Seventh Sense [EP.10]
[EP.10 - The Identity]
Vanya hanya bisa menatap nanar rumahnya dari kejauhan. Gadis astral itu tak sanggup untuk pulang dalam wujud seperti ini. Dadanya terasa sesak setiap kali ia mengingat percakapan terkahir kalinya dengan ayah Gray, Vanya merasa bersalah atas terbukanya segel indra ketujuh milik pemuda itu.
Vanya pun semakin frustrasi, ketika menyadari kesempatannya untuk bertemu orang lain yang bisa melihatnya sangatlah sulit. Gadis astral itu bahkan nyaris patah semangat dan berkali-kali ia ingin menangis meluapkan segala kegundahan hatinya. Namun, selalu gagal, air matanya tak kunjung keluar.
Gadis astral itu perlahan melayang mendekati rumahnya. Seorang pria paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah papanya, baru saja keluar dari rumah tersebut sembari menggeret koper hitam berukuran cukup besar.
Vanya mengernyitkan dahi ketika melihat mamanya mengejar papa dengan susah payah. Wanita paruh baya itu terisak sembari menahan lengan papa yang hendak membuka pintu mobil. Namun, tangan wanita paruh baya itu ditepis begitu saja.
“Papa,” lirih Vanya sembari menutup mulutnya ketika melihat perlakuan kasar papa terhadap mamanya.
“Saya tidak ingin lagi berurusan dengan kalian! Mulai hari ini kamu resmi saya ceraikan,” ujar papa sarkas sembari memasukan kopernya ke dalam bagasi.
Vanya tertegun mendengar penuturan papa. Dadanya sakit, sangat sakit. Vanya ingin berlari ke mama dan memeluk wanita paruh baya itu yang kini bersimpuh di atas tanah dengan isak pilunya. Vanya tak menyangka, papa menceraikan mama tepat di depan mata kepalanya.
“Mas! Harus dengan apa aku membayar pengobatan Vanya, Mas! Anak kita sedang koma di rumah sakit,” lirih wanita paruh baya itu di sela-sela isak tangisnya.
“Kamu, Vano dan Vanya itu adalah sebuah keselahan terbesar dalam hidup saya! Bahkan sampai detik ini pun saya masih ragu, kalau Vanya dan Vano adalah anak saya, Nay! Masa depan saya bisa hancur jika media tahu saya punya simpanan seperti kamu! Lebih baik kita akhiri saja hubungan ini!”
Air mata itu akhirnya berhasil merembes keluar dari kedua sudut mata Vanya. Gadis itu terisak mendengar pernyataan dari papa. Pria yang ia kagumi dan cintai sepenuh hati sejak kecil, telah melukai hatinya. Sorot kasih sayang kepada mama pun tak lagi terpancar dari netra yang selalu membuatnya tenang itu. Kini hanya tinggal sorot penuh kebencian yang terpancar dari netra sang papa.
“Pa! Papa ngomong apa, Pa? Vanya dan Kak Vano anak Papa, 'kan? Iya, kan, Pa?! Kenapa Papa bilang mama wanita simpanan, Papa? Kenapa, Pa? Kenapa?!”
Vanya menjerit sembari terisak. Gadis astral itu mencoba melayang menjangkau papa yang hendak masuk ke mobil. Namun, tangannya tentu saja tidak bisa menyentuh papa. Mobil papa pun kini telah melaju meninggalkan pekarangan rumahnya.
“Pa! Papa! Jangan tinggalin mama dan kami, Pa!” Sekeras apapun gadis astral itu berteriak, takkan ada yang mendengarnya.
Hati Vanya hancur berkeping-keping, dadanya semakin sesak kala mendengar secara langsung perkataan kasar sang papa. Vanya pun bersimpuh di depan mamanya yang masih terisak. Tangan gadis astral itu terulur ingin menghapus jejak air mata di wajah mama. Namun, apalah daya, tangan astralnya sama sekali tak dapat menyentuh. Lain halnya saat ia berada di dekat Gray, gadis astral itu dapat dengan bebas menyentuh apa saja.
“Ma! Mama kenapa, Ma?!”
Teriakan seorang pemuda menyadarkan Vanya. Gadis astral itu menoleh ke arah sumber suara, netra gadis astral itu pun menangkap saudara kembarnya setengah berlari menghampiri mama dengan masih mengenakan seragam sekolah.
“Kak Vano,” lirih Vanya sesenggukan sembari bergeser ketika Vano merangkuh tubuh mamanya.
“Mama kenapa?” tanya Vano khawatir sambil mencoba membantu mamanya untuk berdiri.
Wanita paruh baya itu memilih bungkam, agar Vano tak khawatir dengan apa yang baru saja ia alami beberapa saat yang lalu. Wanita paruh baya itu menghentikan isak tangis sembari menghapus sisa-sisa air matanya.
“Mama baik-baik aja, Van. Ganti baju, gih. Kita jenguk adik kamu di rumah sakit. Kasihan dia sendirian di sana,” ujar sang mama sembari berusaha tersenyum tegar di depan Vano.
Tentu saja Vano takkan semudah itu percaya dengan senyum yang ditunjukan mamanya. Vano yakin, mama menyimpan sesuatu darinya.
