Seventh Sense [EP.19]
[EP.19 – An Unexpected Death Signs]
Semua warga SMA Gema Nusa tidak ada yang mengingat mengenai insiden mengerikan kemarin siang. Gray tidak terkejut mengenai hal itu, karena ayah sudah mengatakan padanya bahwa semua ingatan warga Gema Nusa telah dimanipulasi oleh ayahnya.
Gray tersenyum melihat Adnan dari kejauhan yang sedang bersenda gurau bersama teman-temannya. Sebelah tangan Gray tak lepas menggandeng tangan Vanya. Sejak pulang dari rumah sakit tadi malam, semua terasa berbeda. Vanya juga jadi sering salah tingkah dengan perlakuan pemuda itu, terlebih kata-kata yang Gray ucapkan tadi malam masih terngiang jelas di benaknya.
“Van, hari ini gue ada UTS. Jadi nanti jangan gangguin gue, ya,” pinta pemuda itu sembari menyengir lebar pada Vanya.
Lagi-lagi Vanya salah tingkah melihat cengiran pemuda itu. Gray benar-benar terlihat menawan di matanya. “Mau gue bantuin nggak? Lo tadi malem, kan, nggak belajar. Gue bisa liatin kunci jawaban yang guru lo bawa nanti,” tawar Vanya sembari mencoba melepaskan tangannya dari genggaman pemuda itu. Namun, usahanya nihil. Gray tak membiarkan hal itu terjadi.
“Soalnya kemungkinan essai, Van. Bukan pilihan ganda. Essai bisanya langsung dikoreksi tanpa kunci jawaban,” kata pemuda itu, sambil memasang earphone ke telinganya. Gray menyadari beberapa siswa yang berpapasan menatapnya aneh karena berbicara sendiri.
Sepanjang perjalanan menuju kelas, banyak siswi yang menyapa Gray dengan senyuman. Pemuda itu sesekali membalas sapaan teman satu angkatan mau pun adik kelas yang berpapasan. Vanya yang melihat keramahaan pemuda itu menjadi agak keki dan balik menggenggam erat tangan Gray.
“Lo cukup populer juga, ya, di kalangan cewek-cewek?! Mana yang negur cantik-cantik pula,” ujar Vanya sembari berusaha mengalihkan pandangannya dari pemuda itu.
Gray tersenyum samar mendengarnya. Entah kenapa ia merasa Vanya tidak suka melihatnya membalas sapaan dari siswi yang berpapasan dengannya.
“Gue gak tertarik sama cewek cantik. Gue tertariknya sama hantu yang ngakunya bidadari, tapi cebol dan kadang ngeselin!” balas pemuda itu sembari terkikik geli dalam hati.
Sejak malam tadi, usai pulang dari rumah sakit. Gray masih memikirkan ucapannya pada Vanya. Kata-kata itu murni keluar dari hati tulusnya, sama sekali tidak ada unsur iba di dalam kata-katanya. Gray mulai sadar, sebagian besar hatinya tertarik pada gadis itu. Gadis yang telah dua kali menyelamatkan nyawanya dari marah bahaya. Sejak malam itu juga Gray sudah bertekad, bahwa ia akan menepati semua ucapannya pada gadis itu.
”Apaan, sih, Bu?! Gak jelas banget!”
“Ngambek? Gue tinggalin, nih?!”
Mendadak Vanya berhenti melayang. Gray pun spontan menghentikan langkah kakinya. Vanya tak tahan, gadis astral itu ingin menanyakan sesuatu pada Gray, lebih tepatnya ingin memastikan suatu hal yang sejak tadi malam menganggu pikirannya.
“Ucapan lo tadi malam—.” Gray yang mengerti ke arah mana pembicaraan gadis astral ini, kontan memeberikan Vanya isyarat dengan meletakan jari telunjuk di depan bibir agar gadis itu tidak melanjutkan ucapannya.
Gray tersenyum samar sebelum berujar, “Kalau lo mau tanya perihal perkataan gue tadi malam. Lo tenang aja, semua perkataan gue serius tanpa ada unsur iba sama sekali. Gue bakal tepatin semua kata-kata gue, Van. Lo tenang aja.”
Vanya mendadak bungkam dan mencoba menghindari kontak mata dengan pemuda itu. Vanya masih ragu, apa yang sebenarnya Gray rasakan padanya. Apa itu sejenis rasa suka, cinta, sayang atau hanya sekedar iba? Saat ini Vanya belum dapat menemukan kebenaran itu dari mata Gray. Pemuda itu terlalu sulit untuk ia tebak.
“Padahal kita sebelumnya nggak terlalu kenal, Bu. Kenapa lo mau berbuat sampai sejauh ini? Sampai saat ini aja, gue masih bingung dari mana lo tau identitas gue, sedangkan gue aja sampai sekarang nggak bisa sekedar untuk menyebutkan nama.”
“Gue bakal ceritain nanti sepulang sekolah, dengan satu syarat. Lo juga harus kasih tau ke gue yang sebenarnya. Apa yang harus gue lakuin agar lo bisa kembali lagi ke raga? Gue gak percaya kalau hanya dengan kita berdeketan selama 26 hari ke depan dapat membuat lo kembali ke raga. Pasti ada yang lo sembunyikan dari gue, kan?”
Vanya tertegun. Benar, apa ia sudah bisa dikategorikan sebagai pembohong karena tidak bisa jujur sedari awal? Tapi Vanya tak punya pilihan lain selain menyembunyikannya.
