Seventh Sense [EP.18]

 Chapter Sebelumnya




[EP.18 – To Be With You]


Malam harinya, setelah makan malam bersama kedua orang tua. Gray yang merasa badannya pegal-pegal meminta Vanya untuk menemaninya lari di sekitaran taman tak jauh dari rumahnya. Pemuda itu mengenakan jaket putih bermerek adid*s serta celana training hitam selutut. 


Entah kenapa penampilan Gray yang seperti itu, benar-benar tampak menawan di mata Vanya. Gadis astral itu nyaris tak berkedip melihat Gray yang tengah berlari di sampingnya. 


 “Matanya awas copot, Van!” 


Teguran Gray sontak membuat gadis astral itu salah tingkah. Dengan berat hati Vanya pun akhirnya pura-pura mengalihkan pandangannya dari pemuda itu. 


“Turunan malaikat emang beda, ya! Gantengnya gak ada akhlak!” ujar gadis astral itu, sembari kembali memfokuskan atensi pada Gray yang tampak semakin menawan dengan peluh membanjiri pelipisnya.


“Lo muji atau menghina, sih?” tanya pemuda itu tanpa menolehkan pandangan pada Vanya. 


“Anggap aja dua-duanya,” jawab gadis astral sambil melingkarkan tangannya pada leher Gray. 


“Biarin gue istirahat bentar, ya, Bu. Terbang juga ternyata membutuhkan tenaga,” ujar gadis astral itu ketika sudah menjatuhkan kepalanya di bahu Gray. 


Gray memang tidak merasa berat dengan Vanya yang bergantung di belakangnya. Ia hanya merasa hawa dingin saja yang menyapa kulit punggungnya.  

 

“Lagi-lagi gue ketempelan setan,” gumam Gray sembari memperlambat laju larinya. 

 

“Gue bukan setan, Bu. Gue masih hidup.” Suara gadis astral itu terdengar seperti bisikan di telinganya. 


 Gray menghentikan langkahnya, sembari memegang kaki gadis astral itu layaknya menggendong seseorang di punggung. “Van, lo mau jenguk tubuh lo di rumah sakit nggak? Kalau mau, malam ini gue bisa antar lo ke sana,” tawar pemuda itu. 


 Vanya yang sudah memejamkan kedua matanya, perlahan sadar kembali dan semakin mengeratkan pelukan pada tubuh pemuda itu. 


 “Lo tau di mana gue dirawat?” 


 Pemuda itu berdehem singkat sebagai jawabannya. “Mau ke sana?” 


 “Bukannya lo gak mau ke rumah sakit di waktu malam? Ini aja gue heran lihat lo lari di malam hari.” 


 Gray berdecak singkat kala mendengarnya. Mungkin ini saat yang tepat untuk Gray mengatakan semuanya pada gadis astral ini. “Saat kita saling bersentuhan sembari mengeluarkan energi spiritual. Energi spiritual kita tanpa sadar membentuk kubah gaib di sekitar kita, Van. Dan itu membuat kita tak terlihat di mata makhluk halus lainnya yang memiliki energi jahat.” 


 “Seriusan?” tanya gadis astral itu setengah percaya. 


 “Coba keluarkan energi spiritual lo.” Vanya yang sudah belajar cara mengeluarkan energi spiritual dari ayah Gray, menuruti perkataan pemuda itu. 


 Vanya mulai memfokuskan pikirannya pada telapak tangan. Gray mulai merasakan energi spiritual gadis itu perlahan menguar dari telapak tangannya. Gray pun juga ikut memfokuskan pikirannya pada seluruh bagian tubuh. Saat energi spiritual mereka saling bertemu, Vanya menatap takjub apa yang ia lihat saat ini. Dirinya dan Gray seperti berada di dalam balon udara transparan yang begitu besar dan terang. 


 “Sebenarnya kita nggak perlu mengeluarkan energi sebanyak ini, Van. Kulit kita saling bersentuhan aja sudah menciptkan kubah tak kasat mata yang melindungi kita, tapi, ya, kita masih bisa dilihat sama ‘mereka’,” jelas Gray sembari melanjutkan aktivatasnya. Kali ini pemuda itu hanya berjalan santai saja sembari menikmati udara segar di malam hari. 


 “Boleh, deh! Anterin gue ke rumah sakit, ya,” pinta Vanya yang tentu saja langsung dibalas dengan anggukan setuju oleh pemuda itu. 


 “Kita pulang dulu. Gue mau ganti baju, sekalian pamit sama orang rumah biar gak dicariin.” 


*** 

 

Usai mendapatkan izin dari Ibu dan ayahnya. Gray membawa Vanya ke rumah sakit persada, tempat tubuh gadis astral itu di rawat. Beberapa makhluk astral seperti kuntilanak dan suster ngesot menatap penuh minat ke arah Gray dan Vanya yang berjalan sambil bergandengan tangan. 


