Seventh Sense [EP.03]

Chapter Sebelumnya 



[EP.03 - Bad Felling]


Usai sarapan dan berpamitan kepada kedua orang tua serta kakeknya, Gray langsung berangkat ke sekolah menggunakan angkutan umum. Tak butuh waktu lama, setengah jam berdesakan bersama penumpang lain, akhirnya Gray tiba di depan gerbang SMA Gema Nusa dengan peluh membanjiri pelipisnya. 


“Pagi, Den Gray, saya denger sampean menang turnamen lagi, ya? Selamat, ya, Den.”


Gray tersenyum hangat mendengar sapaan dan ucapan selamat dari satpam penjaga gerbang. 


“Pagi, Pak, makasih, Pak. Kalau belum nonton pertandingannya, jangan lupa tonton siaran ulang di channel YouTube sekolah, Pak. Mari, Pak.”


Gray melanjutkan langkahnya menuju kelas. Pemuda itu sesekali tersenyum menanggapi sapaan dari adik kelasnya. 


“Gray!”


Sontak Gray menghentikan langkah, lalu membalikkan badannya dengan dahi berkerut, netra pemuda itu menatap gadis berkacamat yang tampak terengah-engah mendekatinya. 


“Kenapa, Rin?” tanya Gray langsung. 


“Lo gue hubungin dari tadi malam kenapa gak aktif, sih?” kesal gadis yang dipanggil Gray dengan sebutan Rin tadi. 


Gray nyengir lebar sembari terkekeh pelan. “Sorry, gue lupa charger. Lagian kemarin pas pulang gue langsung tidur,” jawab Gray apa adanya. 


“Kebiasaan lo, ya! Lo tau gak sih?! Satu sekolah lagi heboh bahas anak Bakti Mulya yang kecelakaan tadi malam di dekat terminal dua lima?”


“Mana gue taulah! Gue aja baru tau sekarang pas lo bilang ini! Emang kenapa sama kecelakaannya?” Gray merasakan firasat buruk mendengar hal ini. 


“Kak Malika minta kita meliput insiden ini sampai tuntas,” balas Rin sembari memperbaiki letak kacamatanya. 


Gray berdecak kesal, firasatnya benar. “Kenapa tim kita, sih, yang diminta untuk meliput? Tim Kak Malika dan Kak Adnan bisa, tuh, meliput. Gue, kan, pernah bilang, gue mau ikut jurnalistik dengan syarat nggak mau liput insiden-insiden kecelakaan kayak gini!” 


Rin memutar bola matanya kesal, rekan satu ekskulnya ini memang terkadang susah diajak kerja sama. “Gray! Kak Malika dan Kak Adnan, mereka lagi sibuk persiapan ujian akhir, loh! Jadi, cuma tim kita yang nggak sibuk.” 


“Gue sibuk, Rin!” 


“Gray! Lo gak bisa egois gini dong! Tim dua dan empat lagi meliput banjir di luar kota, jadi yang free cuma tim kita!” 


“Kak Malika mana? Biar gue yang ngomong sama dia untuk tukar tugas dengan tim lain! Gue lebih baik meliput bencana dari pada orang kecelakaan,” kata Gray setengah emosi. 


Tak kunjung mendapat jawaban dari Rin, Gray berdecak sesaat sebelum mendahului gadis itu menuju ruang redaksi jurnalistik yang berada di arah berlawan dari kelasnya. 


Jengkel dengan sikap Gray, Rin cuma bisa bersungut-sungut di belakang pemuda itu sembari mengikutinya. 


“Lo kenapa, sih, gak mau meliput kecelakaan?” tanya Rin penasaran.


Gray hanya menoleh sekilas pada Rin, lalu kembali memfokuskan pandang ke depan tanpa menjawab pertanyaan gadis itu. 


Bukan tanpa alasan Gray tidak mau meliput orang kecelakaan, jelas ia mempunyai alasan yang kuat untuk menolaknya. Faktor utama tentu saja rumah sakit, meliput orang kecelakaan pasti akan mengharuskannya ke rumah sakit dan hal tersebut benar-benar sangat Gray benci. 


    Kemampuan yang ia miliki belum bisa sepenuhnya ia kontrol. Jadi, membawa kemampuan ini ke rumah sakit sama saja mengundang petaka bagi dirinya sendiri. Gray benci makhluk astral yang berdomisili di area rumah sakit. Kata kakeknya, di rumah sakit merupakan sarang makhluk astral yang paling kuat energi jahatnya. 


