Seventh Sense [EP.17]

 Chapter Sebelumnya




[EP.17 - Tells About The Dark Times]


“Adi, buka matamu, Nak.” Suara parau sang ayah menusuk indra pendengaran Gray. Pemuda itu tersentak dan refleks membuka kedua matanya. 


 Dia kembali pada realita. Ayah yang sudah berumur empat puluh tahunan berada di sampingnya sembari mengulas senyum simpul menatap ke arahnya. “Kamu bertemu ayah di sana, Di?”


 Gray mengangguk kaku sembari menatap heran ke arah ayah. Sang ayah tahu ada berbagai macam pertanyaan yang bersarang di kepala Gray saat ini. “Bagaimana ketika ayah masih muda? Kita mirip, bukan?” tanya ayah diselingi dengan kekehan pelannya. 


 Gray tidak menanggapi ucapan ayahnya. Saat ini ada hal yang lebih penting yang ingin ia bahas dengan ayah. “Ayah ... siapa Ayah sebenarnya? Ayah manusia, ‘kan?” 


 Detik berikutnya Gray menunduk menyesali pertanyaannya. Pertanyaan yang baru saja ia tanyakan terdengar seperti meragukan sang ayah bahwa ayahnya adalah manusia. “Maafin Adi, Yah. Gak seharusnya Adi tanya kayak gitu,” sesal pemuda itu, sembari mengingat kembali pertemuannya dengan sosok ayah di masa lalu. Sosok pria gagah dengan sepasang sayap di punggung itu masih menjadi misteri di benak Gray.  


 Pria paruh baya itu sama sekali tidak tersinggung dengan pertanyaan anaknya. Jelas Gray mempertanyakan kredibilitas kemanusiaannya setelah dia menunjukkan sayap pada anaknya, karena tak mungkin manusia biasa mempunyai sayap di punggung. 


 “Apa yang kamu pikirkan benar, Di.” Ayah tersenyum mengatakan hal itu sembari menepuk pelan pundak anaknya. “Ayah memang pada awalnya bukan manusia, Nak.” 


 Gray kontan mendongakan kepala menatap wajah sang ayah. Kepalanya menggeleng tak percaya atas apa yang baru saja ayah katakan. “Jangan buat Adi bingung, Yah. Adi gak percaya apa yang Ayah katakan.” 


 Sang ayah menghela napas singkat sembari ikut menyandar pada punggung ranjang. “Mau mendengar kisah ayah?” tanya pria paruh baya itu tanpa menoleh ke anaknya. 


 Gray berdehem sembari mengangguk ragu. Sebagian hati kecilnya tidak siap menerima fakta bahwa apa yang ayahnya katakan tadi benar adanya.


 “Kamu mau tau asal usul ayah, atau kenapa ayah bisa ada di dimensi gaib dan ikut berperang melawan jin dan iblis?” tanya ayah sebelum memulai ceritanya. 


 “Asal usul dan alasan kenapa ayah ada di sana,” jawab Gray sembari memusatkan atensinya pada sang ayah. 


 Ayah menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. “Asal usul ayah terlalu rumit, Di. Yang pasti, ayah bukan berasal dari Bumi. Bukan juga manusia. Ayah adalah malaikat pelindung yang mendapatkan hukuman di muka Bumi, karena tidak sengaja mencelakai orang yang seharusnya ayah lindungi. Dan orang yang tidak sengaja ayah lukai adalah Ibumu ketika ia berumur delapan tahun.” 


 Gray menahan napas ketika mendengar cerita ayahnya, pertanyaan demi pertanyaan sudah berada di ujung lidah. Namun, pemuda itu urung untuk menanyakannya. Ia masih berusaha mencerna apa yang baru saja ayah katakan.  


 “Oleh pimpinan tertinggi malaikat pelindung, ayah menerima hukuman-Nya. Jiwa ayah bersemayam di tubuh manusia biasa. Ayah tidak tahu identitas dan jati diri ayah yang sebenarnya. Wanita, narkoba dan judi adalah mainan ayah sewaktu muda. Dalam masa hukuman, ayah benar-benar menjadi manusia yang paling berdosa, Di.” Ada jeda yang tercipta, Gray menatap nanar raut wajah ayah. 


