Seventh Sense [EP.13]
[EP.13 - Keep Smile, Abu!]
Usai dari pemakaman dan mengganti baju, Gray memberanikan diri berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk keadaan Atan. Vanya ikut bersamanya. Gadis astral itu bungkam karena Gray sama sekali tidak mengajaknya berbicara. Vanya tahu, suasana hati Gray sedang tidak baik-baik saja setelah kehilangan seorang sahabat.
“Abu, senyum, dong! Gue tau lo lagi berduka, tapi lo harus tetap kuat dong,” ujar Vanya di sela-sela perjalanan mereka menuju ruang rawat Atan.
“Hati gue sedang sakit, Van. Gak ada alasan buat gue untuk tersenyum di saat seperti ini,” jawab Gray tanpa menoleh pada gadis astral di sampingnya.
Vanya mengembuskan napas singkat mendengar respons dari pemuda itu. Setelah menaiki lift ke lantai tiga, akhirnya Gray dan Vanya tiba di depan ruang rawat Atan.
Aura mencekam dari energi jahat makhluk astral yang berdomisili di rumah sakit medika membuat Gray meningkatkan kewaspadaannya, terlebih saat ini ia sedang bersama Vanya. Gray tak ingin Vanya atau pun dirinya terluka karena serangan makhluk astral. Untuk itu sebelum masuk ke ruang rawat Atan, Gray menggenggam erat tangan gadis astral itu.
Energi spiritual mereka memang berlawanan, tetapi dengan cara itu tanpa sadar mereka saling melindungi satu sama lain. Energi spritual milik Gray dan Vanya yang saling bertemu itu, tanpa sadar membentuk kubah tak kasat mata yang melindungi mereka berdua.
Lagi-lagi hati Gray terasa tersayat begitu milhat Atan yang tengah terbaring di brankar. Perban membalut kepala, penyangga leher, masker oksigen, dan masih banyak alat medis lainnya yang melekat pada tubuh Atan. Mata Gray memerah melihat hal tersebut. Kondisi Atan cukup parah dengan empat luka tusuk di bagian perut. Dari yang Gray dengar, Atan sudah dua kali menjalani operasi.
“Tan ... kenapa bisa kayak gini, Tan?” Gray bergumam lirih di samping pemuda yang kini terbaring di brankar itu.
“Lo harus sembuh, ya, Tan. Lo harus kuat! Lo gak boleh ninggalin kita semua!” Gray tak kuasa menahannya, air mata itu kembali luruh membasahi wajahnya.
Vanya menggenggam erat tangan Gray. Mata gadis astral itu juga ikut berkaca-kaca. Perasaan Gray seolah-seolah dapat ia rasakan. Vanya ikut merasa sedih melihat Gray seperti ini.
Pintu masuk ruang rawat Atan berderit, sontak Gray mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Rin dan Zera yang masih menggunakan baju serba hitam masuk ke ruang rawat Atan. Gray berdiri dan berjalan mendekati kedua sahabatnya. Kedua gadis itu kembali terisak ketika mengingat perkataan Gray kemarin sore.
Gray memeluk kedua gadis itu. Berusaha menguatkan para sahabatnya agar tetap tegar dalam situasi ini. “Rin, Zera. Udah! Kalian jangan nangis lagi,” ucap Gray sembari menepuk pelan pundak kedua sahabatnya.
“Gue nggak nyangka, Gray! Bima ninggalin kita secapat ini! Dan Atan, dia sekarang lagi berjuang untuk bertahan hidup. Gue nggak mau kehilangan teman lagi, Gray.” Rin semakin terisak, begitu juga dengan Zera, gadis itu tak dapat berkata selain terisak pilu.
“Atan nggak akan ninggalin kita. Atan kuat! Dia pasti bakal ketawa bareng kita lagi.”
Gray tak kuasa, ia ikut menangis kala momen kebersamaan mereka lagi-lagi menari di ingatannya.
“Sore itu lo berkata jujur, ‘kan, Gray? Tentang lo yang bisa lihat kematian. Sekarang gue tau alasannya, kenapa lo natap Bima aneh waktu itu. Lo lihat ‘itu’, kan?” tanya Rin masih dengan isak tangisnya. Gray hanya berdehem menjawab pertanyaan Rin.
“Gue lihat, Rin ... gue pengen jujur sama kalian, tapi kalian gak ada yang percaya sama gue.”
