Seventh Sense [EP.06]
[EP.06 - Spiritual Protection]
Gray menghentikan laju ninja biru tepat di gerbang depan rumahnya. Pemuda itu memasang standar, sebelum beralih fokus pada gadis astral yang masih menempel di belakangnya.
“Mbak, kalau nggak mau mati dua kali, mending turun, deh! Gue mau masuk ke rumah, nih!”
Vanya melempar pandang ke arah rumah yang menarik atensinya. Pasalnya sekeliling rumah tersebut seperti ada kubah tembus pandang yang bersinar terang menyelimuti sekelilingnya.
“Woaah! Keren! Mirip kaca bening, tapi ini jauh lebih bagus!” Vanya berdecak kagum melihat rumah tersebut, tanpa melepas pelukannya dari sang pengendara ninja biru.
Gray memutar bola matanya mendengar hal tersebut. “Ini rumah gue, Mbak! Makhluk astral kayak, Mbak, nggak bakalan bisa masuk. Apa yang, Mbak, lihat sekarang itu adalah kubah gaib, terbuat dari energi spiritual. Makhluk astral jenis apapun kalau menyentuh kubah itu akan lenyap terbakar.”
Mendadak Vanya merinding mendengar hal tersebut. Mengingat raganya masih bernapas, gadis astral itu tidak ingin rohnya lenyap begitu saja. Jadi, dengan berat hati Vanya pun turun dari jok ninja biru.
“Di pohon rambutan itu.” Gray menunjuk pohon rambutan yang berada di seberang rumahnya, Vanya pun sontak mengikuti arah tunjuk pemuda itu. “Ada, Mbak Kunti, Mbak ikut nebeng di pohonnya aja, biar gak kesepian.”
Setelah mengatakan hal tersebut, Gray turun dari motor dan membuka gerbang, lalu pemuda itu pun masuk ke pekarangan rumahnya sembari mendorong ninja biru.
“Oh, ya, Mbak! Hati-hati, ya, sama Mbak Kunti penunggu pohon rambutan itu, soalnya gue ngerasain aura jahat dari dia,” peringat Gray sebelum kembali mendorong motornya ke garasi.
Vanya semakin merinding, perlahan gadis astral itu menoleh ke arah pohon rambutan yang dimaksud Gray tadi. Kaki penuh darah menjuntai dari salah satu dahan pohon, sontak saja Vanya bergidik ngeri dan tanpa sadar melayang melewati kubah gaib yang mengelilingi rumah Gray.
“Nah, loh! Gue masuk! Woy cowok songong! Gue bisa masuk rumah lo, nih!” Vanya berteriak antusias sekaligus kaget karena dirinya baik-baik saja setelah melewati kubah gaib.
Gray yang baru saja memasukkan motornya ke garasi, terlonjak kaget saat melihat gadis astral itu berhasil menembus kubah gaib pelindung rumahnya tanpa terbakar.
“Kacau, kubah gaib yang dipasang kakek sepertinya sudah mulai melemah,” gumam Gray sembari melangkah mendekati gadis astral itu.
Gray semakin mengernyitkan dahi saat sepasang netranya menangkap hal tidak wajar terjadi pada gadis astral itu. Pasalnya gaun putih bernoda tanah yang ia kenakan tadi, kini telah berganti dengan gaun putih yang bersih. Noda darah di dahi gadis astral itu juga sudah menghilang seutuhnya.
“Fix, lo beneran ditakdirkan untuk nolongin gue!” seru Vanya girang sembari melayang mengelilingi Gray.
“Mbak, kok, bisa lewatin kubah gaib, sih? Sebenarnya, Mbak ini siapa?” tanya Gray sembari melepas helm yang sedari tadi masih ia kenakan.
Vanya berhenti di depan Gray. Gadis itu melongo ketika dapat dengan jelas melihat wajah Gray. Vanya merasa tak asing lagi dengan wajah pemuda di depannya ini.
“Lo ... lo Si Abu-abunya Gema Nusa itu, kan?” tuding Vanya sembari menjuk wajah pemuda itu.
“Lo kenal sama gue?” tanya Gray bingung sambil memeluk helmnya.
“Siapa coba yang gak kenal pebasket idolanya para cewek!” jawab Vanya spontan, lalu detik berikutnya gadis astral itu menyesali atas ucapannya.
