Seventh Sense [EP.09]

 Chapter Sebelumnya



[EP.09 – Signs of The Death]


Entah sudah berapa lama pemuda itu tertidur, yang jelas saat ia terbangun, suara ketukan dan teriakan dari pintu luar begitu mengganggu indra pendengarannya. Gray berdecak kesal ketika mendengar suara Atan dan Bima yang kian memekakkan telinga. Pemuda itu akhirnya duduk sejenak guna mengumpulkan nyawa, sebelum beranjak membukakan pintu luar. 


“Setengah jam menggedor, akhirnya Pak Abu membukakan pintu hatinya,” cibir Atan, sambil geleng-geleng kepala melihat penampilan kusut ketua tim tiga di depannya itu.


“Sorry, Guys, gue ketiduran. Ayo masuk.” 


Pemuda itu melangkah ke ruang tamu diikuti keempat temannya. Bima dan Atan paling antuasias mengedarkan pandang ke seluruh penjuru kediam Gray ini. 


“Duduk aja di mana kalian nyamannya. Minum ambil sendiri di dapur,” ujar Gray sembari menjatuhkan bokong ke sofa single ruang tamu. 


“Di rumah lo sejuk juga, ya, Gray. Aroma daun pandannya juga bikin tenang,” komentar Zera sambil duduk di sofa panjang di depan Gray. 


“Gue bawa bubur ayam, Gray. Lo mau makan sekarang nggak?” tanya Rin sembari menunjukkan kantong plastik putih berisi bubur ayam. 


“Letakkan di meja dapur aja, Rin. Tolong ambil minum juga untuk teman-teman yang lain,” jawab Gray yang hanya di balas dengan anggukan singkat dari gadis itu. Rin pun melangkah menuju dapur. 


“Gray, btw nyokap lo waktu mudanya penulis novel, kan? Boleh minjem novelnya nggak?”


Gray menoleh ke arah Bima yang baru saja bertanya, tanpa menjawab pertanyaan pemuda itu, Gray menunjuk salah satu rak buku di sudut rumahnya. 


“Mau bawa pulang juga boleh, Bim!”


Bima, si kutu buku itu mengikuti arah tunjuk Gray dan matanya berbinar melihat buku-buku tersusun rapi di rak kaca berukuran cukup besar.


 “Itu karya nyokap lo semua?” tanya Bima memastikan sembari beranjak menuju rak buku tersebut. 


“Yaps, beliau cukup sukses pada masanya,” jawab Gray singkat. 


“Gue baru tau kalau nyokap lo penulis, Gray. Gue juga minta satu novelnya, ya,” timpal Zera sembari mengikuti Bima yang beranjak menuju rak buku koleksi ibunya Gray. 


“Tumben lo diem, Tan? Lo mikirin apa, sih?” 


Gray mengernyitkan dahinya sembari menatap Atan yang tampak gelisah, tak biasanya Atan bersikap seperti itu. 


“Gak tau kenapa, Gray. Sejak masuk ke rumah lo, gue merasa seperti diawasi gitu! Bulu kuduk gue aja diri, nih!” Atan menarik lengan bajunya, memperlihatkan bulu kuduknya yang mulai berdiri. 


Sontak Gray langsung mengedarkan pandangan ke sekitarnya. Namun, ia sama sekali tidak melihat hal-hal mencurigakan.


 “Lo pasti abis nonton film horror, kan?” tuding Gray sembari melempar temannya itu menggunakan bantalan sofa.


“Atan parnoan, Gray! Dia tadi abis liat pintu lab anak kimia kebuka sendiri,” sahut Rin yang baru saja keluar dari dapur dan meletakkan jus jeruk ke atas meja. 


“Pantesan mukanya pucet dari tadi. Terus, Si Arkan, kok, gak bareng kalian? Bukannya dia tadi bilang kalian ngajakin dia bareng?” tanya Gray saat menyadari teman sebangkunya itu tidak terlihat sedari tadi.


“Arkan titip salam aja, Gray. Dia bilang neneknya di Surabaya meninggal. Pulang tadi dia langsung ke Surabaya sama nyokapnya.”


Gray tak merespons perkataan Rin, sebab bulu kuduk pemuda itu mendadak meremang seketika. Ada sebuah perasaan yang sulit untuk ia deskripsikan dengan kata-kata. Yang pasti, saat ini Gray dapat dengan jelas merasakan hawa dari tanda-tanda kematian seseorang.


Tubuh Gray mendadak gemetar. Keringat dingin membanjiri dahinya. Perasaannya semakin tidak enak dan hawa tanda-tanda kematian itu semakin kentara ia rasakan. Dengan perlahan, pemuda itu pun memandang satu per satu rekan jurnalistiknya yang ada di dalam rumahnya ini. 


Atan dan Rin yang duduk di depannya tidak menunjukkan tanda-tanda tersebut, lalu matanya pun beralih menatap intens ke arah Bima dan Zera yang sedang asik memilah-milah novel dari rak buku. 


