” Namun, tak ada respons dari pemuda itu. Gray tertidur pulas sambil sesekali mengorok. 


 Anehnya orang-orang yang berada di bus pun terasa sunyi dan tak ada pergerakan sama sekali. Vanya mencoba melongokan kepalanya ke depan melihat siswa yang duduk di depan Gray. Siswa itu juga tertidur pulas dengan kepala menyandar pada kaca jendala. 


 Vanya mulai curiga, gadis astral itu pun mulai mengedarkan pandang ke seisi bus. Semua yang ada di dalam bus terlelap sembari bersandar pada kaca jendela, terkecuali sang sopir yang mengemudi dengan tatapan kosong lurus ke depan.


 “Bu!! Bangun, Bu! Gue takut, Bu!” Vanya menjerit sembari terus berusaha menggoyangkan tubuh Gray. 


 Makhluk besar dengan tubuh berbulu semerah darah itu terlihat menyeringai menyeramkan ke arah Vanya. Gadis astral itu mendadak tak bisa bergerak sedikit pun. Tubuh astral Vanya terasa semakin panas seiring mendekatnya makhluk mengerikan itu. Menggerakkan bibir saja Vanya pun tak bisa.  


 “Berpuluh-puluh tahun aku telah menunggu momen ini. Momen di mana aku bisa menemukan keturunan dari malaikat keparat yang sudah menyegel gerbang dimensi gaib. Akan kupersembahkan jiwanya untuk Sang Penguasa Kegelapan.” Setelah itu suara tawa mengerikan mulai menggema dari mulut busuk makhluk mengerikan itu. Gendang telinga Vanya terasa mau pecah ketika mendengarnya.  


 Vanya terkesiap, ketika lehernya dicekik oleh makhluk mengerikan itu. Vanya berusaha tetap tenang sembari mencoba mengalirkan energi spiritual ke lehernya. Namun, cengkeraman erat dari makhluk itu menganggu energi spiritual yang coba gadis astral itu alirkan. 


 “Ternyata ada manusia yang bisa keluar dari raganya. Tampaknya energi spiritualmu cukup lezat untuk menjadi santapan makan siangku kali ini,” ujar makhluk itu sembari membaui wajah Vanya dengan liur busuk yang mengalir deras dari mulutnya.


 Vanya kontan memejamkan kedua mata sembari menahan napasnya. Takut dan panik membaur menjadi satu. Kali ini Vanya berusaha mengalirkan energi spiritualnya ke telapak tangan dan berhasil. Gadis astral itu dapat mengepalkan tangannya. Bermodal nekat, Vanya memberanikan diri mencengkeram tangan makhluk mengerikan itu dengan kedua tangannya. 


 “Apa yang lo lakuin ke orang-orang yang ada di dalam bus ini, ha? Dasar makhluk menjijikan!” Vanya berhasil meludahi makhluk mengerikan itu. Entah kenapa bibirnya dapat bergerak dengan mudah ketika energi spiritual itu berhasil ia alirkan ke beberapa bagian tubuhnya. 


 “Manusia rendahan seperti kau tak pantas mencampuri urusan dunia gaib! Jiwa pemuda itu akan segera kumiliki dan akan kupersembahkan kepada Sang Penguasa Kegelapan. Saudaraku yang telah ia bunuh, berhasil menyampaikan pesan bahwa pemuda itu adalah keturunan malaikat keparat yang telah menyegel  gerbang dimensi gaib. Ini waktu yang tepat untuk menjebaknya di dimensi astral ciptaanku!” 


 Vanya mengernyitkan dahi, gadis itu sulit mencerna perkataan makhluk mengerikan tersebut. Satu yang Vanya yakini, Gray dan semua orang yang berada di dalam bus ini pasti berada dalam bahaya akibat ulah makhluk mengerikan itu. 


 “Apa yang lo maksud, wahai jin menjijikan?!” Vanya bertanya sembari menatap tajam mata merah milik makhluk berbulu itu. 


 “Tak ada kewajibanku untuk menjawab pertanyaan dari manusia rendahan seperti kau, wahai manusia busuk!” balas jin keparat itu sembari mengeratkan cengkeramannya pada leher Vanya. 


