Seventh Sense [EP.12]

 

Chapter Sebelumnya



[EP.12 - Rest In Peace]


Awan kelabu dan isak tangis mengiringi prosesi pemakaman Bima. Gray menjadi salah satu orang yang menyambut Bima ketika diturunkan ke liang lahat. Pemuda itu berusaha mati-matian meredam rasa sedihnya saat menyambut dan membaringkan jenazah Bima ke tempat peristirahatan terakhirnya.


 Isak tangis dari keluarga dan teman-teman yang ditinggalkan semakin  memilukan, ketika tanah perlahan memenuhi liang lahat. Rin dan Zera saling berpelukkan, mereka menangis bersama, menumpahkan rasa sedih atas kepergian Bima. 


 Sedangkan Gray, pemuda itu berdiri sembari merangkul pundak Ibunda Bima. Gray berusaha menenangkan wanita paruh baya yang masih terisak pilu itu. Gray tak sanggup mendengar isak tangisnya, hingga matanya pun ikut memerah dan berkaca-kaca. 


Momen bersama Bima dan anggota jurnalistik lainnya kembali hadir di ingatan Gray. Senyum serta tawa Bima masih membekas di ingatannya. Namun, kini baik Gray mau pun teman-teman yang lainnya, tak kan pernah lagi melihat senyum serta tawa dari pemuda ceria itu. 


“Tan, Tante harus kuat. Bima pasti ikutan sedih kalau Tante juga sedih. Jangan iringi kepergiannya dengan air mata, tapi kita iringi dia dengan doa, Tan.” Gray masih berusaha menenangkan ibunda Bima yang semakin terisak. Gray memeluk erat wanita yang sudah ia anggap juga sebagai ibunya itu.


“Kemarin, sebelum berangkat sekolah, Bima meluk Tante. Malamnya juga dia menyelinap ke kamar Tante, dia tidur di antara Tante dan Om, Gray. Tante nggak nyangka itu adalah momen terakhir kami bersama Bima. Berat, Gray. Cuma Bima anak Tante satu-satunya dan sekarang, dia sudah pergi ninggalin Tante,” ucap ibunda Bima di sela-sela isak tangisnya. 


Hati Gray semakin teriris mendengarnya. Andaikan ia bisa melihat kapan dan bagaimana Bima akan menemui ajal, mungkin Gray bisa menghentikan kematian itu. Gray tahu, dia bukan Tuhan yang berhak mengatur hidup dan matinya seseorang, tapi kali ini pemuda itu benar-benar mengutuk dirinya sendiri yang tak bisa berbuat apa-apa, ketika ia bisa melihat tanda-tanda kematian dari Bima.    


 “Bima orang yang baik, sholeh dan pribadi yang ceria. Saya yakin dia akan mendapatkan tempat yang nyaman di sisi-Nya. Kita hanya perlu berdoa, Tan. Iringi dia dengan untaian doa, karena saat ini Bima membutuhkan itu untuk mempermudahnya di alam sana.”


Ibunda Bima mengangguk samar. Mata wanita paruh  baya itu kini beralih menatap nanar nisan kayu bertuliskan nama anaknya. Senyum samar terbit di wajahnya. Wanita paruh baya itu berusaha menguatkan hatinya, berusaha untuk ikhlas melepas kepergian Bima. 


“Mama sayang kamu, Bim. Selamat jalan, Nak. Sampai kapan pun kamu takkan tergantikan. Kamu tetap kebanggan mama dan papa, Bim,” ujar Ibunda Bima lirih. Gray yang berada di dekatnya tentu saja mendengar apa yang ibunda Bima katakan. 


Pertahanan Gray akhirnya hancur, air mata yang berusaha ia tahan sedari tadi luruh begitu saja. Gundukkan tanah bernisan kayu itu kini sudah bertabur bunga. Gray tak kuasa melihatnya. Bima adalah sosok berarti bagi Gray, sosok sahabat yang sudah merangkap sebagai saudranya. Begitu juga Rin, Zera, dan Atan. Ikatan kelima muda-mudi itu tidak lagi sebatas kata teman, melainkan kental bagai persaudaraan. 


Mereka selalu meliput berita olahraga bersama, tertawa bersama, mengeluh bersama, bahkan pernah tidur bersama di stadion olahraga yang terkunci. Semua kenangan itu kembali hadir di benak Gray, Rin dan Zera. Semua merasa kehilangan.  


Prosesi pemakaman pun ditutup dengan doa bersama yang dipimpin langsung oleh seorang ustadz dengan suasana khidmat dan begitu menyayat. Usai berdoa bersama, beberapa pelayat meninggalkan area pemakaman. Rin dan Zera membantu Ibunda Bima untuk pulang. Sedang Gray, pemuda itu masih bergeming di tempat.


Gray tak sanggup meninggalkan roh Bima yang masih meratap di samping makamnya sendiri. Gray berjongkok di depan makam Bima, sebelah tangannya terulur menyentuh nisan bertulis nama temannya itu. Angin bertiup semakin kencang, petir saling bersahutan di awan kelabu. Tak lama kemudian, rinai hujan pun mulai turun membasahi tanah. Kepala Gray tertunduk dan pemuda itu mulai menumpahkan rasa sedihnya. 


“Gray, hujan, kenapa lo masih di sini? Jangan tangisi gue, lo sendiri yang bilang ke nyokap gue, kalau gue perlu iringan doa bukan isak tangis. Gue mohon, pulang, Gray! Gue nggak papa, mungkin ini udah ajal gue. Gue akan berusaha terima walaupun berat,” Bima yang kini hanya sebatas roh menatap nanar ke arah Gray yang semakin terisak.


