Seventh Sense [EP.07]
[EP.07 - The Seventh Sense]
“Jauhkan tangan kamu dari anak saya!” Suara berat seseorang menghentikan gerak tangan Vanya yang ingin menyentuh tubuh pemuda di depannya itu.
Kontan Vanya menoleh ke arah sumber suara. Seorang pria kisaran empat puluh tahunan tanpa alas kaki, setengah berlari menghampirinya. Vanya refleks menjauh dari tubuh Gray. Gadis astral itu memperhatikan gerak-gerik pria paruh baya tersebut.
“Pergi kamu dari sini! Jangan pernah temui anak saya lagi,” ucap pria paruh baya itu tajam, sembari mengangkat tubuh Gray dari atas tanah.
Vanya gelapan dibuatnya. Entah apa sebabnya gadis astral tersebut merasa takut mendengar suara pria paruh baya itu. “O—om, sa—saya bukan hantu jahat, Om,” kata Vanya terbata.
Pria paruh baya itu menghentikan langkahnya sejenak, lalu berbalik menatap Vanya dengan tatapan tajamnya. “Saya tau kamu bukan hantu. Saya hanya tidak ingin anak saya terlibat dengan roh yang berkeliaran seperti kamu.”
Setelah mengucapkan hal tersebut pria paruh baya itu membawa Gray masuk ke dalam rumah.
“Om! Saya masih hidup, Om! Cuma Gray yang bisa bantu saya kembali ke raga saya, Om! Tolong, Om!”
Teriakan Vanya tentu saja diabaikan. Vanya yang pada dasarnya sosok gadis yang tidak bisa tinggal diam jika kesempatannya terhalang, membuatnya nekat menembus pintu kediaman Gray tanpa mengucap salam.
Gadis astral itu celingak-celinguk ke seluruh penjuru rumah dan netranya pun menangkap pria paruh baya tadi berjalan di tangga menuju lantai dua. Tak membuang banyak waktu, Vanya terbang ke atas mengikutinya.
“Om, dengerin saya dulu, bisa, Om? Bentar aja,” pinta Vanya sembari melayang mendekati pria paruh baya yang tengah membaringkan tubuh Gray ke kasur.
Sontak, pria paruh baya itu menoleh ke arah sumber suara. “Mau apa lagi kamu ke sini?! Pergi! Jauhi anak saya!” teriak pria paruh baya itu murka.
“Saya pacarnya Gray, Om! Dan saya mengandung cucunya, Om! Gray nggak mau tanggung jawab dan mutusin saya pas saya bilang tengah mengandung anak dia!” Tak ada pilihan lain selain berdusta. Vanya melakukan hal ini untuk bisa kembali ke raganya. Vanya akan berusaha membuat Gray jatuh cinta dan dia pun akan berusaha jatuh cinta pada pemuda itu.
Ayah Gray yang mendengar pengakuan dusta dari gadis astral tersebut, terperangah dibuatnya. “Kamu jangan ngomong sembarangan, ya! Anak saya tidak sebejat seperti apa yang kamu katakan!” Pria paruh baya itu naik pitam dibuatnya.
“Serius, Om! Saya kecelakaan sewaktu Gray meninggalkan saya, Om!” Vanya semakin memaki dirinya di dalam hati. Gadis astral itu sudah berlebihan dalam sandiwaranya.
“Pembohong! Dalam wujud sepereti ini kamu masih mau menambah dosa? Pintu neraka menunggumu, Nak!” ucap pria paruh baya itu sarkastik.
Lagi, Vanya dibuat mati kutu mendengar kata-kata dari pria paruh baya di depannya itu. “Bu—bukan gitu, Om, sa—saya gak bohong, kok,” lirih Vanya sembari mundur perlahan.
“Satu yang harus kamu tau, sampai saat ini anak saya tidak pernah berpacaran!”
Sandiwara Vanya terpatahkan mendengar fakta tersebut. Jelas saja ayah pemuda yang saat ini tengah berbaring di atas kasur itu tidak mempercayai ucapannya.
“Ikut saya keluar!” Vanya medongak ketika pria paruh baya itu meminta untuk mengikutinya.
Tanpa pikir panjang, Vanya pun menurut dan mengikuti ayah Gray yang melangkah menuruni tangga ke lantai dasar.
“Duduk di sana.”
Tanpa menjawab, gadis astral itu langsung mengambil posisi duduk di sofa seberang pria paruh baya itu.
“Katakan yang sebenarnya, kenapa kamu bisa keluar dari ragamu? Dan apa tujuanmu mendakti anak saya?”
Mendangar pertanyaan tersebut, kontan saja otak lamban gadis astral itu berusaha menyusun kata-kata yang pas untuk ia utarakan sebagai jawaban.
Vanya menghela napas sejenak sebelum menjawabnya, “Sebelumnya maaf, ya, Om, apa yang saya katakan tadi semua emang bohong. Maaf juga sudah fitnah Gray yang nggak-nggak,” sesal gadis astral sembari menuduk dalam.
“Lupakan, saya tidak ambil pusing perihal tersebut. Saya percaya sama anak saya, dia tidak akan berbuat sampai sejauh itu.”
