Seventh Sense [EP.04]

 Chapter Sebelumnya



[EP.04 - Meet You After Sunset]



Bel pulang sudah berbunyi dua puluh menit yang lalu, tetapi Gray dan ke-empat rekan tim jurnalistiknya masih sibuk di ruang redaksi. Pemuda itu manyun-manyun tak jelas sembari menyimak apa yang tengah rekan-rekannya bahas. 


“Gray?! Lo nyimak gak, sih? Kenapa muka lo sepet amat, dah?” Teguran Bima, salah satu rekan di tim tiga membuat Gray mengalihkan pandangannya pada pemuda itu. 


“Lanjut aja, Bim. Gak usah banyak komentar, gue nyimak, kok, apa yang kalian bahas,” balas Gray sembari menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. 


“Jadi, Guys, gue udah coba korek sana-sini, gue hubungi temen-temen gue yang ada di Bakti Mulya, tapi mereka gak ada yang mau jawab siapa nama korban kecelakaan itu,” papar Atan, pemuda berkulit cokelat itu tampak membalik lembar demi lembar yang berisi kontak teman-temannya yang berada di SMA Bakti Mulya. 


“Anak-anak Bakti Mulya pada tutup mulut mengenai insiden ini. Kayaknya ada kebijakan dari kepala sekolah mereka, deh,” timpal Rin sambil melihat foto-foto lokasi kejadian. 


“Gue sama Zera juga udah cek ke rumah sakit persada, tempat korban dilarikan, pihak rumah sakit memang mengatakan kalau korban tabrak lari di terminal dua lima dilarikan ke situ, tapi karena permintaan keluarga korban, pihak rumah sakit gak bisa buka suara mengenai identitas si korban ini,” jelas Bima panjang lebar. 


“Yang gue dapat dari salah satu informan kita, korban ini perempuan, dia juga salah satu penonton final turnamen kemarin malam.” Kali ini Zera yang angkat bicara. 


“Jadi, dari hasil penyelidikan kalian, informasi yang didapat cuma dua? Pertama, korban dilarikan ke rumah sakit persada, kedua, jenis kelamin korban perempuan,” simpul Gray dengan nada mencibir. 


“Rin, lo gimana, sih?! Bukannya lo punya banyak temen di Bakti Mulya? Seharusnya lo bisa korek dong informasi dari mereka!” bentak  Gray sembari melemparkan catatan hasil diskusi sore hari ini ke tengah-tengah meja. 


“Ini, nih, yang bikin gue gak mau ambil tugas meliput orang kecelakaan, pasti susah dapat informasinya!” 


Semua rekan Gray terdiam. Mereka maklum dan tidak mempermasalahkan sikap Gray saat ini, karena pada dasarnya mereka sadar akan kesalahan masing-masing. 


“Wajar kita susah dapat info, Gray. Ini tugas perdana kita meliput orang kecelakaan,” ujar Atan sembari menghela napas singkat. 


“Ya itu dia! Kenapa kalian gak ada yang protes sama Kak Malika pas dikasih tugas ini? Kita ini tim khusus meliput bidang olahraga dan seni!” 


“Sudah! Gak ada gunanya kita debat sekarang, tugas ini sudah terlanjur kita emban, Gray. Mau gak mau kita harus bisa tuntaskan dalam minggu ini. Lo juga dalam penyelidikan hari ini gak berkontribusi apa-apa, jadi jangan nyalahin kita semua, okey?” Zera menatap Gray setengah jengkel, meskipun Gray ketua tim tiga Zera sama sekali tidak takut untuk menegurnya. 


Gray sama sekali tidak tersinggung atas perkataan Zera, ia sadar, ia memang sama sekali tidak berkontribusi apa-apa dalam penyelidikan kasus ini. Gray enggan untuk menyentuh kasus ini lebih jauh lagi. 


Pemuda itu mengeluarkan ponsel dari saku dan meletakkannya ke atas meja, memilah daftar kontak, setelah mendapat kontak tersebut, tanpa membuang banyak waktu Gray langsung mendial kontak tersebut dengan menyalakan mode loud speaker. 


Terdengar nada sambung beberapa saat, sebelum panggilan tersebut dijawab oleh orang di seberang sana. 


“Yo! Kenapa, Bro? Tumben telepon gue?!” Terdengar suara laki-laki dari seberang sana. Semua mata dan telinga fokus ke ponsel Gray. 


“Anak Bakti Mulya yang kecelakaan tadi malam, namanya siapa, Ren?” tanya Gray to the point. 


Cukup lama orang di seberang sana tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Gray. Bima, Rin, Zera dan Atan saling tatap satu sama lain menanti jawaban tersebut. 


“Kalau lo gak bisa sebut namanya, sebut insialnya aja, Ren,” kata Gray sembari mengambil pulpen dari tasnya. 


“Emm ... gimana, ya, Gray. Ada kebijakan dari sekolah gue untuk gak buka identitas korban, soalnya itu juga permintaan orang tua korban, sih.” 