“Sekarang gue percaya, Gray. Tapi tanda-tanda kematian yang lo maksud gak ada di diri Atan, kan?” tanya Zera memastikan.
Gray menggeleng samar. “Nggak ada, Ra. Gue yakin, Atan pasti bakal sembuh.”
Mereka pun mengurai pelukan. Gray menepuk pelan pundak kedua sahabatnya sembari berusaha tersenyum menenangkan. “Kita gak boleh nangis. Bima nggak akan senang lihat kita kayak gini. Kita harus doain Bima dan doain Atan, semoga dia lekas sembuh.”
Kedua gadis itu mengangguk singkat seraya menghapus sisa-sisa air mata di wajah. Vanya yang melihat betapa kentalnya persahabatan mereka, merasa terharu. Bahkan gadis astral itu juga ikut menitikan air matanya. Vanya tak menyangka Gray sangat menyayangi sahabat-sahabatnya.
“Nyokap gue ada di rumahnya, Bima, ‘kan?” tanya Gray mengingat kedua gadis ini baru saja dari kediaman Bima.
“Tante Lila dan Om Gabriel baru aja dateng tadi, pas gue sama Rin pamit mau jenguk Atan,” jawab Zera, Gray mengangguk singkat mendengarnya.
Mereka bertiga pun memilih duduk di sofa panjang di sudut ruang rawat Atan, Vanya ikut dan duduk di sebelah Gray.
“Kalian berdua tau, gimana kronologi kerjadiannya?” tanya Gray memecah keheningan.
Hanya Gray yang belum mengetahui bagaimana kronologi kejadian itu, pasalnya setelah mendengar kematian Bima, Gray langsung berlari ke rumah duka tanpa mendengar penjelasan dari Rin.
“Karena panggilan terakhir di ponsel Atan kontak gue, pihak kepolisian telepon gue, Gray. Mereka kasih tau gue, bahwa si pemilik ponsel dan temannya tak sadarkan diri di gang garuda putih. Gue panik, Gray! Gue sama Rin langsung putar balik dan pas sampai di lokasi kejadian, Bima sudah ditutup kain putih dan Atan ... seperti yang lo lihat saat ini, dia kritis.” Zera menjelaskannya sembari kembali terisak.
“Dari keterangan polisi, Bima mengelami geger otak berat, dan kehilangan banyak darah karena enam luka tusuk di perutnya,” lanjut Rin sambil menutup mulutnya menahan isak tangis yang siap pecah kapan saja.
“Pelakunya gimana? Apa mereka sudah tertangkap?”
“Mereka tertangkap di lokasi kejadian, Gray. Sekarang mereka di bawa ke Polres Jakarta Selatan untuk investigasi lebih lanjut.”
Tangan Gray terkepal keras mendengar hal tersebut. Pemuda itu bangkit dari duduknya dan menghampiri Atan sejenak. “Gue pamit bentar, Tan. Gue mau lihat orang-orang yang sudah buat kalian kayak gini. Cepat sembuh, Bro.”
“Rin, Zera. Jangan kasih tau nyokap bokap gue, ya, kalau gue ke polres,” pesan pemuda itu, sebelum berlalu meninggalkan ruang rawat Atan dan tentu saja Vanya membuntutinya dari belakang.
“Bu, lo mau ngapain ke polres? Jangan macem-macem, ya. Gue takut lo bakal ngamuk di sana!” ujar Vanya mengingatkan, sambil menarik-narik ujung baju yang pemuda itu kenakan.
Gray tak menggubris ucapan Vanya. Pemuda itu malah menggenggam erat tangan gadis astral itu. Sorot mata Gray saat ini benar-benar tak bersahabat, Vanya takut jika dia sampai menyulut emosi pemuda itu. Jadi, Vanya memilih bungkam saja setelah Gray menggenggam tangannya.
Meskipun Vanya kini hanyalah makhluk astral, tentu saja dia masih mempunyai rasa takut. Oleh karen itu, Vanya memeluk erat pinggang Gray ketika pemuda itu mengendarai ninja birunya diatas kecepatan rata-rata.
“Bu! Gue gak mau mati beneran! Santai aja bawa motornya, bisa nggak, sih?!” Gadis astral itu berteriak histeris ketakutan.
Gray tak mengindahkan teriakan gadis astral di belakangnya. Hati pemuda itu kini diselimuti amarah yang begitu membuncah. Rasanya Gray ingin cepat sampai ke kantor polisi, untuk menghajar para pelaku yang telah membunuh dan melukai sahabatnya.