Sontak, Gray langsung berdiri dari duduknya dengan mata melotot, ketika melihat aura hitam pekat menguar dari tubuh Bima. Aura hitam yang menguar itulah, merupakan tanda awal bahwa seseorang itu sudah dekat dengan waktu kematiannya. 


Gray bergeming di tempat. Apa yang harus ia katakan pada rekannya itu? Gray hanya akan dianggap gila jika ia mengatakan kepada Bima, bahwa pemuda itu sudah dekat dengan kematiannya.


“Bim?” panggil Gray dengan suara paraunya. 


Bima yang sedang asik membaca, hanya menoleh singkat pada Gray sembari berdehem sebagai respon. Pemuda itu pun kembali memfokuskan diri ke novel yang sedang ia baca. 


Gray tak sanggup berkata. Aura hitam pekat itu hampir menutupi seluruh tubuh Bima. Di mata Gray saja, wajah Bima sudah pucat pasih dengan mata perlahan memerah serta rambutnya yang perlahan memutih seperti uban. 


Tanda-tanda itu semakin jelas Gray lihat dan rasakan. Sementara Rin dan Atan yang melihat Gray menatap nanar ke arah Bima, merasa aneh dengan sikap pemuda itu. 


“Gray! Lo kenapa?” tegur Rin. Namun, mata pemuda itu masih fokus menatap ke arah Bima yang sesekali terbahak dengan bahan bacaanya. 


“Bima,” panggil Gray lagi. Kali ini suara Gray benar-benar gemetar melafalkan nama temannya itu. 


“Apa, sih, Gray? Gue lagi asik, nih!” seru Bima kesal tanpa menoleh pada Gray yang tengah menatapnya nanar.  


Rin yang tak mendapat respons dari Gray, semakin bingung dengan tingkah pemuda itu. Beberapa saat yang lalu, Rin dapat dengan jelas melihat kedua bola mata Gray tampak berkaca-kaca. Namun, pemuda itu dengan cepat mengusap wajah dengan kedua tangannya. 


“Guys, ngumpul dulu sini! Kita belum pernah foto bareng, nih! Foto bareng dulu, yuk!” 


Gray berusaha sekuat mungkin menekan rasa sedihnya dengan mencoba bersikap biasa-biasa saja dan ceria. Pemuda itu menjatuhkan bokongnya di antara Rin dan Atan. 


“Zera! Bima! Ayo foto dulu bentar!” Gray setengah berteriak pada kedua temannya yang sedang asik membaca itu. 


Rin dan Atan tak dapat berkomentar dengan perubahan sikap Gray. Ada yang aneh. Namun, mereka tak ingin menanyakan hal tersebut kepada yang bersangkutan. 


“Woy! Buruan sini!” teriak Gray lagi ketika tak mendapat respons dari Bima dan Zera yang semakin asik dengan dunianya sendiri. 


Sambil bersungut-sungut, Bima dan Zera pun terpaksa mengembalikan novel yang sedang mereka baca ke rak. 


“Tumben lo ngajak foto bareng? Ada apa, nih?” tanya Bima sembari menopang dagu di sandaran sofa dengan tangannya.


Gray tak menjawab pertanyaan dari Bima, pemuda itu sibuk membuka aplikasi kamera pada ponselnya. “Senyum lebar, ya, Guys,” ujar Gray sembari mengarahkan ponselnya ke depan dengan mode kamera depan.


Rin dan Atan merapat ke Gray, sedangkan Bima dan Zera berada di belakang mereka. Kelima rekan tim itu saling tersenyum lebar ke arah kamera dengan jari telunjuk dan tengah membentuk huruf V. 


Lima kali potret, akhirnya Gray dapat mengabadikan momen bersama keempat rekan tim jurnalistiknya dalam bentuk foto digital. Jujur saja, sedari Bima berada di dekat Gray, pemuda itu sudah tidak lagi melihat wajah Bima, sebab wajah rekannya itu sudah tertutupi oleh aura hitam. 


“Share ke grub kita, Gray! Gue mau upload ke ig juga, nih!” seru Zera sembari membuka ponelnya. 


Sedangkan Gray, pemuda itu mendadak terdiam sembari menatap nanar foto mereka yang berada di ponselnya. Jujur saja, Gray ingin mengatakan hal tersebut pada Bima. Namun, ia takut Bima dan temannya yang lain tidak akan mempercayai apa yang ia katakan. 


Alhasil, Gray hanya bisa bungkam sembari menguatkan hati dan mental untuk menerima apa yang akan terjadi nantinya. Diam-diam Gray mengutuk dirinya sendiri. Andaikan kemampuannya ini bisa melihat kapan dan bagaimana seseorang itu mengalami kematian, mungkin ia bisa mencegah kematian yang akan segera datang menghampiri salah satu rekannya itu.  


***


Bersambung


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Seventh Sense [EP.01]

SEVENTH SENSE