“Duh, mulut! Ketahuan, kan, kalau gue juga salah satu fansnya,” gumam Vanya merutuki dirinya sendiri.
Jujur saja, sejak menyaksikan final turnamen antar sekolahnya dan SMA Gema Nusa kemarin, Vanya sangat mengidolakan sosok Gray yang menjadi ace paling berpotensi pada pertandingan itu. Dari gerakan mendribble, mengoper bahkan sampai shoot, Gray tampak memukau di mata para siswi, tak terkecuali Vanya yang juga menyaksikannya secara langsung pada saat itu.
“Jadi, Mbak ini sebenarnya siapa, sih? Kok, kenal gue juga?” tanya Gray bingung, ia semakin tertarik mengulik lebih jauh mengenai gadis astral di depannya ini.
“Pertama, jangan panggil gue, Mbak! Kayaknya gue lebih muda dari lo! Kedua, nama gue ...” Mendadak ucapan Vanya terhenti begitu saja. Gadis astral itu tak dapat menyebutkan namanya sendiri, seperti ada yang menahan tenggorokannya untuk melafakan namanya.
Gray memiringkan kepalanya sembari memberikan atensi penuh pada gadis astral di depannya itu. “Siapa namanya, Mbak?”
“Nama gue ...” Lagi-lagi namanya tak berhasil Vanya sebutkan. Ada apa gerang? Vanya semakin bingung dibuatnya.
“Gue gak bisa sebut nama gue! Tenggorakan gue mendadak sakit! Terserah lo mau panggil gue apa. Yang jelas jangan panggil gue, Mbak!”
Gray semakin mengernyitkan dahinya mendengar pernyataan dari gadis astral tersebut. “Ya udah, gue panggil, Kunti 2, aja, gak papa, kan? Kunti 1 itu yang di pohon rambutan.”
“Kan, gue udah bilang, gue bukan hantu! Liat nih! Baju gue putih bersih kayak bidadari yang turun dari kayangan.”
“Bidadari gak ada yang cebol!”
“Serah! Pusing gue ngomong sama orang yang gak normal! Nyesel gue sempat mengidolakan pebasket kayak lo!” sungut Vanya sembari mendengkus kesal pada pemuda di depannya itu.
“Siapa suruh mengidolakan gue? Emang gue artis? Nggak, kan!”
Vanya semakin jengkel dengan nada nyolot pemuda di depannya ini. “Harusnya lo bersyukur, bisa dapat fans cantik kayak cewek di depan lo saat ini.”
Gray tak menggubris lagi apa yang Vanya katakan, karena detik berikutnya Gray dapat merasakan dengan jelas, energi jahat dari makhluk-makhluk astral yang kian mendekat.
Bulu kuduk Gray meremang seketika, matanya melotot tak percaya saat melihat beberapa makhluk astral menyeramkan seperti kuntilanak, pocong, sundal bolong, gernderuwo, wewe gombel dan masih banyak lagi makhluk astral bernergi jahat lainnya, berkumpul di luar kubah gaib yang melindungi kediaman Gray.
“Hoi! Lo dengerin gue ngomong gak, sih?” tegur Vanya setelah sekian kalimat yang ia lontarkan tak mendapat tanggapan dari sang lawan bicara.
Merasa diabaikan, Vanya pun mengikuti arah pandang pemuda di depannya itu. Refleks, Vanya pun beringsut ketakutan ke belakang punggung Gray ketika netranya menangkap segerombolan makhluk astral berada di luar kubah gaib.
“Abu, itu ... itu, kok, banyak banget yang dateng, sih?! Mana tampangnya serem semua lagi!” Vanya berusaha mengintip makhluk-makhluk astral di luar kubah gaib dari balik punggung Gray.
Sementara Gray, pemuda itu masih tertegun di tempat. Baru kali ini Gray merasakan energi jahat yang sangat kuat, bahkan pemuda itu sampai tidak bisa menggerakan kakinya karena tekanan emosional para makhluk astral membuat tubuhnya seakan lumpuh seketika.
Angin tiba-tiba bertiup sangat kencang, pepohonan bergoyangan dan hawa dingin pun mulai menyapa kulit Gray, tetapi pemuda itu masih bergeming di tempat. Gray bingung, apa yang harus ia lakukan. Mau memanggil kakek, tetapi kakek tadi pagi berangkat ke Bandung untuk menyambangi sahabatnya, sedangkan memangil kedua orang tuanya, pada saat ini tentu saja mereka belum pulang dari tempat kerja.
