Seventh Sense [EP.16]

 Chapter Sebelumnya



[EP.16 - Time Travel]


Di tengah isak tangis Vanya, seorang pria paruh baya muncul entah dari mana. Vanya terkejut melihat kehadiran sosok yang sudah tak asing lagi di matanya itu. Sembari sesenggukkan gadis astral itu mencoba menghapus air mata dari wajahnya. 


 “Om? Kok, Om bisa ada di sini?” tanya Vanya di sela-sela  isak tangisnya. 


Pria paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah ayah Gray itu, tak memperdulikan pertanyaan Vanya. Ia langsung berjongkok di depan tubuh anaknya yang bersimbah darah. Raut khawatir tentu saja kentara, tercetak jelas di wajah pria paruh baya itu. 


“Apa kamu menyentuh Gray, saat dia mengeluarkan energi spritualnya?” tanya pria paruh baya itu, sembari menggendong tubuh Gray. 


“I—iya, Om,” jawab Vanya terbata. Jujur saja, Vanya merasa takut jika keadaan Gray saat ini juga disebabkan juga oleh energi spiritualnya yang berlawanan dengan energi spiritual milik pemuda itu. 


 Helaan napas singkat terdengar dari pria paruh baya itu. Vanya menatap takut ke arahnya. Gadis astral itu takut jika ayah Gray akan marah dan mengusirnya lagi seperti tempo hari yang lalu, pada saat kejadian ia tak sengaja menyebabkan indra ketujuh Gray terbuka. 


“Pegang tangan saya,” perintah pria paruh baya itu tanpa menoleh ke arah Vanya. Vanya pun dengan ragu memegang lengannya. 


“Tutup mata dan jangan bersuara.” Vanya menurut. Gadis astral itu menutup mata dan menutup rapat mulutnya. 


Detik berikutnya baik Vanya maupun pria paruh baya yang tengah menggendong Gray, hilang begitu saja di ruang kelas tak terpakai itu. Menyisakan kepulan asap putih di tempat mereka berpijak terkahir kali. 


 “Buka mata dan jangan berteriak.” Suara ayah Gray kembali menusuk indra pendengaran Vanya. 


Perlahan gadis astral itu pun membuka matanya dan mengedarkan pandang ke sekitar. Jelas, ini bukan ruang kelas yang tak terpakai, tempatnya beberapa saat yang lalu. Vanya tahu betul di mana ia berada saat ini. Gadis astral itu nyaris berteriak kaget ketika menyadari keberadaannya saat ini.


Untung, dengan cepat Vanya membungkam mulutnya sendiri, sembari menatap heran ke arah ayah Gray yang tengah membaringkan tubuh pemuda itu ke kasur. Ya, saat ini Vanya berada di kamar pemuda yang kini tak sadarkan diri itu. Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa dirinya bisa sampai di sini dengan sekali kedipan mata? Vanya semakin bingung dengan misteri keluarga ini. Tampaknya ia benar-benar sudah masuk ke dalam keluarga yang mempunyai kemampuan di luar akal sehat manusia biasa. 


  “Om, sebenarnya apa yang, Om, lakuin tadi, sih? Kenapa kita mendadak ada di kamarnya Gray, Om?” Vanya tak dapat menyembunyikan rasa penasarannya, terhadap apa yang baru saja ia alami. 


Tentu saja ucapan gadis astral itu diabaikan oleh ayah Gray. Vanya mendumel di dalam hati karena lagi-lagi diabaikan. Sementara ayah Gray, pria paruh baya itu dengan telaten membersihkan darah di sekitar hidung, mulut hingga telinga anaknya. 


“Vanya, bisa saya minta kamu menutup mata lagi, sampai saya bilang buka?” tanya pria paruh baya itu, sembari menoleh ke arah Vanya yang berada di belakangnya.  


Vanya mengangguk kaku atas permintaan ayah Gray. Lagi-lagi Vanya menutup matanya rapat, sembari mendudukan diri di meja belajar Gray. Setalah memastikan gadis astral itu benar-benar menutup matanya, pria paruh baya itu kembali fokus pada kondisi anaknya. 


Tangan kanannya perlahan menyentuh dahi Gray. Pria paruh baya itu lagi-lagi menghela napas lelah. Tak ada cara lain, selain mentransfer setengah energi kehidupannya kepada Gray agar anaknya bisa kembali membuka mata. 


“Adi, maafkan ayah, ya, Nak. Karena masa lalu ayah, kamu jadi menderita seperti ini,” gumam pria paruh baya itu pelan sembari mengusap peluh di dahi anaknya.


Vanya dapat dengan jelas mendengar apa yang ayah Gray katakan, tetapi gadis astral itu tetap memejamkan matanya. Gadis astral itu lagi-lagi mengurungkan niatnya untuk bertanya. 


