Seventh Sense [EP.15]

 

Chapter Sebelumnya

[EP.15 - Gray vs Soul Eater]


“Abu! Lo mau ngapain kalau itu emang beneran jin kelas atas?!” Vanya setengah berteriak, sembari berusaha mengejar pemuda itu. 


 Gray tak mengindahkan teriakan Vanya. Firastnya semakin buruk karena energi jahat dengan tekanan tinggi begitu kentara ia rasakan. Gray menghela napas sejenak di anak tangga menuju lantai lima. 


Tak membuang kesempatan, Vanya yang melihat pemuda itu berhenti langsung mencegatnya dengan cara merentangkan tangan. 


“Lo mau bunuh diri, Bu?! Lo ngotak gak, sih?! Lari tanpa persiapan! Kalau itu beneran jin kelas atas, lo juga bakal dalam bahaya, Bu!” 


“Persetan, Van! Kak Adnan dalam bahaya sekarang. Gue harus nyelamatin Kak Adnan sebelum jiwanya dilahap habis sama jin keparat itu!” seru Gray sembari mengatur pernapasannya. 


Pemuda itu kembali berlari dengan cara melewati area samping kiri Vanya. Gadis astral itu berdecak kesal melihat kelakuan Gray yang gegabah. 


“Gegabah banget, tuh, anak! Mikir dulu, kek, sebelum bertindak!” Vanya kembali mengikuti  Gray dengan menambah kecepatan melayangnya. 


Gray sampai di koridor lantai lima. Pemuda itu terengah-engah karena nyaris kehabisan napas. Tak jauh dari kakinya berpijak, Adnan masih di sana dengan merentangkan kedua tangan dan mata menatap kosong lurus ke depan. Gray tak menyangka, pemuda yang rajin ibadah seperti Adnan bisa sampai terpengaruh oleh hal-hal gaib seperti ini.  


Teriakan panik dari lapangan upacara masih menggema. Sekilas Gray melongokan kepala ke bawah. Malika, Rin, dan Zera ikut membantu beberapa siswa lain memasang matras di bawah sana. 


Gray menarik napas sejenak sembari memfokuskan energi spiritual ke telapak tangannya. Ayat kursi tak lupa ia lafalkan di dalam hatinya. Baru saja ia hendak melangkahkan kaki mendekati Adnan, Vanya dengan sigap menarik lengan pemuda itu. 


“Gue ikut! Gue gak bakal biarin lo dalam bahaya! Gue sudah janji sama nyokap dan bokap lo untuk selalu ada di sisi lo, Bu!”


Gray menggeleng dan melepaskan tangan Vanya dari lengannya. “Nggak! Lo harus jauh dari sini, Van!” Gray berucap datar sembari mencoba mengontrol detak jantungnya yang mulai menggila. 


“Sial! Dia hampir berhasil!” Gray mengumpat, ketika matanya menangkap sosok Adnan perlahan mulai berubah menjadi makhluk mengerikan. Tentu saja hal itu hanya dia seorang yang bisa melihatnya.


Gray lagi-lagi mempercepat langkah mendekati Adnan. Teriakan Vanya tak lagi ia hiraukan. Setelah sampai di belakang Adnan, Gray kembali memfokuskan energi spiritual ke telapak tangan. 


Setelah merasa energi spritualnya sudah berkumpul di telapak tangan, Gray langsung mencengkeram erat kedua pundak Adnan. Kerumunan siswa di lapangan semakin berteriak panik atas apa yang baru saja Gray lakukan. 


Gray tak peduli dengan teriakan orang di bawah sana. Tangannya semakin kencang mencengkram kedua pundak Adnan sembari melantunkan ayat kursi. Tangan Gray terasa terbakar seiring dengan menguarnya aura hitam pekat dari tubuh Adnan. 


“Keluar!!” teriak Gray melengking dengan tangan gemetar dan peluh membasahi dahi.