“Abu! Jangan bengong dong! Itu mereka makin banyak yang dateng! Baunya juga nggak enak banget, loh! Untung aja parfum lo wangi!” Vanya berusaha menyadarkannya dengan cara menggoyangkan kedua pundak Gray, tetapi tetap saja tak ada respon dari pemuda itu.
Hingga dering dari ponsel Gray yang ada di saku berbunyi, barulah pemuda itu sadar dari rasa keterkejutannya. Dengan gerakan terburu, Gray merogoh saku dan langsung menggeser tombol hijau bergambar gagang telepon di layar ponsel, dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
“Kamu di mana, Di? Kamu nggak kenapa-kenapa, kan, Nak?” Suara ayah terdengar cemas di seberang sana, seolah-olah ayah sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya.
“Yah ... mereka ... energinya hitam yang mereka keluarkan begitu kuat, Yah, dan mereka ada puluhan lebih di depan rumah kita,” ujar Gray susah payah tanpa melepas pandang dari sekumpulan makhluk astral yang berada di luar kubah gaib.
“Tarik napas, Nak. Tenang, konsentrasi dan coba kamu ingat apa yang pernah kakek ajarkan padamu jika berada di situasi ini.” Gray mencoba mengikuti perkataan ayahnya.
Pemuda itu mulai menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. Otaknya secara spontan mengingat momen di mana kakek pernah mengajarinya memadatkan energi spiritual, untuk membentuk sebuah kubah gaib.
“Tapi Adi belum bisa, Yah. Adi nyaris gak bisa gerak karena tekanan energi hitam mereka terlalu kuat, Yah.”
Sementara Vanya, gadis astral itu hanya bisa melongo mendengar apa yang Gray dan orang di telepon bicarakan. Gadis astral itu tak bisa berbuat apa-apa selain menyembunyikan diri di balik punggung tegap pemuda di depannya ini.
“Kamu bisa, Nak! Bismillah, tutup matamu dan coba redam rasa panik yang saat ini kamu rasakan.”
“Adi coba, Yah,” balas Gray sembari memasukkan ponselnya ke saku jaket yang ia kenakan.
“Mundur dari belakang gue,” ujar Gray tanpa menolehkan pandangannya ke arah Vanya.
Vanya yang mengerti pun beringsut menjauh dari punggung Gray. Jujur saja, gadis astral itu bingung, apa yang sebenarnya akan di lakukan Gray pada situasi saat ini. Vanya juga merasakan hawa hangat menguar dari tubuh pemuda itu saat ia memegang pundaknya tadi.
“Abu! Lo mau ngapain?” tanya Vanya hati-hati.
Lagi-lagi Gray tak mengindahkan ucapan gadis astral itu. Saat ini Gray tengah fokus berkonsentrasi. Mata pemuda itu perlahan terpejam rapat, setelah mengucap basmalah ia pun mulai mengangkat kedua tangan dengan telapak menghadap ke langit.
Perlahan ia membuka mata dan mendongakkan kepala ke langit. Pemuda itu mulai melafalkan ayat kursi di dalam hatinya. Energi spiritual dalam diri pemuda itu perlahan menguar ke permukaan melalui telapak tangan.
Kubah gaib yang sudah dipasang oleh kakek semakin bersinar terang, karena beradu dengan energi spiritual milik pemuda itu. Kubah gaib yang melingkupi kediaman Gray semakin membesar dan akhirnya melewati para makhluk astral yang sedang berkumpul. Suara jerit kesakitan para makhluk astral yang terbakar akibat terkena kubah, menggema dan membuat suasana semakin mencekam. Vanya bergidik ngeri melihat hal tersebut, bersyukur ia baik-baik saja saat melewati kubah itu.
Gray terbatuk dan ambruk ke tanah. Napasnya terengah dan wajahnya pucat pasih. Vanya yang menyaksikan hal tersebut, sontak mendekati pemuda itu dengan panik.
“Abu! Lo kenapa, Bu? Lo gak papa, kan?” tanya Vanya panik sembari menepuk-nepuk wajah Gray yang masih terbatuk dengan napas terengah.
Energi spiritual begitu banyak keluar dari tubuh Gray, hingga fisiknya melemah dan akhirnya pemuda itu pun pingsan dengan hidung mengeluarkan banyak darah.
***
Bersambung

Komentar
Posting Komentar