Seventh Sense [EP.11]
[EP.11 - Obituary]
“Denger-denger, sih, katanya dia koma. Lukanya cukup parah,” sahut Bima.
Gara-gara mengetahui identitas si gadis astral yang bersamanya tadi malam, Gray nyaris lupa bahwa saat ini aura hitam di tubuh Bima semakin pekat dan membesar. Gray semakin menyadari hal tersebut sebagai pertanda kematian Bima sudah sangat dekat.
Hening. Gray menatap Bima yang kini tidak lagi dapat ia lihat wajahnya. “Kenapa lo liatin gue gitu, sih? Gue emang ganteng! Jangan sirik, yak,” kata Bima yang merasa heran sendiri dengan sikap aneh rekannya itu.
“Guys, gue mau jujur sama kalian, nih!” kata Gray tiba-tiba.
Keempat rekan tim jurnalistik pemuda itu, sontak menghentikan aktivitas masing-masing dan mengalihkan fokus padanya. Gray berdehem singkat, mencoba mengatur pernapasannya dan menguatkan mental, untuk menceritakan mengenai kemampuan yang ia miliki kepada keempat rekannya ini.
“Kalian percaya nggak, kalau gue bisa melihat apa yang nggak bisa kalian lihat?” Gray mengawalinya dengan sebuah kalimat pertanyaan.
Atan yang mendengar nada bicara serius dari Gray, mulai kembali ke tempat duduk asalnya. Baik Zera maupun Rin, kedua gadis itu mendadak merinding tanpa sebab.
“Gray! Jangan bercanda, deh! Gue merinding, nih!” Zera merapatkan jaket yang ia kenakan dan mulai memindai secara waspada ke sekitarnya.
“Gue serius, gak hanya bisa lihat makhluk astral. Gue juga bisa lihat tanda-tanda kematian dari seseorang.”
“Gray! Bercanda lo garing banget, sumpah! Lo tau gue lagi parnoan, masih aja ngomongin hal yang gak masuk akal!” Atan berkata dengan nada kesalnya sembari menggosok-gosok lengannya yang mendadak dingin.
Sedangkan Rin, gadis itu bungkam. Matanya menatap Gray dan Bima bergantian. Rin sadar, ada hal aneh dari cara pandang Gray ke Bima yang sempat ia amati tadi. Ketika mendengar hal ini keluar langsung dari mulut Gray, nyaris Rin langsung ingin mempercayai ucapan pemuda itu.
“Oke, lupakan!” Gray menghela napas singkat melihat ekspresi ketakutan dari para rekannya.
“Misalkan aja, nih! Gue punya kemampuan bisa melihat kalau kematian kalian itu udah deket. Terus, gue kasih tau ke kalian. Apa yang bakal kalian lakuin menjelang kematian itu datang?” Kali ini Gray bertanya dengan bercanda agar suasana tidak terlalu tegang.
“Ya, gue bakal banyakin amal ibadah dan minta maaf ke orang tua!” sahut Zera spontan. “Tapi, kenapa lo nanyain ini, sih, Gray? Bikin merinding aja tau!” Zera mendadak jengkel dengan topik pembicaraan yang menurutnya tidak masuk akal ini.
Gray tak menanggapi komentar Zera, pemuda itu sengaja mengalihkan pandang ke arah Bima. “Kalau lo, Bim? Apa yang bakal lo lakuin sebelum kematian itu datang?”
Pertanyaan Gray membuat Rin semakin yakin, bahwa apa yang Gray katakan sebelumnya mengenai memiliki kemampuan melihat tanda kematian seseorang benar adanya.
“Gue gak muluk-muluk amat, sih. Pertama, gue bakal ungkapin rasa sayang gue ke nyokap dan bokap. Kedua, sebelum ajal datang menjemput, gue juga pengen ngutarain perasaan gue ke orang yang selama ini gue taksir,” jawab Bima jujur sembil terkekeh pelan.
“Udah, ah! Kenapa malah bahas kematian, sih?! Udah hampir Magrib. Yuk, pulang!” seru Atan tiba-tiba yang langsung diangguki oleh Zera tentunya.
“Bener! Gue paling gak suka ngomongin soal kematian, mending pulang aja, yuk!”
Lagi-lagi Gray kehilangan kata-kata ketika mendengar respons para rekannya. Ini yang Gray takutkan, mereka pasti tidak akan percaya dengan apa yang ia katakan. Gray hanya bungkam saat melihat para rekannya beranjak dari duduk.
“Kami cabut dulu, Pak! Nanti kalau perlu apa-apa chat aja, ya. See you,” pamit Atan sembari melambaikan tanganya pada Gray.
Gray ikut beranjak dari duduk mengantar para rekannya sampai ke pintu keluar. Pemuda itu masih menatap sendu ke arah gumpalan aura hitam yang menyelimuti Bima. Sementara Rin, gadis itu sebenarnya ragu untuk pulang lebih awal, sebab ia masih penasaran. Apa yang sebenarnya ingin Gray katakan.