“Akkkhhhh!” Adnan berteriak kesakitan sembari menjambak rambutnya sendiri. Mata pemuda itu memerah dengan mulut mengeluar liur menjijikan. 


Kepulan aura hitam itu semakin banyak menguar dari tubuh Adnan. Gray tak kuat menahannya, terpaksa tangan kiri ia lepas dari pundak Adnan, sebab tangannya seperti memegang panggangan dengan bara api di bawahnya.  


“Allahu akbar!”


 Gray menarik tangan kanannya dari pundak Adnan. Aura hitam itu dapat ia cengkram dengan tangan gemetar. Tubuh Adnan kehilangan kesadaran, pemuda itu akhirnya jatuh ke bawah. Gray lega karena tubuh Adnan setidaknya jatuh ke matras yang sudah disediakan. 


Sementara Gray, pemuda itu terdorong ke belakang dan membentur tembok sembari terbatu-batuk. Vanya menjerit histeris melihat Gray yang bersusah payah mencengkram aura hitam itu dengan mulut mengeluarkan banyak darah.


Gray bersusah payah berdiri di tengah menahan rasa sakit yang mulai mendera seluruh raganya. Setalah berhasil berdiri, ia pun berlari memasuki salah satu kelas yang tak terpakai lagi.


Tangan kanan Gray mengacung ke depan, mencengkram erat kepulan aura hitam yang berhasil ia tarik keluar dari tubuh Adnan. 


Jeritan demi jeritan kesakitan perlahan terdengar dari aura hitam yang Gray cengkram. Pemuda itu terus memfokuskan energi spiritualnya ke telapak tangan sembari membaca ayat kursi dengan lantang. 


“Kurang ajar kau manusia rendahan! Berani-beraninya kau menganggu santapan makan siangku!”


 Suara parau itu terdengar seperti bisikan yang menusuk indra pendengaran. 


Gray abai dengan suara bisikan itu. Energi spiritualnya kini benar-benar dijadikan Gray sebagai pelindung diri dari energi jahat yang mencoba merasuki dirinya. Pemuda itu tak peduli lagi dengan tangannya yang sudah mulai memerah karena kepanasan.


“Cih, dengan energi selemah itu kau mau melawanku? Bersiaplah menjadi santapanku yang berikutnya, wahai anak Adam!”


 Suara bisikan itu kembali menusuk indra pendengaran Gray. Pemuda itu refleks memegang telinganya dengan tangan kiri. 


Sesuatu dapat Gray rasakan ketika menyentuh telinganya. Ada yang keluar dari sana. Setelah Gray lihat, ternyata itu adalah darah. Pantas saja setiap kali suara bisikan itu terdengar gendang telinganya berdenging begitu nyaring.


“Allahhu akbar!” 


Setelah Gray berteriak, jeritan dari aura hitam yang ia cengkram semakin membuat gendang telinganya terasa sakit. 


Darah mulai mengalir dari telinga dan hidung pemuda itu. Napas Gray tak beraturan. Pemuda itu berusaha sekuat tenaga menahan rasa sakit sembari masih  mencengkram aura hitam itu. Beberapa detik kemudian, aura hitam yang Gray cengkram pun mulai menunjukkan wujud aslinya. 


Ternyata tangan Gray tepat mencengkram lehar makhluk mengerikan itu. Sosoknya benar-benar menjijikan dan mengerikan. Seluruh bagian tubuh besar makhluk itu ditutupi oleh bulu berwarna merah semerah darah. Pupil matanya merah,  dua taring runcing keluar dari mulut serta dua tanduk seperti tanduk banteng di atas kepala dan tak lupa, dari mulutnya mengeluarkan air liur yang begitu busuk. 


“Kenapa makhluk menjijikan seperti kalian, masih menganggu umat manusia?” tanya Gray di sela-sela usahanya menstabilkan pernapasan. 


