Seventh Sense [EP.14]

Chapter Sebelumnya



[EP.14 - Soul Eater]


Tiga hari berlalu pasca prosesi pemakaman Bima. Baik Gray, Rin, mau pun Zera, mereka bertiga tentu saja masih merasakan kehilangan sosok periang seperti Bima. Ruang redaksi mereka menjadi hampa dan suram, tanpa canda tawa dari Bima dan Atan.


 “Bolos aja, yuk! Gue males bikin laporan mingguan. Lagian ruang kita hampa banget tanpa mereka berdua,” celetuk Zera tiba-tiba sembari menutup laptop di hadapannya. 


 Rin dan Gray kompak mengembuskan napas lelah sambil menurunkan layar monitor laptop di hadapan mereka. Zera benar, ruangan ini semakin mencekam saja tanpa kedua rekannya itu. 

 

“Pengen bolos, tapi jam ketiga gue ada UTS, Ra,” sahut Rin seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.

 

“Lo gimana, Gray? Kalau gak ada kegiatan kita bolos jenguk Atan, yuk!”


 Gray menggeleng samar sembari mengusap wajah dengan kedua tangannya. “Lagi gak minat mau ngapa-ngapain, Ra. Bawaannya pengen cepat pulang dan tidur,” jawab Gray jujur. 

 

Vanya yang sudah hampir tiga hari ini mengikuti Gray, mendengkus singkat mendengar ucapan pemuda itu. Vanya pun melayang mendekati Gray, lalu ia menyentuh pundak Gray dan mulai memijatnya pelan. 

 

“Makanya, Bu. Sebelum tidur itu baca doa, biar gak denger suara tangisannya Si Mbak Kunti,” ujar Vanya mengingatkan. 


 Ya, Karena kakek lagi-lagi ada urusan di luar rumah, tadi malam Gray tak bisa tidur karena suara tangis Kuntilanak di pohon rambutan seberang rumahnya. Vanya tahu hal tersebut, karena tiga hari ini dia sudah diizinkan tinggal di kediaman pemuda itu. Jadi, semua yang terjadi pada Gray tentu saja ia ketahui. 


  “Guys, kalau gue bilang di ruangan kita ini ada hantunya gimana? Kalian takut nggak?” tanya Gray tiba-tiba. Sontak membuat Rin dan Zera mengambil posisi duduk di kursi sisi kiri dan kanan pemuda itu. 


 Vanya terkekeh melihat reaksi para rekan Gray. “Gue bukan hantu, Bu!” protes Vanya sembari mengetuk pelan kepala pemuda itu.

 

 “Lo jangan nakutin kita, deh, Gray! Gue percaya lo bisa lihat hal kayak gituan, tapi itu bukan Bima, kan?” tanya Zera sembari semakin merapat ke pemuda itu. 


 Gray terkekeh melihat reaksi para rekannya. “Bima gak bakalan jadi hantu. Dia udah tenang di alam sana.” 


 “Tapi beneren, deh! Gue mendadak merinding. Tengkuk gue kayak ada yang niup gitu.” Rin bergidik ngeri sambil mengusap tengkuknya. 


 Gray menoleh ke belakang. Si gadis astral itu berulah, dengan polosnya Vanya meniup tengkuk Rin sambil terkikik geli. 


 “Tuh! Ada yang niup, Rin!” Akhirnya Gray bisa tertawa lepas ketika melihat Rin meloncat ketakutan dari kursi sambil berteriak histeris.

 

“Gray! Jangan macem-macem, deh!” teriak Rin jengkel sambil mengedarkan   pandang ke seluruh ruang redaksi. 


  Vanya ikut terkikik geli melihat reaksi sahabat Gray itu. 


“Santai, Rin! Gue bercanda, kok!” kata Gray masih dengan kekekhannya. 


Zera menyikut cukup kuat lengan pemuda di sampingnya itu. “Bercanda lo gak lucu, sumpah! Gue nyaris jantungan, kampr*t!” maki Zera kesal. 


“Tapi gue seriusan, loh! Di ruang kita ada makhluk astralnya,” ujar Gray kalem sembari memasukkan laptop ke tasnya.

 

Rin dan Zera menatap horror ke arah Gray. Kedua gadis itu kompak mengambil sepidol di atas meja dan bersiap untuk melempar pemuda itu. 


“Eh, tunggu dulu! Seriusan! Gue nggak bohong!” kata Gray sembari berusaha melompat dari kursinya. Pemuda itu berkelit sambil terbahak menghindari kejaran kedua sahabatnya. 


 “Akhhh!!” 


Suara jeritan melengking seseorang menghentikan aksi kejar mengejar mereka. Gray, Rin, dan Zera serta Vanya kompak menoleh ke arah sumber suara. Hampir seluruh siswa dan siswi Gema Nusa berhamburan keluar kelas menuju lapangan upacara. 


Gray, Rin, Zera dan Vanya yang berada di koridor lantai dua, menatap dengan dahi berkerut ke arah kerumunan para siswa di lapangan upacara. Semua berteriak panik sembari memanggil-manggil nama seseorang dengan pandangan ke atas. Gray sontak mengikuti arah pandang kerumunan siswa di lapangan.


Ternyata di lantai lima, ada seorang siswa tengah berdiri di luar sekat pembatas balkon sembari merentangkan kedua tangannya. Gray melotot tak percaya melihat hal itu. Gumpalan aura hitam perlahan menguar dari tubuh siswa tersebut. 


“Gray! Itu ... itu Kak Adnan!” teriak Zera histeris ketika menyadari siapa yang berada di atas sana. 