Pria paruh baya itu menggenggam erat tangan anaknya. Mulutnya mulai melafalkan mantra terlarang yang selama ini tak pernah ia gunakan. Setelah itu, sinar biru mulai terpancar dari genggamannya. Sinar biru yang memancar tersebut, merupakan energi kehidupan yang disalurkan pria paruh baya itu ke anaknya.

 

Gray lebih berharga dari pada nyawanya. Pria paruh baya itu akan selalu melakukan apa saja demi menyelamatkan sang buah hati. “Suatu saat, jika terjadi sesuatu pada ayah, tetap berada di samping ibumu, ya, Nak. Jangan biarkan Ibu menangis. Maafkan ayah, Di. Semua karena masa lalu ayah, Nak.” Pria paruh baya itu menitikan air mata sembari berbisik di telinga anaknya.

 

Energi kehidupan sang ayah semakin mengalir deras ke nadi Gray. Luka bakar di lengan dan wajah pemuda itu perlahan menghilang tanpa meninggalkan jejak. Tekanan udara di dalam kamar Gray mendadak terasa sejuk, sampai Vanya pun ikut merasakannya. 


Karena rasa penasaran yang semakin membuncah pada diri gadis astral itu, Vanya pun memberanikan diri membuka kecil matanya. Sinar biru dari tautan tangan ayah dan anak itu jelas tertangkap oleh netra Vanya. Gadis astral itu mengerutkan dahi. Apa lagi yang dilakukan pria paruh baya itu, pikirnya. 


“Om, suhu ruangannya, kok, mendadak dingin gini, ya?” Dan tentu saja, lagi-lagi gadis astral itu diabaikan oleh ayah Gray. 


Proses pentransferan setengah energi kehidupan berjalan lancar. Pria paruh baya itu kini mengganti baju seragam Gray dengan baju sehari-hari, lalu menyilimuti tubuh anaknya hingga dada. 


Tubuhnya sendiri terasa kehilangan tenaga usai melakukan teknik terlarang tersebut, tapi pria paruh baya itu tidak menyesali keputusannya. Jantung Gray kembali berdetak dengan normal, dan hal itu sudah cukup membuatnya merasa lega walau berimbas besar bagi tubuhnya.


“Ayah ... Kenapa makhluk seperti itu masih ada? Bukannya ayah pernah bilang, pelahap jiwa sudah musnah?” tanya Gray dengan suara seraknya. Pemuda itu berusaha menyesuaikan cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah jendela kamarnya. 


Sang ayah yang baru saja meletakan seragam Gray ke ranjang baju kotor, langsung menoleh menatap Gray yang berusaha mendudukkan dirinya. Sementara Vanya yang mendengar suara pemuda itu kontan membuka kedua mata dan melayang mendekati pemuda itu. 


“Bu, lo gak papa, kan?!” tanya Vanya cemas sambil menempelkan punggung tangannya ke dahi pemuda itu. 


Gray menatap gadis astral itu sembari tersenyum samar. “Lo kenapa nekat nyamperin gue tadi, hem? Lo mau mati beneran, Van?” 


Vanya menggeleng dengan bibir manyun. “Lo yang mau bunuh diri, Bu! Gue tadi bilang jangan nekat, tapi masih aja lo nekat nyamperin jin keparat itu! Liat, kan? Lo yang nyaris mati, Bu!” ujar gadis astral itu setengah berteriak. 


Sang ayah yang melihat Vanya mampu membuat anaknya tersenyum, ikut mengulas senyum simpul dengan tingkah laku gadis astral itu. Vanya mengingatkannya akan seseorang di masa lalu. 


“Benar kata Vanya, Di. Kamu kenapa nekat seperti itu? Kamu mau buat ayah dan ibu jantungan, karena kamu lagi-lagi nyaris tewas?!” Gray mendunduk, menyadari kesalahannya. Pemuda itu paham betul jika ayahnya sedang marah. 


Vanya mendadak bungkam. Matanya perlahan menatap ragu ke arah pria paruh baya di seberangnya. “Sa—saya permisi dulu, Om,” pamit Vanya sembari melayang menembus pintu keluar. 


“Lihat mata ayah, Di!” 


Perlahan Gray mendongakan kepala menatap tepat ke arah mata ayahnya. “Adi minta maaf, Yah,” ucap pemuda itu pelan. 


   Sang ayah menggeleng samar mendengarnya. “Gak ada yang perlu kamu sesali, Di. Hanya saja, kali ini ayah benar-benar kecewa sama kamu, Nak. Kamu sama sekali tidak mendengarkan apa yang pernah ayah pesankan sama kamu. Berkali-kali ayah bilang untuk tidak terlibat dengan makhluk sebangsa jin, tetapi kamu malah ngeyel! Masih aja berusaha menyelamatkan orang dengan taruhan nyawa sendiri!”


“Tapi Adi nggak merasa menyesal telah melakukan hal itu, Yah! Adi justru bersyukur bisa menyelamat nyawa seseorang.” 