“Inisial aja, Ren. Bantu gue, please, gue lagi meliput insiden ini soalnya. Lo tau sendirikan, korban kecelakaannya di dekat Gema Nusa? Nah, mau gak mau kami harus menjadikan hal tersebut sebagai headline news sekolah kami juga, Ren.”


“Tapi lo janji, ya, gak usah sebar kalau gue yang bocorin insial korban, soalnya korban ini adik salah satu temen gue.”


“Informasi dari lo bakalan aman dan gak bakal bocor, kok.” 


“Inisialnya VM, udah, ya, Gray, gue tutup dulu!” Sambungan telepon terputus begitu saja. 


Gray menatap satu-persatu ke arah rekannya. “Kalian denger sendiri, kan? Insial korban VM! Coba cek di daftar penonton turnamen kemarin malem. Kan, panitia turnamen catet siapa aja yang datang.” 


“Kebetulan gue udah ada pegang list nama penonton, gue sempat minta tadi sama panitia pas jam istirahat,” sahut Atan sembari mengangkat lembaran HVS cukup tebal.  


“Bagus, kalau sudah ketemu jangan lupa cari media sosialnya, cek rekaman CCTV depan gerbang juga. Gue pulang duluan, nanti hasilnya kalian email aja ke gue, biar bisa segara gue bikin artikelnya.” 


Setelah mengatakan hal tersebut, Gray mengambil ponsel dan memasukkannya ke saku, menyampirkan tas ke punggung dan melenggang meninggalkan para rekannya. 


“Coba dari tadi dia hubungin temennya. Kan, kita gak perlu repot-repot ke rumah sakit ngemis identitas korban sama resepsionis!” cibir Bima setengah jengkel.


“Sabar, Bim, gue juga rada kesel sama tuh anak!” timpal Rin sembari menatap punggung tegap Gray yang kian menghilang dari pandangan. 


“Gray kalau sudah emosi, melebihi Zera saat datang bulan, ya, horror banget,” celetuk Atan yang langsung mendapatkan pelototan tajam dari gadis bernama Zera itu. 


***


Setelah bertemu dengan makhluk astral berwajah hancur sebelah tadi malam, Vanya melarikan diri tak tentu arah. Gadis pendek yang saat ini hanyalah sebatas roh itu melayang dengan wajah nelangsa. Vanya bingung, harus mulai dari mana ia mencari sosok yang bisa melihatnya. 


“Walapun wujud hantu kek gini, keluyuran di siang bolong panas juga, ya,” gumam Vanya sembari melirik kanan dan kirinya. 


Gadis itu terus melayang tanpa tujuan. Otaknya sesekali kembali mengingat percakapan tadi malam dengan sang malaikat pencabut nyawa, jujur saja, Vanya sangat takut dengan situasinya saat ini. Makhluk-makhluk astral menyeramkan yang pernah ia tonton di film-film horror, kali ini benar-benar nyata terlihat oleh netranya.  


Vanya juga khawatir dengan kedua orang tuanya, telebih Vanya takut mamanya mengalami serangan jantung, karena mendengar kabar bahwa ia kecelakaan dalam perjalan pulang ke rumah. 


“Mending gue pulang ke  rumah aja, deh. Khawatir gue sama mama, semoga mama baik-baik aja,” gumam gadis itu sembari berbalik arah menuju rumahnya. 


Sepanjang perjalanan menuju rumahnya, Vanya tak henti-hentinya dikejutkan oleh beberapa makhluk astral yang berpapasan dengannya. 


Vanya pikir di siang hari ia tidak akan melihat makhluk astral menyeramkan, tetapi pemikirannya salah, justru di siang hari netranya semakin jelas menangkap makhluk-makhluk astral yang melayang ke sana ke mari. 


Gadis itu menghentikan aksi melayangnya, netranya menyipit menatap arah bangku taman. Tak salah lagi, itu pacarnya. Vanya tersenyum lebar melihat pemuda yang masih berbalut seragam sekolah itu.


“David! Kali aja dia bisa lihat gue!” seru Vanya antusias. “Gue bisa hidup lagi kalau David bisa mencintai gue dalam wujud hantu, kek, gini!”


Senyum di wajah Vanya sirna bergitu saja, saat sosok tak asing lagi di netranya menyambangi sang pacar di bangku taman tersebut. 


“David, sorry, ya, tadi aku abis jenguk Vanya dulu di rumah sakit.”


“Gak papa, aku baru aja sampai di sini,” balas David sembari tersenyum hangat pada gadis yang baru saja duduk di sampingnya.


Sementara Vanya, gadis yang saat ini sebatas roh itu mengepalkan kedua tangan dan netranya menatap tajam ke arah David dan gadis di samping pacarnya itu. Vanya marah dan tentu saja cemburu saat melihat David menggenggam tangan gadis itu. 