“Lo bener, Bu. Ada yang gue sembunyiin dari lo. Gue gak bisa berkata jujur, karena pada saat gue jujur mengenai hal itu, gue bakal lenyap dari semesta ini.”
Giliran Gray yang dibuat tertegun kala mendengarnya. “Ya sudah! Kalau begitu, gak bakal gue tanya lagi soal itu. Biar gue sendiri yang cari tahu,” ujar pemuda itu sembari mencoba mengulas senyum simpul yang menenangkan.
Jelas Gray tidak ingin Vanya lenyap begitu saja hanya karena ia penasaran mengenai hal itu. Biar dia sendiri yang mencari tahu tanpa harus meminta Vanya untuk menjelaskannya.
***
Arkan langsung heboh ketika melihat Gray memasuki kelas. Pemuda itu berjalan tergesa menghampiri Gray. “Bro, gue denger Bima dan Atan dibegal, ya?” tanya Arkan langsung.
Sebenarnya Gray tidak ingin membahas mengenai hal itu, sebab ia jadi teringat akan kehilangan sosok Bima karena insiden tersebut. Gray tak menjawab pertanyaan Arkan secara langsung, pemuda itu melewati Arkan begitu saja.
“Gray! Gue nanya, kok, dikacangin, sih?!” kesal Arkan sembari mendudukan bokongnya di kursi sebelah Gray.
Gray menoleh singkat sembari mengembuskan napas berat. “Kalau udah tau kenapa masih ditanya, sih, Ar?! Gue nggak mau bahas itu. Gue jadi keinget sama Bima,” kata Gray sambil meletakan tasnya ke dalam laci.
Arkan langsung menarik diri. “Sorry, Gray. Gue ikut berduka cita atas kepergian Bima. Sorry juga gue gak bisa dateng pas pemakamannya,” sesal Arkan dan mendadak bungkam.
Gray mengangguk singkat sembari melempar pandang ke luar jendela. Pemuda itu mendadak murung jika mengingat kepergian Bima. Sebagian hati kecilnya masih belum menerima atas kepergian Bima.
Vanya yang duduk di bangku kosong belakang Gray, menyadari perubahan raut wajah pemuda itu. Vanya tahu, Gray pasti merasa sedih ketika mengingat kehilangan akan sosok sahabatnya.
Tak berapa lama kemudian, bel masuk pun berbunyi. Pak Tio selaku guru Sejarah masuk ke kelas Gray. Beliau memberitahukan bahwa UTS hari ini adalah melakukan kunjungan ke Museum Nasional Indonesia atau yang dikenal juga dengan museum gajah.
Para siswa diminta merangkum hasil seminar yang akan diadakan di museum tersebut. Pak Tio sudah mendapat izin dari orang tua wali murid untuk mengadakan studi lapangan. Jadi, setelah mengatakannya pada anak kelas XI IPS 2 Pak Tio langsung menggiring para muridnya untuk memsuki bus sekolah yang sudah menunggu di lapangan.
“Ribet, dah! Kalau sudah studi lapang kayak gini!” keluh Arkan sambil melangkah malas menuruni anak tangga.
Gray tak peduli dengan teman sebangkunya itu. Pemuda itu hanya ingin hari ini selesai dengan cepat. Entah kenapa kepalanya terasa berat dan firasatnya mendadak tidak enak.
“Abu, lo kenapa? Muka lo, kok, mendadak pucat gitu?” tanya Vanya saat menyadari wajah pemuda itu seperti tidak ada darah yang mengalir.
Gray tersenyum lemah sembari menggeleng singkat. “Gak papa, Van. Ngantuk aja,” ujar pemuda itu pelan. Ia takut kembali dilirik aneh sama teman-temannya karena ketahuan berbicara sendiri.
Para siswa kelas XI IPS 2 sudah memasuki bus. Gray memilih duduk paling belakang di kursi panjang. Pemuda itu menyandarkan kepalanya ke jendela. Vanya khawatir dengan perubahan sikap Gray. Entah kenapa semakin dilihat, wajah pemuda itu semakin pucat.
“Bu, kalau gak enak badan, izin aja. Gue takut lo kenapa-napa, Bu,” ujar Vanya sembari menempelkan punggung tangannya ke dahi pemuda itu, dahi pemuda itu terasa hangat.
Gray menggeleng samar. “Tidur aja, Van,” bisik Gray sembari menepuk pundak kirinya, mengisyaratkan Vanya untuk merebahkan kepala di bahunya.
Anehnya Vanya langsung menurut begitu saja. Gadis astral itu langsung merebahkan kepala di bahu kiri pemuda itu. Gray tersenyum samar melihatnya sebelum menutup kedua mata. Tak lama berselang, bus pun mulai melaju meninggalkan lingkungan sekolah.
Entah sudah sejauh mana bus melaju, yang pasti dalam tidurnya Gray merasakan ketidak tenangan. Pemuda itu bermimpi ayah berjalan menuju cahaya dan lenyap begitu saja.
Sontak Gray terbangun dari tidurnya. Napasnya tak teratur dengan dada kembang-kempis. Sekelebat mimpi itu kembali hadir di benaknya, lalu sepersekian detik berikutnya, Gray menegang di tempat dengan mata melotot tak percaya, ketika melihat semua teman satu kelasnya yang berada di dalam bus ini mengeluarkan aura hitam tanda kematian dan yang membuat Gray tambah shock, aura hitam pekat tersebut juga ikut menguar dari tubuhnya sendiri.
“Ayah ... apa yang harus Adi lakukan?” gumam pemuda itu pelan dengan mata yang mulai memerah dan tubuh gemetar.
***
Bersambung

Komentar
Posting Komentar