 Vanya terbatuk-batuk karena nyaris kehabisan napas. Lehernya terasa sangat panas dan sakit. “Yang pasti, semua jiwa orang yang ada di sini menjadi tawananku di dimensi astral. Tujuannya sederhana, untuk membuat pemuda itu mau menyerahkan jiwanya secara sukarela padaku sebagai alat pertukaran dengan jiwa-jiwa orang yang ada di sini.” 


 Vanya tak dapat berkata dan berpikir lagi. Tubuhnya di angkat tinggi ke udara. Matanya berair sembari mencoba menoleh ke arah Gray yang masih terlelap dengan wajah pucat. 


 “Abu, bangun! Gue mohon, Bu! Ini sakit! Lo udah janji bakal buat gue kembali lagi ke raga. Tapi gue rasa, sekarang waktunya gue mengucapkan salam perpisahan, Bu. Tubuh gue terasa tercabik dan terbakar, Bu ... selamat tinggal ... Abu. Gue harap lo baik-baik aja di sana.” Vanya berujar pilu dalam hatinya, sebelum tubuh astral gadis itu benar-benar melebur menjadi serpihan cahaya yang terbang di udara. Tawa kemenangan pun menggema dari mulut busuk makhluk mengerikan itu.  


*** 

 

Dengan tubuh gemetar Gray berdiri dari duduknya. Kepalanya perlahan menoleh ke samping dan tidak menemukan Vanya di sana. Sontak saja pemuda itu mengedarkan pandang ke sekitar, gadis itu benar-benar tak tampak lagi di matanya. Yang semakin kentara hanyalah aura hitam pekat yang menguar dari seluruh teman satu kelasnya yang ada di dalam bus ini. 

 

 “Hentikan busnya, Pak?!” teriak Gray sembari melangkahkan kakinya hendak berjalan mendekati sang sopir. Namun, baru dua langkah pemuda itu berjalan tubuhnya terasa menabrak tembok tak kasat mata dan membuatnya terpental cukup keras ke belakang. 


 Gray meringis menahan rasa sakit di punggungnya. Pemuda itu mencoba bangkit sembari mengatur pernapasan. “Arkan?! Lo denger gue, Ar?! Arkan?!” Gray kembali berteriak panik setelah napasnya mulai stabil. 


 Namun, baik Arkan maupun teman-temannya yang lain tak ada satu pun yang mendengar teriakannya. Suasana bus tampak sunyi, bus juga masih melaju sebegaimana mestinya. 


 “Apa yang terjadi? Kenapa mereka gak ada yang bisa denger suara gue?” tanya Gray pada diri sendiri sembari menatap lekat kedua tangannya, di mana aura hitam pekat juga semakin benyak menguar dari tubuhnya. 


 “Bus ini pasti kecelakaan dan kami semua bakal tewas. Gue harus cari cara menyelamatkan diri sendiri dan mereka semua. Gue belum mau mati. Masih ada ayah, ibu, kakek dan Vanya yang harus gue bahagiain.” 


 Gray kembali mencoba melangkah mendekati sopir. Namun, lagi-lagi tubuhnya terpental semakin keras ke belakang. Gray kontan menoleh ke luar jendela ketika awan di atas sana perlahan menggelap seperti awan di malam hari. 


 Pemuda itu semakin tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi? Jalan yang dilalui bus pun sudah tampak tak normal lagi. Jalan tol yang seharusnya menjadi rute menuju Museum Nasional, malah seperti hutan belantara yang banyak di tumbuhi pepohonan rindang yang cukup besar. 


 “Ke mana bus ini melaju? Ini gak beres! Vanya hilang dan mereka semua juga gak ada yang bisa denger suara gue! Indra perasa gue juga mendadak gak bisa merasakan apa-apa lagi. Apa yang sebenarnya terjadi?” 


Gray panik sendiri sembari mencoba berpikir jernih. Pemuda itu menampar pipinya sendiri dan itu terasa sakit, berarti ini adalah nyata pikirnya, tetapi kenapa seperti ada tembok pembatas antara dirinya dan teman-teman kelas lainnya yang berada di bus ini. 


 “Jika kuberikan pilihan, antara nyawamu dan nyawa semua orang yang berada di dalam bus ini. Nyawa siapa yang akan kau selamatkan? Nyawamu atau nyawa mereka semua?” 