“Apa-apaan ini, Dav? Gue kecelakaan, tapi lo malah berduaan sama Widy di taman?” gumam Vanya sembari tersenyum miris melihat pemandangan di depannya sana. 


“Kamu gak mau jenguk, Vanya, Dav? Dia, kan, masih pacar kamu,” ujar Widy sambil merebahkan kepalanya ke pundak David. 


“Dari awal aku gak pernah suka apalagi cinta sama, Vanya, Di. Aku nembak dia karena kalah taruhan aja sama si Reno,” balas David dengan sebelah tangan mengusap-usap puncak kepala Widy.  


Ucapan David tambah membuat Vanya tersenyum miris. Bayangan momen pada saat pemuda itu menyatakan perasaannya di hadapan teman-temannya, kembali berputar di ingatan Vanya. Gadis itu yang memang pada awalnya sangat mengidolakan David, tentu saja langsung menerima pernyataan cinta dari pemuda tersebut. 


Namun, sangat disayangkan, ternyata dia selama ini salah mengartikan pernyataan cinta dari David, Vanya pikir David serius dan tulus, nyatanya ada hal lain dibalik pernyataan cinta pemuda itu. 


“Bedebah sialan!” Dengus Vanya sembari mengusap wajah dengan kedua tangannya. 


“Ada untungnya juga gue jadi hantu, kek, gini. Gue jadi tau mana orang yang bener tulus dan mana yang munafik!” 


Setelah itu Vanya pergi membawa luka tak kasat mata, ia kecewa, terlebih pada Widy yang merupakan sahabat karibnya sedari kecil. Vanya tak menyangka gadis itu akan menjalin hubung secara rahasia dengan pacarnya, meskipun saat ini Vanya mengetahui fakta bahwa David tidak pernah menyukai dan mencintainya, tetap saja, mengetahui fakta bahwa Widy mengkhianatinya jauh lebih menyakitkan dari pada hal itu. 


“Rasanya sakit banget, tapi kenapa gue nggak bisa nangis, sih?” lirih Vanya sembari memukul-mukul dadanya. 


Tujuan untuk pulang ke rumah terlupakan begitu saja, Vanya saat ini diliputi rasa sedih dan kecewa. Gadis itu duduk di bawah pohon beringin sembari menekuk lulut dan membenamkan wajahnya. 


Entah sudah berapa lama gadis itu mencoba untuk menangis, tetapi air matanya tak kunjung keluar. Saat Vanya mendongakan kepala, langit jingga sore hari menyapa indra penglihatannya. 


Tampak indah dan menenangkan. Gadis itu tersenyum kecil dengan pandangan lurus menatap sang surya yang perlahan kembali ke tempat perpaduan. 


“Ma, Pa, Vanya takut sendirian,” lirih gadis itu sembari bangkit dari posisinya. 


“Jangan cengeng, Van! Lo pasti bisa menghadapi situasi ini!” ujar gadis itu pada dirinya sendiri. 


Vanya bersusaha tegar dan meredam rasa kecewa atas kenyataan yang baru saja ia ketahui hari ini. “Ya, gue pasti bisa! Gak ada yang gak bisa gue lakuin! Pokoknya saat ini gue harus fokus cari cowok yang bisa lihat gue!”


Gadis itu memantapkan hatinya dan mulai melayang menuju arah rumahnya.  


Cittt....


Sebuah motor ninja berwarna biru berhenti mendadak di depan Vanya yang baru saja hendak menyeberangi jalan, sontak saja gadis itu terkejut dan secara refleks menutup mata dengan kedua tangannya. 


“Woy! Nyeberang jalan liat kanan-kiri dong! Jangan asal nyeberang aja! Mau bunuh diri lo?!” 


Makian dari sang pengendara motor ninja menyadarkan Vanya dari rasa keterkejutannya. Gadis astral itu membuka kedua matanya perlahan, lalu menoleh ke kanan dan kiri, tidak ada siapa-siapa selain dirinya dan sang pendengara motor.


“Dibilangin malah bengong! Kesambet, Mbak?!” 


Vanya refleks menoleh ke arah sang pengendara motor ninja biru di depannya itu, gadis astral tersebut mengernyitkan dahinya bingung, lalu mulai melambai-lambaikan tangannya ke depan sang pengendara yang masih menggunakan helm. 


“Lo bisa liat gue?” tanya Vanya dengan mata berbinar. 


Refleks, sang pengendara ninja biru langsung membuka kaca helmnya dan menatap tajam ke arah Vanya. “Sial, kakinya nggak napak aspal!” umpat pemuda pengendara ninja biru tersebut. 


Baru saja sang pengendara hendak berbelok, Vanya dengan sigap menghalanginya dan tentu saja sang pengendara lagi-lagi menghentikan kendaraanya. 


“Wah, jujur sama gue, lo bisa lihat gue, kan?” tanya Vanya sembari mendekat pada pemuda pengendara ninja biru tersebut. 


***

Bersambung


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seventh Sense [EP.01]

SEVENTH SENSE