 Vanya semakin merapatkan tubuhnya ke Gray ketika makhluk-makhluk mengerikan itu berjalan mendekati mereka. Gray santai, sepanjang perjalanan menuju ruang rawat gadis astral itu ia sama sekali tidak merasakan energi jahat di sekitarnya. 


 “Jadi itu, ya, yang namanya suster ngesot?! Perdana banget gue liat tuh hantu secara nyata kayak gini,” gumam Vanya, sambil sesekali menoleh ke belakang melihat suster ngesot yang terseok-seok merayap di lantai. 


 “Bu, kok, lo diem aja dari tadi? Lo ngerasain hantu jahat lagi, ya?” 


 Gray menggeleng tanpa menoleh pada gadis astral di sampingnya itu. “Gue lagi berusaha fokus menajamkan indra. Gue belajar mendeteksi makhluk astral yang memiliki energi jahat dalam jarak yang cukup jauh. Terkadang makhluk astral yang mempunyai akal akan memanipulasi hawa keberadaannya.” 


 Vanya hanya memutar bola matanya mendengar penuturan pemuda itu. Bahasa Gray terlalu sulit untuk ia pahami. Semenjak bertemu dengan Gray hidupnya benar-benar berasa di dunia fantasi dengan pangeran berkuda putih. 


 Sebelum sampai di ruang rawat Vanya, Gray menghentikan sejenak langkah kakinya. “Apa lo siap lihat tubuh lo yang sekarang, Van?” tanya Gray tiba-tiba.


 Vanya menoleh sembari mengangguk ragu ke arah pemuda di sampingnya itu. “Semenjak kecelakaan gue belum pernah, sih, lihat keadaan tubuh gue. Gue gak peduli separah apa luka yang gue alami, Bu. Asalkan gue masih hidup dan bisa berkumpul lagi sama mama dan kakak gue. Gue bersyukur, Bu.” 


 Gray tersenyum mendengarnya. Gray harap juga seperti, pemuda itu benar-benar berharap Vanya tidak akan merasa sedih dengan keadaannya saat ini. 


 Pemuda itu mengehela napas sejenak sebelum kembali melanjutkan langkahnya. Satu menit kemudian, mereka berdua sampai di ruang rawat Vanya. Sekali lagi Gray melirik ke arah gadis astral di sampingnya. Vanya mengangguk, menandakan dia siap menerima apapun kondisinya saat ini. 


 Gray mengetuk pintu masuk ruang rawat Vanya sebanyak tiga kali. Terdengar langkah mendekat  sebelum pintu dibuka dari dalam. Seorang pemuda seumuran dengannya menatap heran ke arah Gray. 


 “Vano, ya? Kakaknya Vanya?” tanya Gray mencoba untuk akrab sembari mengulurkan tangannya. “Sebelumnya kenalin. Gue Gray Adiaksa, pacarnya Vanya. Gue boleh jenguk pacar gue?” 


 Vanya nyaris memukul kepala Gray karena perkataan pemuda itu. Vanya jadi salah tingkah dibuatnya. Seenaknya saja Gray mengaku pacarnya. Sejak kapan coba? 


 Vano menarik tangannya sembari mengerutkan dahi. “Setahu gue pacar Vanya itu David, bukan Gray. Siapa lo sebenarnya?” 


 Gray berusaha santai dan kembali menampilkan senyum terbaiknya. “Vanya sudah lama putus dari David. Sekarang Vanya pacar gue. Gue minta maaf karena telat jenguk dia. Ada beberapa kejadian yang bikin gue gak bisa jenguk Vanya,” jelas pemuda itu panjang lebar. 


 Vanya ingin menghilang dari peradaban saat ini juga. Ia benar-benar salah tingkah dengan perkataan Gray. Sial, jika jantungnya bisa berdetak dalam wujud astral seperti ini, mungkin ia sudah mengalami serangan jantung sejak Gray mengklaim dirinya sebagai pacar pemuda itu.  


 Vano mengangguk, lalu mulai menatap Gray dari ujung kepala hingga ujung kaki. “Gue belum pernah liat lo. Lo bukan anak Bakti Mulya, kan?” tanya Vano memastikan. 


 “Iya, gue anak Gema Nusa.” 


 “Kenal Vanya di mana?” 


 “Sebelumnya maaf, Van. Cerita pertemuan gue dengan Vanya bisa ditunda 

dulu nggak? Gue pengen lihat keadaan pacar gue sekarang,” kata Gray sembari mengeratkan genggaman pada tangan gadis astral di sampingnya itu. 


 “Oh, iya. Sorry. Setelah lo lihat keadaan Vanya, gue harap lo gak berniat ninggalin adik gue.” 


 Lagi-lagi Gray tersenyum samar sembari mengangguk singkat. Pemuda itu berjalan melewati Vano, sebelum benar-benar masuk ke ruang rawat, Gray menyempatkan diri menepuk pundak Vano sembari berbisik pelan di telinga pemuda itu. “Gue sayang sama Vanya. Apapun keadaannya gak bakal gue tinggalin. Lo tenang aja.”  