“Iya, Gray! Itu Kak Adnan!” Rin ikutan panik sambil menggoyang lengan pemuda di sampingnya itu. 


Di tengah teriakan para siswa di lapangan upacara. Gray masih bergeming di tempat dengan  mata terfokus menatap ke arah Adnan, wakil ketua jurnalistik.  Aura hitam yang menyelimuti pemuda itu tampak berbeda dari tanda kematian yang Gray lihat pada diri Bima tempo hari. 


  Pemuda itu seperti kehilangan akal sehat, tatapan matanya kosong dan wajahnya pusat pasih. Telinganya seakan tuli dengan teriakan para siswa di lapangan upacara yang memintanya segera turun dari atas sana. Adnan persis seperti orang yang sedang di kendalikan oleh sesuatu. 

 

Vanya yang melihat Gray tak ada pergerakkan, secara refleks tangannya menggenggam erat tangan Gray. Sontak pemuda itu tersadar dari rasa keterkejutannya.  Gray menatap Vanya sekilas, lalu memberi isyarat pada gadis astral itu agar Vanya berada di belakangnya. 

 

Gray meningkatkan kewaspadaannya sembari menatap intens ke arah Adnan. Gray merasakan tekanan energi jahat yang begitu kuat kian mendekatinya. Pemuda itu mengeratkan genggangamnya pada tangan Vanya. 


Gray takut ini bukan makhluk astral biasa, sebab hawanya sangat berbeda dari makhluk astral yang pernah pemuda itu temui sebelumnya. 


“Adnan! Lo ngapain di sana?!” Teriakan seorang gadis yang tak asing lagi bagi Gray dan rekannya menggema. 


Itu Kak Malika, gadis berhijab itu terengah-engah berlari ke arah Gray dan para rekannya. 


“Kak Adnan kenapa, sih, Kak?!” tanya Rin sembari sembari mulai merinding melihat Adnan di atas sana.


“Adnan beberapa hari ini bersikap aneh, Rin! Gue gak tau dia kenapa. Tadi di kelas dia permisi ke toilet, gak taunya jadi heboh kayak gini!” jelas Malika seraya menyeka keringat di dahinya. 


“Toilet di mana, Kak?” tanya Gray mulai curiga. Pasalnya Gray tahu, di beberapa toilet Gema Nusa memang memiliki penunggu yang berbeda-beda. Ada empat toilet yang pemuda itu ketahui memiliki penunggu dengan energi jahat begitu kuat. 


“Gue gak tau, Gray! Tuh anak aneh banget beberapa hari ini. Dia sering bergumam sendiri, terus dia juga ngomong sama udara kosong. Adnan di kelas jadi sering gak fokus, Gray!” jawab Malika panik dengan mata menatap penuh kekhawatiran pada Adnan di atas sana. 


Gray mengembuskan napas singkat dan beralih melongok kepalanya ke bawah. “Pak Arman! Ambil matras, Pak!” teriak Gray melengking ke arah sekumpulan siswa Gema Nusa di lapangan upacara.

 

Gray tak mendengar respons dari guru yang ia teriaki tadi. Yang jelas, Pak Arman tampak memerintahkan beberapa siswa untuk mengambil matras. 


“Rin, Zera, Kak Malika. Kalian ke bawah, bantu yang persiapkan matras. Gue bakal coba bujuk Kak Adnan biar pergi dari situ.” 


“Jangan gila, Gray! Kalau Kak Adnan langsung lompat gimana?!” Zera langsung menarik lengan pemuda itu, ketika Gray hendak berlalu meninggalkan mereka. 

  

“Terus, lo pikir kita harus tontonin aja Kak Adnan sampai dia lompat?!” tanya Gray sarkastik. Vanya menatap Gray pias. Vanya sadar, Gray tengah menyembunyikan sesuatu dari para rekannya. 


“Mending kalian cepat turun sana! Bantu yang lainnya!” teriak Gray pada rekannya sebelum berlari menuju tangga. 


“Abu! Lo lihat sesuatu, kan?!” Vanya bertanya setengah berteriak, di sela-sela usahanya mensejajarkan posisi di samping Gray yang tengah berlari.

 

Gray menoleh singkat ke arah Vanya, lalu pemuda itu kembali memfokuskan pandang ke depan sembari menambah laju larinya. “Itu bukan tanda kematian, Van!” jawab Gray sembari menghentikan langkahnya di anak tangga pertama menuju lantai tiga.  


Vanya mengernyitkan dahi mendengar jawaban dari pemuda itu. “Maksud lo?” 


“Itu lebih berbahaya dari tanda-tanda kematian,” jelas Gray sambil mengusap peluh di dahi dengan tangannya. 


Beberapa saat yang lalu, Gray menyadari bahwa energi jahat yang ia rasakan tadi, memang benar bukan dari makhluk astral biasa. Aura yang menguar dari tubuh Adnan pun bukan tanda-tanda kematian, melainkan tanda yang lebih mengerikan dari tanda kematian.


 “Apa itu, Bu?”


“Jiwa Kak Adnan dalam bahaya. Ada jin kelas atas yang mencoba melahap jiwa dan mengambil alih tubuhnya.”

 

“Kok, lo bisa yakin, itu jin kelas atas, Bu?” tanya Vanya semakin bingung.

 

Gray berdecak singkat mendengar pertanyaan Vanya. Tak ada waktu baginya untuk bercerita mengenai alasannya yakin bahwa Adnan, kini hampir di telan oleh pelahap jiwa. Pemuda itu memilih abai dengan pertanyaan Vanya sembari berlari cepat menaiki anak tangga. 


***

Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seventh Sense [EP.01]

SEVENTH SENSE