 “Bahkan ayah yang membunuh calon suami ibumu, Di. Bayangkan saja betapa berdosanya ayahmu ini.” Ayah menunduk sembari kembali mengenang masa kelam tersebut. 


 Gray tak tahu harus bereaksi seperti apa. Yang pasti, saat ini batinnya merasa sakit kala mendengar cerita masa lalu ayah. Gray juga tidak menyangka jika ayahnya benar-benar bukan manusia. Semua pertanyaan yang mengendap di otak lenyap begitu saja. Pemuda itu menggenggam erat tangan sang ayah.  Gray dapat merasakan penderitaan ayah selama ini.


 “Setelah mendengar sekilas cerita masa lalu ayah, apa sekarang kamu membenci ayah, Di?” tanya sang ayah sembari menoleh pada anaknya. 


 Gray langsung menggeleng. Sekalipun masa lalu ayah sangat kelam, Gray tak akan pernah berpikir untuk membenci sosok yang selalu mengayomi, menyayangi dan mencintainya dengan tulus sampai detik ini. 


 “Itu masa lalu ayah. Adi nggak berhak menghakimi atas apa yang pernah ayah lakukan di masa lalu. Tak pernah sedikit pun terlintas di pikiran Adi untuk membenci ayah, seburuk dan sekelam apapun masa lalu yang pernah ayah alami.”


 Mendadak pemuda itu tersenyum lebar dengan mata berbinar.  “Pantesan Adi ganteng! Ayahnya aja malaikat! Bangga dong, punya ayah seorang malaikat beneran!” ujar pemuda itu sembari terkekeh pelan. Gray berusaha mencairkan suasana yang tadinya terasa mencekam.


Kekehan Gray menular, ayah pun ikut terkekeh kala mendengar penuturannya. “Mau denger lebih lanjut?” tawar sang ayah. Gray mengangguk penuh semangat. 


“Ayah singkat saja, ya. Ayah gak mau ceritain ke kamu gimana ayah bisa meluluhkan hati ibu, hingga dia mau jadi istri ayah yang notabennya mempunya segudang masa kelam ini.”


“Iya, iya ... singkat aja. Lagian ibu pernah cerita ke Adi, katanya ayah dulu pernah sampe nangis di depan rumah kakek, demi dapetin maaf dari Ibu, kan? Adi tahu itu, Yah.” Ayah lagi-lagi terkekeh dibuatnya. 


“Kalau udah tahu diem aja bisa, kan? Gak usah diumbar lagi. Vanya lagi nguping. Malu ayah jadinya,” ujar pria paruh baya itu. Vanya yang berada di luar pintu kamar Gray menepuk jidat sendiri karena aksinya ketahuan. 


Dengan cengiran khasnya gadis astral itu masuk ke kamar Gray dengan menembus pintu. “Kok, Om bisa tahu, sih, saya lagi nguping?” tanya gadis astral itu sembari mendudukan diri di sisi kanan Gray. 


“Kamu dengar sendiri, kan, apa yang saya ceritakan tadi? Kamu pasti sudah mendengar, bahwa saya bukan manusia. Hal-hal gaib sepertimu dapat dengan mudah saya temukan. Tidak hanya itu, ada sedikit saja kamu mempunyai niat jahat terhadap anak saya, saya dapat merasakan hal itu.” 


Vanya mendadak merinding dibuatnya. Dia harus lebih hati-hati dalam bertingkah di keluarga ini. Misteri yang ingin ia ketahui pun akhirnya perlahan menjadi lebih jelas. Kini Vanya tahu, apa yang membuatnya bisa berpindah ke kamar Gray tadi dengan satu kedipan mata, itu pasti karena kemampuan malaikat yang ayah Gray punya.      