“Gini nih! Ngomong sama cowok yang sok cool! Berasa ngomong sama batu es gue!” sindir Rin yang tak mendapatkan jawaban dari rekannya itu.


Sesampainya di ruang redaksi jurnalistik. Gray mengetuk pintu tiga kali sebelum membukanya. 


“Kak Malika!” panggil Gray sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan. 


“Kenapa, Gray?” Suara seorang gadis yang sangat Gray kenal menyahut, seiring dengan menyembulnya kepala dari balik komputer. 


Gadis itu yang di panggil Kak Malika oleh Gray tadi, tanpa pikir panjang, Gray pun mempercepat langkahnya menuju ke arah gadis  yang tengah sibuk di depan komputer itu. 


“Kak Malika, aku pernah bilang, kan? Kalau aku gak mau meliput orang kecelakaan? Kenapa kakak malah ngelimpahin tugas meliput orang kecelakaan ke tim kami, sih? Tim kami, kan, khusus meliput bidang olahraga dan seni!” tanya Gray dengan nada setengah jengkelnya. 


Gadis berhijab itu menghentikan gerak jarinya dari tombol keyboard, lalu menoleh sesaat ke arah Gray yang sudah memasang wajah masamnya.


“Karena cuma tim kalian yang nggak ada kerjaannya minggu ini, Gray. Apa salahnya, sih, meliput insiden ini?”


“Sebagai ketua redaksi tim tiga, aku minta tukar tugas dengan tim lain. Walaupun diluar bidang olahraga dan seni aku jabanin, Kak, kecuali meliput orang kecelakaan!” Gray tetap kekeh dengan pendiriannya. Sekali tidak, tetap tidak.  


“Dua tim di luar kota sudah mau pulang, artinya mereka sudah selesai menjalankan tugas. Gak ada alasan buat Kakak untuk tukar tugas tim lain ke tim kalian,” balas Malika yang hampir tersulut emosi, untung gadis itu sudah tahu sifat juniornya satu ini, sangat keras kepala. 


Gray semakin menunjukkan ekspresi kesal mendengar hal tersebut, sementara Rin, gadis itu hanya bisa menepuk-nepuk pelan pundak sang rekan. 


“Sudah, Gray. Kita terima aja tugas ini,” ujar Rin hati-hati. 


“Terserah, kalau memang tim tiga harus meliput tugas ini, gue gak mau turun ke lapangan. Biar gue aja yang ngurus artikel!”


“Ya terserah kalian, mau gimana teknisnya. Yang penting berita ini harus bisa kita terbitkan dalam minggu ini,” sahut Malika sambil kembali memfokuskan pandangan pada layar monitor di depannya. 


“Oke, Kak. Kami bakal kerja keras untuk meliput berita ini,” ucap Rin penuh semangat, sedangkan Gray, pemuda itu berdecak sebal dan keluar ruang redaksi tanpa mengucap salam. 


“Maafin atas sikap, Gray, ya, Kak. Aku gak tau kenapa dia anti banget sama meliput orang kecelakaan. Yang pasti, tim tiga bakal usahain berita yang diliput kali ini bakal masuk tranding lagi.” 


Malika tersenyum mendengarnya. “Sip, semangat, ya, Rin. Kakak tunggu hasil liputan kalian.” 


***


“Kenapa muka lo lecek banget, sih? Masih pagi, Bro, jangan manyun!” Arkan teman sebangku Gray, menyenggol lengan Gray yang baru saja menjatuhkan bokongnya ke kursi. 


Gray mendelik sesaat ke arah teman sebangkunya itu, lalu mengeluarkan buku latihan Matematika dari dalam tasnya. 


“Liat tugas lo, Ar. Gue lupa kerjain, pulang turnamen tadi malam langsung tidur soalnya.” 


Arkan yang  kesal mendengar hal itu, sontak menjitak kepala Gray begitu saja. “Kebiasaan lo, Gray! Ini tugas udah dua minggu yang lalu, loh!”


“Gue lupa kalau ada tugas Matematika. Gue pikir, Pak Arman gak bakal masuk lagi setelah insiden sapu terbang dua minggu lalu.” 


Mendengar hal itu Arkan jadi terkikik geli, bayangan wajah takut sekaligus terkejut Pak Arman kembali menari-nari di ingatannya. 