Gray semakin meningkatkan laju ninja birunya, membuat Vanya mau tak mau tambah erat memeluk pinggang pemuda itu sembari memejamkan mata. Jika jantungnya masih bisa berdetak dalam wujud astral seperti ini, mungkin Vanya sudah mengalami serangan jantung detik di mana Gray melajukan ninja birunya.
Ciitt.
Tiba-tiba Gray menghentikan laju ninja birunya di pinggir jembatan. Kontan Vanya mengembuskan napas lega ketika ia merasa kendaraan yang dinaikinya ini terhenti.
“Lo mau buat gue mati beneran, Bu? Tega banget lo! Kalau jantung gue masih bisa berdetak dalam wujud ini, mungkin gue udah serangan jantung dari tadi!” omel Vanya setengah jengkel. Namun, tangannya tak lepas memeluk pinggang pemuda si pengendara ninja biru ini.
Di balik helm, Gray mengucap istighfar berkali-kali sembari mengontrol pernapasannya. Tangan pemuda itu refleks memegang punggung tangan Vanya yang berada di perutnya. Hawa dingin menyapa kulit tangan Gray, hingga membuat pemuda itu sedikit merasa nyaman dan terkendali.
“Sorry, Van. Sorry udah buat lo takut,” gumam Gray pelan.
Pemuda itu melepas helm dan mencoba menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Emosi hampir menelan jiwanya jika ia tidak cepat mengingat Sang Pencipta.
“Gue tau lo lagi sedih dan marah, Bu, tapi cara lo bawa motor tadi benar-benar kayak mau bunuh diri, Bu ... lo gak mikirin kedua orang tua lo kalau lo kenapa-napa?” Vanya melepas pelukannya dan melayang ke depan pemuda itu.
Kedua tangan gadis astral itu menangkup wajah Gray sembari tersenyum simpul. Gray bergeming dengan tatapan datar. Kedua tangan Vanya benar-benar mampu membuat Gray merasa tenang dan nyaman.
“Lo boleh sedih, lo boleh marah, dan boleh mencaci sepuasnya, Bu! Tapi jangan nyiksa batin sendiri. Lo bisa stress dan kehilangan kendali nantinya. Gue tau tujuan lo ke kantor polisi mau ngapain, lebih baik lo urungkan niat itu sekarang. Karena sejatinya balas dendam akan terus melahirkan dendam lainnya, Bu. Hidup dengan dendam gak bakalan bisa buat lo tenang.”
Gray masih bungkam, tapi telinganya mendengar dengan jelas apa yang gadis astral itu katakan.
“Coba lihat ke sana,” ujar Vanya sembari menolehkan kepala Gray ke arah tunjuknya.
Pemandangan sang surya yang perlahan kembali ke tempat perpaduan, menghampar indah di ufuk barat sana. Burung-burung berkicau dan berterbangan di atas permukaan air laut.
“Buang rasa sedih dan amarah lo seiring dengan tenggelamnya matahari itu, Bu! Life must go on! Kita gak perlu berlarut meratapi kepergian sahabat, kita hanya perlu berdoa agar dia tenang di alam sana.”
Gray tak tahu, sejak kapan gadis astral ini menjadi bijak dan mampu meluluh lantahkan rasa sedih dan amarahnya. Gray lebih tak tahu, sejak kapan hatinya merasa senyaman ini berada di dekat Vanya.
Vanya kembali menolehkan kepala Gray menghadap ke arahnya. Gadis astral itu kini tersenyum lebar bagai bunga tulip kuning yang bermekaran di musim semi, hangat dan menenangkan.
Kedua jari telunjuk gadis astral itu menekan kedua sudut bibir Gray dan menariknya ke atas, hingga wajah pemuda itu membentuk sebuah senyuman.
“Keep smile, Abu! Walaupun hati lo sedang berduka, jangan lupa selalu tersenyum, ya. Yakinlah, di setiap pristiwa yang lo alami, ada hikmah di balik itu semua.”
Gray melepas kedua tangan gadis astral itu dari wajahnya. Kali ini ia terkekeh pelan karena kata-kata Vanya. Senyum samar tanpa paksaan akhirnya terbit di wajah tampan pemuda itu.
“Thank you, Van! Kalau gak ada lo, hari ini mungkin gue udah lepas kendali dan berakhir di sel tahanan,” gumam Gray sembari mengacak singkat rambut gadis astral di depannya itu.
***
Bersambung

Komentar
Posting Komentar