 Suara parau seperti bisikan yang sudah tak asing lagi bagi Gray, menusuk indra pendengaran pemuda itu. Gray kontan menutup telinga dengan kedua tangannya. Gray menatap waspada ke sekitarnya. Namun, sama sekali netra pemuda itu tak dapat menangkap sang pemilik suara. 


 “Keluar! Gue tau lo ada di sekitar sini! Apa yang lo lakuin ke semua orang, ha?” teriak Gray berang. Sekarang Gray tau akar permasalahannya, kenapa semua orang memiliki aura hitam tanda kematian, itu pasti ulah makhluk mengerikan nan menjijikan itu. 


 Hanya gelak tawa memekakkan telinga yang menggema. Lagi-lagi pemuda itu menutup rapat kedua telinganya. 


 “Seperti yang kukatakan. Nyawa siapa yang akan kau selamatkan, nyawamu atau nyawa mereka semua? Hanya satu jawaban yang kuinginkan.” 


 Gray mengepalkan kedua tangannya sembari mencoba memfokuskan diri agar tetap tenang dan tak lepas kendali. Pemuda itu kembali mengedarkan pandang melihat teman-teman sekelasnya yang sudah tak tampak lagi oleh mata, mereka semua tertutupi oleh aura hitam pekat tanda kematian.   


 Pemuda itu mendongak menatap langit-langit bus. Hanya berjarak dua centimeter matanya dan mata merah milik makhluk mengerikan itu bertemu. Gray menatap tajam sepasang bola mata merah di langit-langit bus tersebut.


 Setelah berhasil menenangkan dirinya, pemuda itu tersenyum sinis sebelum berujar, “Jawaban gue sudah jelas, bukan? Gue bakal nyelamatin diri gue sendiri dan mereka semua yang ada di sini!”


 “Sombong kau anak malaikat keparat! Kau tau?! Jiwa mereka semua berada dalam genggamanku! Dan kau juga harus tau, di mana kau berada saat ini! Ini adalah dunia ciptaanku sendiri. Apapun yang kuinginkan dapat dengan mudah kulakukan.” 


 Efek dari suara makhluk mengerikan itu akhirnya dapat Gray minimalisir dengan mengalirkan energi spiritualnya ke telinga. Sekarang jadi semakin jelals, kenapa ia tak bisa berjalan lebih dari dua langkah, entah jiwa atau pun raganya kali ini pasti sudah benar-benar masuk ke dunia ciptaan jin keparat itu.     


     “Sebenarnya, apa yang lo inginkan?  Kenapa lo ngatain bokap gue malaikat keparat, ha? Dasar makhluk gak ada akhlak! Keluar! Hadapi gue kalau lo berani! Sekali pun ini dunia ciptaan lo, gue gak takut!”


 “Sombong! Lihat apa yang akan kulakukan. Apa setelah itu kau masih berani menantangku seperti itu?” 


 Gray semakin meningkatkan kewaspadaannya. Mata pemuda itu menatap awas sisi kiri, kanan dan atasnya. Tak ada tanda-tanda serangan akan menghampirinya. Selang beberapa detik berikutnya, suara jerit kesakitan menggema dari teman-teman sekelas Gray yang ada di dalambus ini. 


 “Sakit, Gray! Panas! Tolongin gue, Gray?!” Itu jeritan Arkan. Tubuh Gray menegang di tempat dengan mata menyorot ke kursi tempat duduk teman sebangkunya itu. 


 Tak hanya Arkan, tapi semuanya menjerit kesakitan. Gray gemetar ketakutan. Aura hitam pekat itu berubah menjadi kobaran api. Jerit kesakitan semakin terdengar menyayat di telinganya. 


 “Cukup! Hentikan! Apa yang lo lakuin ke temen-temen gue, ha?!” 


 Hanya gelak tawa yang menggema sebagai respon dari teriakan pemuda itu. Gray semakin panik dan tak bisa berpikir jernih kala melihat wajah Arkan dan teman-temannya yang lain mulai mengelupas.   


 “Adi, tenang, Nak. Ini ayah. Jangan panik. Apa yang kamu lihat saat ini hanya ilusi yang diciptakan oleh makhluk itu. Semua temanmu baik-baik saja di luar sana.” Suara ayah tiba-tiba terngiang di benaknya. Gray terdiam sembari mencoba mengatur pernapasannya.


 “Ayah?” gumam pemuda itu pelan. 


***


Bersambung


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seventh Sense [EP.01]

SEVENTH SENSE