 Vanya yang lagi-lagi mendengar perkataan pemuda itu semakin ingin menjedotkan kepalanya ke tembok. Mudah sekali pemuda itu menggelitik hatinya. 


 Gray sempat tertegun di samping brankar Vanya. Gadis itu benar-benar mengalami luka yang sangat parah. Kedua tangan diperban, sebagian wajah juga diperban, mengenakan penyangga leher, masker oksigen dan beberapa alat lainnya menempel pada tubuh gadis itu. Dari sekali lihat saja, Gray sudah dapat menyimpulkan keadaannya seperti apa.   


 Vanya kontan meremas tangan Gray yang berada di dalam genggamannya. Ia benar-benar tak menyangka kecelakaan itu membuatnya mendapatkan luka separah ini. 


Vanya ingin menangis rasanya kala melihat tubuh sendiri terbujur kaku dengan berbagai alat penyokong hidup menempel pada tubuhnya. 


 “Kaki kiri Vanya diamputasi dan kedua tangannya patah. Dia koma setelah menjalani berbagai operasi.”


 Gray menoleh ke arah Vano yang berjalan mendekatinya. Kali ini Gray yang semakin erat menggenggam tangan Vanya, Gray berusaha memberikan ketenangan pada gadis astral itu agar tetap tabah. “Vano ... bisa beri gue waktu sebentar? Gue mau berdua sama Vanya ... gue mau berdoa untuk kesembuhannya.” 


 Vano mengangguk ragu mendengarnya. “Gue bisa percaya sama lo, kan?”


 Gray tersenyum, lalu mengangguk samar. “Gue gak bakal ngapa-ngapain pacar gue sendiri, Van. Tenang aja.” 


 Entah apa yang mendorong Vano untuk mempercayai ucapan Gray, yang jelas Vano tak dapat melihat kebohongan dari sorot mata pemuda itu. “Oke, gue keluar dulu kalau gitu.” 


 Setelah Vano benar-benar meninggalkan ruang rawat Vanya. Gray membawa gadis astral di sampingnya itu ke dalam dekapannya. Gray tahu, Vanya tak baik-baik setelah mendengar fakta menyedihkan dari Vano tadi. 


 “Jangan nangis, okey? Lo baik-baik aja, lo pasti bisa sembuh.” Vanya menangis tanpa suara di dada bidang pemuda itu. Begitu berat baginya untuk menerima keadaannya saat ini.  


 “Gue pikir bakal kuat menerima keadaan ini, Bu ... nyatanya gue gak sanggup. Kalau seperti ini mending gue nggak usah hidup aja, Bu ... gue pasti ngerepotin mama dan Kak Vano. Gue gak mau buat mereka susah ngurusin gue, Bu.” Vanya berujar lirih di sela-sela tangisnya. 


 Gray mengusap pelan punggung gadis astral itu. Jelas berat bagi Vanya untuk menerima kondisi seperti ini. Jika Gray mengalami hal serupa, ia juga akan mengatakan hal yang sama seperti apa yang dikatakan gadis itu. Namun, kali ini Gray tak kan membiarkan Vanya larut dalam pemikirannya itu. 


Sudah dua kali tanpa sadar Vanya menyelamatkan nyawanya. Kali ini Gray akan mengupayakan segala cara agar gadis astral itu bisa kembali membuka mata.

 

“Jangan pernah berpikir untuk mati, Van. Kematian akan membawa duka yang teramat mendalam bagi orang yang ditinggalkan. Lo mau, lihat mama dan kakak lo menderita karena kehilangan?”

 

Vanya menggeleng dalam dekapannya. “Tapi gue gak bakal sanggup hidup dengan satu kaki, Bu ... cita-cita gue pengen jadi penari, kaki adalah segalanya untuk masa depan gue, Bu. Sekarang gue udah gak bisa nari lagi.” Kali ini Vanya terisak pilu sembari memukul-mukul dada pemuda itu. 

 

“Itu egois namanya, Van! Cuma karena itu lo mau menyerah untuk hidup? Lo bener-bener gak mikirin keluarga kalau berpikiran seperti itu, Van,” ujar Gray sembari melemparkan pandang ke luar jendela yang menampkan rintik-rintik air hujan yang mulai turun ke permukaan.   

 


“Gue harus gimana, Bu?! Bangun dari koma pun gue bakal jadi manusia cacat yang merepotkan.”

 

“Dan gue bersedia menjadi manusia yang direpotkan sama lo, Van. Gue bakal jadi kaki kiri buat lo, dan gue bakal jadi masa depan buat lo. Lo gak perlu khawatir mengenai hal itu, karena gue di sini akan selalu ada buat lo, Van.” 

   

Vanya tak dapat berkata lagi. Gadis astral itu mengeratkan pelukan pada tubuh Gray. Hujan di malam itu mengiringi isak tangis Vanya dan menjadi saksi bisu atas perasaan Gray pada gadis astral itu.  


*** 

Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seventh Sense [EP.01]

SEVENTH SENSE