 “Justru kalian, para manusialah yang sudah mengusik keseimbangan alam gaib! Kau tau? Perbuatanmu kali ini akan dilaknat oleh Sang Penguasa Nereka! Bersiaplah wahai kau anak Adam! Hahahahaha!” 


Gray tak mengerti apa yang makhluk menjijikan itu katakan. Yang pasti, saat ini tangannya terasa semakin panas seiring dengan menggemanya suara tawa makhluk itu. 


“Abuuu!” Vanya berteriak histeris di ambang pintu. Refleks, pemuda itu mengalihkan pandangnya ke sumber suara. 


“Ngapain lo ke sini?! Pergi dari sini, Van!” balas Gray setengah berteriak. 


Gray mengerang kesakitan kala tubuhnya terasa terbakar di seluruh bagian. Tangan kanannya menimbulkan garis-garis abstrak sebesar urat. Garis abstrak sebesar urat di kulit luar tangan pemuda itu, mengalirkan lahar panas yang kian menjalar ke wajahnya. 


Vanya tentu panik melihat pemuda itu. Eksistensi makhluk mengerikan yang masih dalam cengkraman Gray tak lagi ia hiraukan. Gadis astral itu melayang dan memeluk erat tubuh Gray dari belakang. 


“Lepaskan, Bu! Lo bisa mati kalau kayak gini!” teriak Vanya sembari terisak. Gadis astral itu tanpa sadar menangis ketakutan melihat kondisi Gray saat ini. 


Gray semakin mengerang kesakitan, sedangkan makhluk menjijikan itu, semakin menggemakan tawa kemenangannya. Benar-benar tawa yang mengerikan. 


“Serahkan saja jiwa tak berharga yang kau miliki saat ini, wahai anak Adam! Tak ada gunanya kau menahan energi sebesar itu. Kau hanya akan mati sia-sia di tanganku!” Lagi-lagi suara makhluk mengerikan itu menggema di telinga Gray. Darah semakin deras mengalir dari telinganya. 


“Abuuuu!” Vanya semakin khawatir dibuatnya. Vanya bahkan merasakan getaran hebat dari tubuh pemuda yang kini ia peluk itu. 


 Hawa dingin dari energi spiritual yang Vanya miliki pun, tak dapat mendinginkan suhu tubuh Gray saat ini. Ini terlalu panas, Vanya nyaris tak sanggup memeluk pemuda itu terlalu lama. 


Gray tak mau kalah dan dia tak mau mati sia-sia hanya karena melawan makhluk menjijikan ini. Pemuda itu berusaha mengontrol energi spiritualnya yang mendadak membuncah ketika Vanya memeluknya. 


Pemuda itu tak membuang kesempatan. Ketika ada celah, tangan kirinya menepuk keras ke arah perut makhluk mengerikan itu dengan energi spiritual terpusat di telapak tangannya.


Makhluk mengerikan itu terlepas dari cengkraman Gray dan ambruk ke lantai. Tubuhnya kejang-kejang sembari mengeluarkan asap hitam dan akhirnya melebur bagaikan butiran debu yang berterbangan. 


Gray ambruk dengan kondisi mengenaskan. Garis-garis abstrak sebesar urat di lengan kanannya pun perlahan menghilang. Lagi-lagi energi spirtual yang ia keluarkan terlalu berlebihan. Gray nyaris tewas jika Vanya tidak memeluknya tepat waktu. 


Vanya sudah menangis ketakutkan sedari tadi. Tubuh gadis astral itu gemetar sembari menyentuh Gray yang sudah terpejam. Wajah Gray pucat pasih, darah segar masih setia mengalir dari hidung dan telinga pemuda itu. Vanya menejerit meminta pertolongan, tetapi tentu saja tidak ada yang dapat mendengar suaranya. 


“Buuu! Bangun, Bu!”


***

Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seventh Sense [EP.01]

SEVENTH SENSE