“Andaikan, Bim! Andaikan gue tahu kapan dan bagaimana detail kematian lo, mungkin gue bisa mencegah kematian itu, Bim! Sayangnya gue cuma bisa lihat tanda kematian itu semakin dekat. Maafin gue, Bim.” 


Bima tertegun, perkataan Gray mengenai kemampuan melihat tanda-tanda kematian waktu itu, kembali terngiang di ingatan Bima. Sekarang Bima percaya, Gray benar-benar bisa melihat tanda-tanda kematian seseorang. Pantas saja waktu itu Gray menatapnya dengan tatapan aneh. 


“Jadi beneran, Gray? Lo bisa lihat tanda-tanda kematian seseorang? Berarti sore itu lo lihat tanda itu di diri gue, ‘kan? Makanya lo lihatin gue terus,” kata Bima sembari tersenyum sendu melihat nisan kayu bertuliskan namanya. 


“Pasti berat, ya, Gray, punya kemampuan kayak gitu. Lo aja kesulitan mau kasih tau kita yang sebenarnya. Sekarang gue percaya lo punya kemampuan itu, tapi lo gak perlu nyiksa diri kayak gini, Gray. Lo jangan nyalahin diri sendiri, gue mati karena memang sudah waktunya.” Bima berusaha tersenyum sembari menatap Gray yang masih terisak di depannya. 


    Gray menghapus air mata dengan kedua tangannya. Tubuhnya setengah menggigil karena air hujan kini telah membasahi seluruh tubuhnya. Perlahan Gray mendongak dan kedua netranya langsung menatap sendu ke arah Bima yang berada di depannya.


Refleks, Bima mengernyitkan dahi ketika matanya beradu pandang dengan mata Gray. Pemuda yang kini hanya sebatas roh itu terkejut karena Gray benar-benar menatap tepat ke matanya. 


“Gray ... jangan bilang, lo beneran bisa melihat apa yang manusia biasa gak bisa lihat?” tanya Bima memastikan. 


Gray mengangguk samar sembari berdehem singkat sebagai jawaban dari pertanyaan Bima. “Gue bisa lihat lo, Bim. Bahkan gue juga bisa nyentuh lo,” ujar Gray sambil menepuk pelan bahu Bima. 


Bima tentu saja kaget. Rekannya selama ini ternyata memiliki kemampuan di luar nalar manusia biasa. “Se—sejak kapan lo punya kemampuan kayak gini, Gray?” 


“Gue sendiri gak tau. Mungkin sejak lahir, yang pasti kemampuan ini benar-benar sebuah kutukan, Bim! Percuma, karena gue cuma bisa lihat tanda kematian, bukan kapan dan bagaimana cara orang itu mati. Kemampuan ini gak berguna sama sekali, Bim.” Lagi-lagi Gray tertunduk sedih. Air matanya kembali luruh begitu saja. 


  Bima tersenyum getir mendengarnya. “Hei! Lo kenapa cengeng gini, sih? Lo kayak bukan Gray yang gue kenal! Udah, ah! Lo punya kemampuan, itu artinya lo istimewa, Gray! Coba lihat dan nilai dari sudut pandang yang berbeda. Karena kemampuan lo ini, bahkan sekarang lo bisa lihat gue, ‘kan? Gue tenang, Gray! Gue tenang karena ada seorang sahabat yang bisa lihat gue dalam wujud seperti ini. Jujur, gue takut, Gray.”


“Ada hal yang ingin lo lakuin, Bim? Kalau ada, kasih tau ke gue. Gue bakal berusaha bantu untuk mewujudkan apa yang ingin lo lakuin.” 


  Bima menggeleng samar sembari balas menepuk pundak sahabatnya itu. “Gue gak mau bikin sahabat gue repot, Gray. Lo bisa lihat gue aja, gue udah bersyukur dan berterima kasih. Setidaknya sebelum gue benar-benar pergi, ada yang nemenin gue di sini.”


“Nggak! Gue maksa! Pokoknya lo harus bilang ke gue, apa hal yang pengen lo lakuin, Bim! Setidaknya gue bisa kasih lo kesempatan untuk lakuin hal itu!”


“Gue minta satu hal aja sama lo, Gray. Tolong sering-sering berkunjung ke rumah gue, ya. Temenin mama. Gue takut mama bakal terus meratapi kepergian gue. Gue juga takut kondisi papa bakal tambah buruk.”


Gray berdehem dengan air mata mengalir. Pemuda itu berusaha sekuat mungkin menahan isakkannya. “Itu pasti, Bim. Tante Aya dan Om Lukman sudah seperti kedua orang tua gue sendiri, Bim. Mereka yang sering rawat gue wakut kecil, tanpa lo minta sekali pun, gue bakal sering berkunjung ke rumah lo, Bim.” 


Ya, sewaktu Gray masih kecil, kerena kesibukan kedua orang tuanya ia sering dititipkan ke rumah orang tua Bima. Kedua orang tua mereka berteman dengan baik. Di sanalah Gray bertemu Bima, Bima adalah teman pertama yang ia miliki.    


Bima mengangguk sendu kala mendengarnya. “Thank you, Gray. Titip mama dan papa gue, ya. Titip Rin, Zera dan juga Atan. Kalian sahabat ter-the best yang pernah gue punya. Gue sayang kalian, Gray. Sampai jumpa ... sahabat.”


“Beristirahatlah dengan tenang, Bim. Semoga kelak kita bisa bertemu lagi,” gumam Gray sembari menatap udara kosong di depannya. Air mata masih setia mengalir membasahi wajah pemuda itu. 


Beberapa detik yang lalu, usai mengatakan pesan terakhirnya, roh Bima menghilang sepenuhnya dari pandangan Gray.


“Selamat jalan ... Bima.” 


***

Bersambung

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seventh Sense [EP.01]

SEVENTH SENSE