“Tapi beneran, loh, gak ada yang ngerjain Pak Arman, sapunya beneran terbang. Waktu itu semua temen-temen kelas pada kaget juga, kecuali lo sendiri,” ujar Arkan sembari meminjamkan buku latihan Matematikannya pada Gray. 


“Lihat kepala terbang aja gue udah gak kaget lagi,” gumam Gray pelan sambil fokus menyalin jawaban Arkan ke buku tugasnya. 


“Ha? Apa lo bilang Gray? Kepala terbang? Ngaco lo!” Pemuda itu mendadak merinding mendengarnya. 


Gray menghentikan kegiatan menyalinnya. Pemuda itu mulai merasakan hawa kehadiran makhluk astral. Untuk beberapa saat netra pemuda itu terpejam rapat, lalu beberapa detik berikutnya, ia buka kembali sembari mendongak perlahan. Netranya menatap tajam ke arah sudut kanan ruang kelas. 


Sosok astral berwujud bocah laki-laki tujuh sampai delapan tahunan tengah tersenyum ke arah Gray. Bocah itulah pelaku kekacauan kelasnya dua minggu yang lalu. Gray sadar, bocah astral itu memiliki energi spiritual yang sangat kuat, sehingga ia dapat menyentuh benda padat, tetapi Gray tidak merasakan aura jahat dari bocah astral tersebut.  


“Eh, mau ke mana, Bro?” tanya Arkan bingung saat Gray tiba-tiba beranjak dari kursinya. 


“Piket, gue lupa kalau hari ini ada jadwal piket,” jawab Gray tanpa memandang ke arah Arkan.


Pemuda itu berjalan mendekat ke arah bocah astral itu dan berjongkok di depannya. 


Gray memungut gumpalan kertas di sudut kelas tersebut. Pemuda itu tersenyum samar saat bocah astral itu menatapnya dengan dahi berkerut. 


“Kamu jangan nakal lagi, ya. Nanti kamu bakal lama tinggal di sini kalau nakal.” Gray berbisik pelan di samping telinga bocah astral itu. 

Baru saja Gray hendak berdiri dari posisinya, bocah astral tersebut meraih pergelangan tangannya. 


“Untuk pertama kalinya ada yang bisa liat dan ajak aku bicara. Makasih, ya, Kak. Maaf atas insiden dua minggu yang lalu. Waktu itu aku kesal karena nggak ada yang bisa lihat aku di sini,” ujar bocah astral itu lirih. 


Gray yang mendengarnya hanya mengembuskan napas sesaat dan menepuk puncak kepala bocah itu pelan. “Katakan, apa yang kamu inginkan?” tanya Gray masih dengan suara pelannya sembari tersenyum hangat. 


“Keinginanku udah terkabul, Kak. Terima kasih,” ujar bocah astral itu sebelum wujudnya perlahan memudar dari pandangan Gray. 


“Semoga kamu tenang di alam sana,” gumam Gray sembari tersenyum samar dan bangkit dari posisinya. 


“Gray! Lo ngapain lama di situ, sih? Buang aer besar lo?” tegur Arkan cukup nyaring. Pasalnya pemuda itu merasa aneh dengan gerak-gerik teman sebangkunya di sudut kelas itu. 


Gray yang mendengar suara Arkan, hanya mendelik sebal ke arah teman sebangkunya itu. “Lagi nyemilin sampah, Ar!” balas Gray sarkastik sembari berjalan ke tong sampah di sudut kiri ruang kelas. 


“Tumben lo sensian, ada apa, sih? Lo disemprot lagi sama Kak Malika?” tanya Arkan penasaran. Tak biasanya Gray bersikap seperti pagi ini. Gray yang Arkan kenal itu, selalu tertawa dan balas menanggapi leluconnya walaupun receh. 


“Jangan sebut nama kakak satu itu, gue lagi gedeg sama tuh orang,” balas Gray tanpa menoleh ke arah Arkan. 


Pemuda itu kembali duduk di kursinya, tanpa membuang banyak waktu lagi, ia pun melanjutkan aktivitas menyalin tugas yang sempat tertunda tadi. 


“Bener dugaan gue, soalnya di sekolah ini cuma ada dua faktor yang bisa merusak mood lo, pertama, mie ayam di kantin habis dan kedua, omelannya Kak Malika.” Setelah itu Arkan terbahak melihat ekspresi kesal teman sebangkunya itu. 


***

Bersambung



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seventh Sense [EP.01]

SEVENTH SENSE