“Hati-hati, Guys! Manfaatkan waktu kalian sebaik mungkin, ya,” ujar Gray sembari mencoba mengulas senyum simpul kepada para rekannya.
“Dari tadi bahasa lo bikin gue merinding mulu! Gue getok juga, nih!” kata Atan kesal sembari naik ke jok motornya.
“Bawa motornya pelan-pelan aja, Tan. Udah Magrib, bahaya,” peringat Gray ketika ia melihat Bima naik ke jok belakang motor Atan.
Atan hanya berdehem singkat sambil memasang helmnya. Rin dan Zera, kedua gadis itu sudah terlebih dahulu meninggalkan pekarangan rumah Gray. Setelah membunyikan klakson singkat, Atan pun melajukan motor meticnya.
“Gue harap, semoga besok gue masih bisa lihat lo ketawa di ruang redaksi, Bim,” gumam Gray sembari mengusap wajah dengan kedua tangannya.
Baru saja Gray hendak menutup pintu, gerakkan tangannya langsung terhenti, ketika melihat sosok yang sudah tak asing lagi menembus kubah gaib pelindung rumahnya. Itu si gadis astral yang beberapa saat lalu mereka bicarakan. Namun, kali ini ada yang aneh, Gray merasakan tubuhnya sedikit gemetar dengan tekanan energi jahat dari sosok gadis astral itu.
“Abu ... tolongin gue, please!” Vanya melayang mendekati Gray yang berada di ambang pintu. Gadis itu masih dalam keadaan tidak baik-baik saja, usai melihat perlakuan kasar sang papa kepada mamanya.
Gray bergeming, matanya fokus melihat aura hitam yang perlahan mulai menguar dari tubuh astral gadis itu.
“Abu! Please! Tolongin gue, gue mau hidup, gue mau balik lagi ke raga gue!” Gadis astral itu sesenggukan sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.
Gray menghela napas singkat. Gray dapat merasakan tekanan emosional yang sangat kuat dari gadis astral di depannya ini. Perlahan tangannya terangkat dan menepuk pelan pundak gadis astral itu.
“Lo kenapa nangis gini?” tanya Gray pelan.
“Gue benci ... gue benci bokap gue, Bu! Gue benci! Gue benci sama semua orang yang sudah mengkhianati gue!” Gadis astral itu menjerit histeris di sela-sela isak tangisnya. Hatinya begitu hancur ketika mengingat perlakuan kasar sang papa serta pengkhianatan yang dilakukan oleh pacar dan sahabatnya.
“Gue gak mau bikin nyokap gue tambah menderita dengan keadaan gue sekarang, Bu! Please, tolongin gue.”
Dari ucapan gadis itu Gray jadi paham, apa alasan gadis astral di depannya ini memiliki energi jahat. Tenyata ada rasa benci yang bersarang di hatinya.
“Lo tenang dulu. Jangan nangis! Rasa benci di hati bisa jadi faktor penghalang buat lo balik lagi ke raga.” Dan tanpa diduga pemuda itu membawa Vanya ke dalam dekapannya.
“Gue di sini ... gue janji bakal bantuin lo kembali lagi ke raga,” ujar Gray sembari mengelus pelan punggung gadis astral itu.
Meskipun Gray tahu energi spiritualnya dan gadis astral itu saling berlawanan, tetapi Gray sudah memantapkan hati untuk membalas budi kepada Vanya, karena tanpa sadar malam itu Vanya telah membantunya melewati maut.
Sementara Vanya, si gadis astral yang kini tengah dilanda rasa benci kepada sang papa itu. Cukup terkejut mendapat perlakuan tak terduga dari Gray. Pelukkan Gray begitu hangat dan nyaman, membuat Vanya tanpa sadar membenamkan wajah di dada bidang pemuda itu.
“Katakan, apa yang harus gue lakuin agar lo bisa kembali lagi ke raga?” tanya Gray tanpa melepas dekapannya.
“... jika kamu bisa menemukan sosok tersebut, kamu tidak boleh mengatakan padanya, bahwa dia harus mencintai kamu apa adanya. Jadi, biarkan saja dia dengan sendirinya mencintaimu tanpa kamu minta.”
Baru saja Vanya ingin mengatakan yang sebenarnya pada Gray, ucapan sang malaikat pencabut nyawa kembali terngiang di benaknya. Vanya secara cepat memutar otak, memikirkan cara agar dia bisa membuat Gray jatuh cinta padanya tanpa ia minta.
“Gue cuma perlu berada di deket lo selama 26 hari ke depan,” ujar Vanya masih dengan sesenggukan.
“Malaikat pencabut nyawa yang narik roh gue dari raga bilang. Berada di dekat seseorang yang bisa melihat gue bakal menekan perkembangan energi spiritual yang gue punya, dan setelah 26 hari, gue bakal bisa kembali lagi ke raga,” lanjut Vanya, sembari menghirup dalam aroma kayu jati dari tubuh pemuda yang tengah mendekapnya ini. Sungguh, aroma tubuh pemuda ini benar-benar membuat Vanya merasa nyaman.