Vanya mengangguk samar mendengar respon dari pria paruh baya yang merupakan ayah Gray ini.
“Begini, Om. Sewaktu saya kecelakaan, malaikat pencabut nyawa terpaksa menarik roh saya keluar dari raga, katanya roh saya hampir dimakan oleh jin kelas atas kalau gak cepat ditarik keluar dari raga waktu itu.”
“Terus, kenapa kamu tidak bisa kembali lagi ke raga?” tanya pria paruh baya itu sembari bersedekap dada, dan memfokuskan atensi pada gadis astral di depannya.
“Saya juga gak tau, Om! Kata si malaikat pencabut nyawa dia gak bisa kasih tau apa alasannya. Yang jelas, dia ada bilang kalau roh saya ini mengandung energi spiritual yang sangat kuat,” jawab Vanya sembari mengingat-ingat kembali pembicaraannya dengan sang malaikat pencabut nyawa waktu itu.
“Benar, energi spritual kamu dan anak saya resonansinya hampir seimbang, hal tersebut yang menyebabkan para makhluk astral berdatangan. Dua makhluk beda dimensi apabila mempunyai energi spritual yang sangat kuat. Itu ibarat dua medan magnet yang saling bertemu, tarik-menarik sehingga menimbulkan nafsu bagi makhluk astral untuk menyantap roh kalian, agar mereka dapat memiliki tubuh yang utuh.”
Vanya menyimak dengan saksama apa yang dikatakan pria paruh baya di depannya itu. Sesekali dahinya berkerut samar, otaknya yang lamban sangat sulit mencerna makna dari perkataan ayah Gray.
“Jadi, hantu-hantu tadi datang karena energi spritual saya dan Gray saling tarik-menarik, Om?” tanya Vanya memastikan lagi.
Pria paruh baya itu berdehem singkat membenarkan pertanyaan Vanya. “Energi spritual Gray semakin meningkat ketika berdekatan dengan kamu. Hal itu juga yang memicu Gray bisa mengeluarkan energi spiritual begitu banyak saat membuat kubah gaib. Kamu lihat sendiri risiko yang dia terima? Anak saya hampir mati karena energi spiritual kalian saling berbenturan.”
Vanya tertegun mendengar fakta tersebut. Berarti tadi Gray nyaris mati ketika dia berada di dekat pemuda itu, Vanya tak menyangka apa yang dilakukan Gray tadi sangat berisiko.
“Satu hal yang perlu kamu ingat, semakin dekat hubunganmu dengan sosok itu, semakin berisiko pula kelangsungan hidupnya dan yang paling penting, berhati-hatilah terhadap makhluk astral lainnya.”
Pesan terakhir dari malaikat pencabut nyawa kembali terngiang di ingatan Vanya. Gadis astral itu mulai menyadari apa yang malaikat pencabut nyawa itu maksud. Vanya sadar, ini hanyalah awal dari resiko yang harus Gray terima jika ia memaksakan dirinya untuk mengikuti syarat dari malaikat pencabut nyawa.
“Jadi ... apa keberadaan saya membahayakan nyawa, Gray, Om? Saya tidak tahu, Om, kalau dua makhluk berbeda dimensi memiliki energi spiritual yang tinggi berdekatan akan merugikan salah satunya.” Gadis astral itu berkata lirih sembari menduduk dalam.
Vanya mendadak ragu untuk meminta pertolongan Gray. Gadis astral itu tidak ingin membuat Gray dalam bahaya, tetapi satu sisi Vanya juga memikirkan untuk bersikap egois, Vanya ingin kembali ke raga dan membahagiakan kedua orang tuanya, meskipun itu akan membuat Gray menderita karena keberadaanya.
“Itu alasan saya meminta kamu pergi dan jauhi anak saya. Jangan sesekali kamu melibatkan anak saya dalam usahamu untuk kembali ke raga.”
Vanya ingin menangis rasanya. Namun, air mata tak kunjung keluar meskipun ia berkali-kali mencoba untuk menangis. Gadis astral itu rasanya ingin mengutuk semesta yang telah membuatnya dalam situasi seperti ini.
“Om ... tolong saya, Om. Saya ingin kembali raga saya. Saya gak tau lagi di mana saya bisa menemukan seseorang yang bisa melihat saya selain Om dan Gray. Izinkan saya berada di dekat Gray selama 27 hari, Om, jika berhasil energi spiritual saya tidak akan bisa berkembang lagi, dan saya pun bisa kembali ke raga, Om.”
“Dan selama 27 hari itu kamu mau terus-terusan membuat anak saya berada dalam bahaya?! Pertemuan kamu dan Gray hari ini saja sudah mengacaukan hidup anak saya untuk selamanya!”
Vanya semakin tercengang mendengar penuturan ayah Gray barusan. “Mak—maksudnya, Om?”
“Karena energi spiritual kalian saling berbenturan, indra ketujuh Gray yang saya segel terbuka. Sekarang, Gray tidak hanya bisa melihat makhluk tak kasat mata, dia juga bisa melihat tanda kematian seseorang.”
***
Bersambung

Komentar
Posting Komentar