“Jujur, Ma. Apa papa yang sudah buat Mama nangis kayak gini?” tanya Vano serius.
Vanya yang mendengar pertanyaan kakaknya, menggangguk sambil sesenggukan. “Papa jahat, Kak,” gumam Vanya parau sembari menghapus sisa-sisa air mata dengan kedua tangannya.
“Nggak, Van. Udah! Ganti baju sana. Mama beres-beres dulu sebentar, setelah itu baru kita ke rumah sakit, ya?” ujar mama sembari mendahuli Vano masuk ke dalam rumah.
Vano hanya bisa mengembuskan napas lelah, dengan mata menatap nanar punggung mamanya yang mulai menjauh dari pandangan.
“Jagain mama, ya, Kak. Aku juga bakal berusha untuk cari cara, agar aku bisa kembali lagi ke ragaku, Kak.”
***
“Jadi, hasil penyelidikan kalian gimana, nih? Udah dapat semua informasinya?” tanya Gray berusaha mencairkan suasana yang mendadak hening.
“Nah, gue baru inget sesuatu, nih!” seru Rin tiba-tiba sembari membuka tasnya dan mengeluarkan selembaran kertas.
“Baca sendiri, Pak. Lo bisa tenang, deh!” timpal Atan sambil beranjak dari duduknya. “Gue mau survei rumah lo bentar, yak! Perasaan gue gak enak banget sumpah! Berasa ada yang ngawasin.”
Baik Gray maupun ketiga temannya yang lain, tak ada yang merespons ucapan pemuda berkulit cokelat itu. Gray mengambil selembar kertas yang disodorokan Rin padanya.
Kertas tersebut berupa surat edaran yang dikeluarkan oleh kepala sekolah Gema Nusa. Surat itu berisi mengenai pelarangan tim jurnalistik dan seluruh siswa Gema Nusa untuk tidak ikut campur, terhadap kasus tabrak lari siswa Bakti Mulya di terminal dua lima.
“Intinya kita sudah terbebas dari tugas meliput kasus itu. Lo bisa istirahat dengan nyaman di rumah. Gak usah mikirin liputan mulu!” sahut Zera yang masih fokus membalas chat dari teman-temannya di grup whatsApp kelas.
“Terus, apa kalian sudah tau indentitas korban?” tanya Gray usai membaca surat edaran tersebut.
Pemuda itu kembali menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa, sementara matanya masih menatap penuh kegelisahan ke arah Bima.
“Udah dong! Wajahnya aja kami udah pada tau!” sahut Atan antuasias.
“Siapa namanya?” tanya Gray cepat sembari melempar pandang ke arah Atan.
“Vanya Maharani!”
“Vanya Maheswari!” koreksi Zera. Gadis itu mendelik tajam ke arah Atan yang tampak cengar-cengir.
“Sorry, typo.” Setelah itu bantalan sofa kembali melayang mengenai wajah pemuda itu. Siapa lagi pelakunya jika bukan si gadis bar-bar, Zera.
“Vanya Maheswari, anak kelas sebelas jurusan IPA. Adik dari Vano Mahendra, kapten futsal Bakti Mulya,” jelas Rin sambil melemparkan foto seorang gadis cantik yang sedang menari ke atas meja.
Merasa tak asing lagi dengan wajah gadis di foto itu, Gray langsung mengambilnya dari atas meja. Mata pemuda itu memicing menatap foto sembari memutar otaknya mengingat seseorang. Ya, Gray ingat, tak salah lagi, itu foto si gadis astral yang ia panggil Mbak Kunti 2.
“Dari mana kalian dapat foto ini?” tanya Gray penasaran.
“Dari akun facebooknya. Kalau lo tanya kenapa kami yakin itu orangnya, itu karena insial VM di list nama penonton cuma si Vanya Maheswari ini. Gue juga sempat nyusup ke grub komunitas Bakti Mulya. Mereka memang lagi heboh bahas si Vanya ini,” kata Zera menimpali. Gray mengangguk berusaha mencerna apa yang rekannya maksud.
“Di komunitas itu juga mereka banyak tag akunnya si Vanya dengan caption gws dan sebagainya. Terus, sewaktu kami cek di CCTV sekolah, memang cuma dia yang pulang tiga puluh menit setelah lo melarikan diri dari stadion,” Rin ikut melanjutkan.
“Tapi kenapa dia gak bisa nyebutin namanya?” gumam Gray pelan. Ingatannya mendadak terlampar pada momen di mana ia menanyakan nama gadis itu, tetapi Vanya tak dapat menyebutkan namanya. Ironis, ternyata gadis itulah yang sedang mereka cari identitasnya.
“Lo kenal dia, Gray?” tanya Rin ketika telinganya tak sengaja mendengar gumaman pemuda itu.
Gray menggeleng kaku sebelum merespon. “Pernah lihat, tapi gue nggak tau namanya siapa,” jawab Gray jujur dengan mata masih terfokus menatap foto Vanya.
“Gue harus cari dan tolongin dia. Tanpa Vanya, mungkin hari ini gue sudah nggak bisa bernapas lagi,” ujar Gray dalam hatinya sembari mengembuskan napas lelah.
***
Bersambung

Komentar
Posting Komentar