Sementara Gray, pemuda itu berusaha mencerna apa yang Vanya katakan. Menurut Gray hal itu cukup mudah. Namun, Gray juga sadar, berada di dekat gadis astral ini dalam kurun waktu yang begitu lama, pasti akan membahayakan salah satu dari mereka.
“Hanya itu? Gak ada yang lainnya?” tanya Gray memastikan.
Vanya berdehem singkat sebagai respons. Gray mengurai pelukkan sembari menangkup wajah Vanya dengan kedua tangannya.
“Kalau begitu, lo boleh berada di deket gue selama 26 hari ke depan,” ujar Gray seraya menghapus sisa-sisa air mata di wajah Vanya.
Vanya tertegun mendengarnya. Jujur saja, gadis astral itu cukup kaget dengan perubahan sikap Gray. Pemuda itu tak seperti saat pertama kali mereka bertemu. Sorot mata dan tutur katanya lebih lembut dan menenangkan. Apa yang sebenarnya terjadi pada pemuda itu? Apa karena kejadian kemarin malam, pikir Vanya gamang.
“Seriusan, lo mau bantuin gue? Gimana dengan bokap lo? Gue takut dia bakal marahin dan ngusir gue lagi kayak kemarin.”
Gray tersenyum simpul sembari mengacak singkat rambut gadis astral di depannya itu. “Tenang aja. Gue udah dapat restu dari bokap gue, kok, untuk bantuin lo,” kata Gray meyakinkan.
Sontak Vanya terkekeh pelan mendengar kata ‘restu’ dari mulut pemuda itu. Gray berkata seolah-olah ia sudah mendapat restu untuk melamar dirinya.
“Nah, gitu, kan, lebih baik dari pada lo nangis, kek, tadi,” ucap Gray saat melihat gadis astral itu terekekeh. Vanya benar-benar tampak manis di matanya.
“Btw, kenapa lo mendadak berubah pikiran gini? Bukannya lo gak mau berurusan sama makhluk astral?” Gadis astral itu penasaran. Apa yang sebenarnya membuat pemuda itu bisa dengan mudah mengiyakan permintaannya.
“Jadi lo gak mau gue bantuin, nih?” Untuk saat ini Gray tidak bisa mengatakan alasan kenapa ia bisa berubah pikiran, maka dari itu Gray malah balik bertanya pada gadis astral itu.
Vanya manyun mendengar pertanyaannya malah dibalas dengan pertanyaan. “Bukan gitu! Gue heran aja, kenapa lo mau bentuin gue? Padahal kita belum saling kenal, loh!”
Gray mengernyitkan dahinya sembari menyengir lebar. “Siapa bilang? Gue kenal lo, kok! Lo Vanya, ‘kan?”
“Dari mana lo tau nama gue? Jangan-jangan sekarang lo bisa baca pikiran makhluk halus juga, ya?” tuding Vanya sembari memecingkan matanya menatap penuh curiga pemuda di depannya ini.
“Lo nggak perlu tau dari mana gue tau nama lo. Yang pasti gue sekarang gue kenal sama lo. Lo salah satu siswi Bakti Mulya dan suka sesuatu yang berbau seni, terutama seni tari, iya, ‘kan?”
“Waah! Bakat lo nambah jadi stalker, yak? Gue aja gak pernah bilang ke orang-orang kalau gue suka tari, tapi kenapa lo tau, sih? Lo nyelidikin gue?”
Gray tak menggubris lagi ucapan Vanya, sebab ponsel di saku celannya berdering mendandakan sebuah panggilan masuk. Setelah melihat nama Rin tertera di layar ponsel, pemuda itu tanpa pikir panjang langsung menjawab panggilan tersebut.
“Kenapa, Rin?”
Hanya isak tangis yang terdengar dari seberang sana. “Gue percaya apa yang lo katakan, Gray ... Gue percaya semuanya.” Rin berujar di sela-sela isak tangisnya.
“Rin, lo kenapa nangis?” tanya Gray serius. Mendadak pemuda itu mempunyai firasat buruk. Gray hanya berharap, semoga apa yang ia pikirkan tidak terjadi.
“Atan dan Bima dibegal ... Atan sekarang kritis dan Bima ... dia ... dia meninggal di tempat, Gray.” Setelah mengatakan hal itu suara tangis Rin semakin menjadi di seberang sana.
Tubuh Gray menegang seketika. Firasatnya benar dan itu sudah terealisasikan kala mendengar pernyataan dari Rin. Sejenak Gray merasa oksigen menipis di sekitarnya. Pemuda itu nyaris lupa untuk bernapas kala mendengar berita duka itu.
***
Bersambung

Komentar
Posting Komentar