“Dan kamu sama sekali nggak mikirin perasaan ayah dan ibu, kalau kamu kenapa-napa?”


Sontak Gray terdiam mendengar pertanyaan ayahnya. “Setidaknya Adi bisa menggunakan kemampuan ini untuk menolong, Yah. Adi mohon maaf kalau sudah buat ayah khawatir.” Lagi-lagi pemuda itu menunduk menyesali perbuatannya. 


Ayah mengusap kepalanya penuh kasih sayang. “Adi, cuma kamu satu-satunya harta berharga dalam hidup ayah dan ibu, Nak. Ayah minta maaf, karena ayah kamu harus menjalani kehidupan dengan kemampuan itu.”


“Maksud ayah apa? Kenapa Ayah yang meminta maaf? Bukannya kemampuan ini sudah ada sejak Adi lahir, Yah?”


Pria paruh baya itu menggeleng singkat. “Memang sejak lahir, tetapi ada faktor lain yang menyebabkan kamu mempunyai kemampuan itu, Nak. Faktor utamanya adalah ayah, Di. Andai saja pada awalnya ayah benar-benar manusia biasa, mungkin kamu akan terlahir dengan normal dan bisa menjalani hidup yang damai.”

 

“Ayah ngomong apa, sih? Adi nggak pernah menyalahkan ayah atas kemampuan ini, Yah!”  

 

Sang ayah mengulas senyum sebelum kembali berujar, “Sudah saatnya kamu tau, Nak. Siapa ayah ini sebenarnya.”

 

Gray tertegun mendengar nada serius dari sang ayah. Perlahan ayah menempelkan telapak tangannya pada mata kanan Gray. “Tutup matamu, Di. Ayah akan membawamu pada masa itu.” Gray tak mengerti apa yang ayahnya katakan. Namun, pemuda itu menurutinya, Gray pun perlahan menutup mata kirinya. 

 

“Fokuskan energi spiritualmu ke otak, telinga, dan mata. Jangan buka mata sebelum ayah memerintahkannya.” Gray mengangguk samar mendengar perintah ayahnya. 

 

Sang ayah menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Matanya pun mulai terpejam sembari memusatkan energi spiritual ke telapak tangan yang menyentuh mata kanan Gray. Lima detik berikutnya, telinga Gray di penuhi oleh suara memilukan, seperti jerit kesakitan, jerit meminta pertolongan sampai suara benda tajam saling berbenturan. 

 


Tubuh pemuda itu mendadak gemetar karena merasakan tekanan energi jahat yang begitu kuat dan begitu banyak. Energi jahat ini tekanannya sama seperti energi hitam yang ia rasakan pada jin yang berhasil ia kalahkan hari ini.  

 

“Suara apa itu, Yah? Kita di mana?” tanya Gray tanpa membuka kedua matanya. Suara benda tajam saling benturan semakin kentara terdengar.  

 

“Perang di dimensi gaib. Di mana ketiga ras makhluk saling membunuh satu sama lain.” Suara ayah terdengar berbeda, kontan Gray membuka kedua mata dan melihat siapa yang tengah menggenggam tangannya saat ini.

 

Gray membelalak tak percaya. Sosok pria gagah kisaran dua puluh lima tahunan berada di sampingnya. Gray mengenali wajah itu, itu ayah ketika masih muda. Gray pernah melihat fotonya di album pernikahan kedua orang tuanya. 

 

“A—ayah?” tanya Gray memastikan. 

 

Pria gagah itu tersenyum sembari mengangguk samar. Fokus Gray mendadak teralihkan oleh suara jeritan yang sudah tak asing lagi di telinganya. Pemuda itu mengedarkan pandangan ke sekitar. Makhluk-makhluk mengerikan saling membunuh satu sama lain. 


Gray saat ini benar-benar berada di tengah medan perang. Matanya menangkap sosok jin keparat yang telah ia kalahkan hari ini. Jin bertubuh besar dan berbulu itu begitu banyak jumlahnya. Mereka tengah memperebutkan tubuh manusia yang sudah tak  berdaya. 


Gray merinding melihat di sekitarnya. Begitu banyak darah dan aura hitam berterbangan. Beberapa orang memakai zirah perang berwarna perak, tampak tengah melawan para makhluk-makhluk astral mengerikan.

 

  “Soul Eater atau pelahap jiwa, mereka adalah peliharaan sekaligus bala tentara Sang Penguasa Kegelapan. Salah satu di antara mereka yang berhasil kamu kalahkan hari ini, Di.” 

 

Gray menoleh pada pria muda di sampingnya. Gray memicingkan kedua mata ketika melihat sesuatu muncul dari balik punggung pria itu. Sepasang sayap putih bersinar terang membentang begitu elok dari balik punggungnya. 

 

“Yah ... siapa ayah sebanarnya? Kenapa ayah mempunyai sepasang sayap?”    


*** 


Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seventh Sense [EP.01]

SEVENTH SENSE