“Awas, ntar telinga lo bisulan karena nguping pembicaraan penting kayak gini, Van!” ledek Gray sembari terkekeh pelan. “Lanjut, Yah. Adi pengen denger  cerita tentang perang di dimensi gaib, Yah. Sebenarnya apa yang melatar belakangi peperangan itu?”  


Pria paruh baya menghela napas sejenak sebelum melanjutkan ceritanya. “Bibit masalahnya berakar dari dosa ayah sewaktu remaja, Di. Waktu itu, salah satu wanita yang pernah ayah pacari ternyata hamil. Ayah gak percaya dia hamil anak ayah. Wanita itu ayah tinggalkan begitu saja. Lambat laun, dia menyimpan dendam yang besar terhadap ayah. Wanita itu akhirnya melakukan perjanjian darah dengan iblis yang pernah ayah segel ribuan tahun yang lalu. Mereka berkerja sama untuk membunuh ayah dengan cara menguasai dunia.” 


Baik Gray mau pun Vanya, menyimak dengan saksama apa yang pria paruh baya itu ceritakan. Banyak hal mengejutkan yang baru Gray ketahui tentang ayah. 


“Dengan kekuatan sihir necromencer yang iblis itu miliki, ia dapat membangkitkan orang sudah meninggal dan menjadikannya jin. Para jin inilah yang dijadikannya sebagai bala tentara. Umat manusia pada waktu itu hampir punah karena tubuh mereka diambil alih oleh bala tentara jin. Terjadi kekacauan di mana-mana. Saat itulah, pimpinan para malaikat pelindung menyadari, bahwa ada ketidak seimbangan antara alam gaib dan alam manusia. Pada saat itu jugalah, semua ingatan ayah tentang jati diri ayah yang sebenarnya kembali.”


“Tapi, Om. Sampai saat ini, saya tidak pernah ketemu referensi sejarah yang mengatakan bahwa umat manusia hampir punah karena bala tentara jin. Itu menurut, Om, gimana? Apa manusia tak ada yang mengingatnya?” Gadis astral itu lagi-lagi bertanya karena rasa penasarannya yang begitu membuncah. 


“Benar. Setelah perang itu usai, adik saya mengorban nyawanya untuk menutup gerbang dimensi gaib dan menghapus semua ingatan manusia tentang peperangan yang tidak lazim itu. Dia menggunakan teknik terlarang dengan menggambar pentagram menggunakan darah. Teknik itu dapat menuntut penggunanya dengan nyawa sebagai imbalan.”


Lagi-lagi kedua remaja itu dibuat tertegun mendengarnya. Otak Vanya yang pada dasarnya dibawah rata-rata benar-benar kesulitan mencerna cerita berat tersebut.  


“Terus, Yah. Hubungan ayah dan kemampuan yang Adi miliki ini apa?” tanya Gray yang tak tahan lagi ingin mendengar alasan tersebut. 


Ayah mengembuskan napas singkat sembari menoleh ke arah jendela. “Keturuan malaikat dengan manusia merupakan suatu hal yang tabu. Baik bagi alam gaib, maupun alam manusia. Karena kemampuan yang dimiliki jauh dari akal sehat manusia. Terlebih kamu lahir pada malam satu suro, malam keramat. Di mana alam gaib dan alam manusia saling bersinggungan. Indra ketujuh keturunan malaikat yang lahir pada saat itu akan semakin berevolusi seiring dengan bertambahnya usia.”


“Jadi ... Adi termasuk salah satu hal yang tabu di muka Bumi ini, Yah?” tanya Gray dengan suara bergetar.  


Ayah menoleh, lalu menggeleng samar dengan senyum menenangkan. “Ayah tidak peduli perihal itu, Di. Kamu tetap anugerah terindah dalam hidup ayah dan ibu. Ayah akan selalu berusaha melindungi dan menjaga kamu apapun yang terjadi. Ayah juga akan berusaha membuat kemampuan itu hilang dari diri kamu, agar kamu bisa menjalani hari seperti manusia biasa pada umumnya.”


*** 


Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seventh Sense [EP.01]

SEVENTH SENSE