Seventh Sense [EP.08]
[EP.08 - The Real Fact]
“Karena energi spiritual kalian saling berbenturan, indra ketujuh Gray yang saya segel terbuka. Sekarang, Gray tidak hanya bisa melihat makhluk tak kasat mata, dia juga bisa melihat tanda kematian seseorang.”
Tak ada kata yang tepat untuk menggambarkan perasaan Vanya saat ini selain kalut dan terkejut, usai mendengar penuturan dari ayah Gray barusan. Pebasket yang diam-diam ia idolakan ternyata mempunya segudang fakta yang cukup untuk mengejutkan dirinya. Vanya semakin merasa bersalah akan hal itu.
Andaikan Vanya tak bertemu dengan pemuda itu, hidup Gray pasti akan baik-baik saja tanpa indra ketujuh yang baru saja telepas segelnya itu.
“Apa indra ketujuhnya tidak bisa disegel lagi, Om?” tanya Vanya hati-hati.
Pria paruh baya di depannya mengembuskan napas singkat sembari bersedekap dada, dan menyandarkan punggung ke sandaran sofa. “Indra ketujuh Gray hanya bisa disegel sebanyak tiga kali dan segel yang terbuka tadi, merupakan segel ketiga kalinya. Saat ini tidak ada yang bisa menyegel indra ketujuh yang sudah bersifat permanen itu.”
“Tapi, Om, bukannya indra ketujuh Gray ini seharusnya bermanfaat, ya, Om? Sebab kalau Gray bisa melihat tanda kematian, artinya Gray pasti bisa memperingati atau mencegah kematian seseorang itu, kan, Om?”
“Gray hanya akan dianggap orang gila, jika dia mengatakan kepada seseorang bahwa orang itu akan mati! Orang tidak akan percaya hal itu dan Gray hanya bisa melihat tanda-tanda kematian, bukan waktu pasti kematian seseorang.”
Vanya lagi-lagi dibuat tertegun mendengarnya. Jika dipikir-pikir benar juga apa yang ayah Gray itu katakan. Vanya tak sampai ke sana memikirkannya. Gadis astral itu pikir Gray akan senang bisa membantu orang untuk mencegah kematian, nyatanya pemuda itu pasti akan mengalami kesulitan menghadapi seseorang yang bisa ia lihat tanda-tanda kematiannya.
“Maaf, Om. Kalau bukan karena saya, mungkin indra ketujuh Gray segelnya tidak akan terbuka. Saya akan pergi, Om. Saya janji tidak akan mendekati Gray,” sesal gadis astral itu sembari beranjak dari duduknya.
“Saya permisi dulu, Om,” pamit Vanya sambil menuduk singkat sebelum melayang menembus pintu keluar.
Sementara pria baruh baya itu, ia hanya bisa mengembuskan napasnya lelah. Jujur saja, sebenarnya dia juga merasa iba dengan situasi membingungkan gadis astral tadi. Namun, mau bagaimana lagi? Ia juga tidak ingin anaknya berada dalam bahaya karena terlibat dengan gadis astral itu.
****
Pukul sembilan pagi Gray terbangun dengan kepala yang berdenyut-nyut. Pemuda itu menyipitkan matanya, berusaha menyesuaikan cahaya yang masuk melalui celah-celah jendela kamar.
Hampir seluruh tubuhnya sulit untuk ia gerakkan. Sesekali Gray merintih menahan rasa sakit yang kian mendera di kepalanya.
“Adi ... Nak, ini ayah, Nak. Kamu bisa dengar suara ayah?”
Gray tidak merespon ucapan sang ayah. Pemuda itu kembali merapatkan kedua mata dan mencengkram rambutnya begitu kuat, berharap rasa sakit di kepalanya bisa lenyap. Namun, sakit itu kian mendera menjalari seluruh tubuhnya. Gray mengerang kesakitan dengan tubuh gemetaran.
“Tarik napas, Nak! Pelan-pelan, istighfar. Ayah ada di sini, Nak.” Pria paruh baya itu hanya bisa menggenggam erat tangan Gray sembari melantunkan sholawat di telinga anaknya. Ini kali ke-empat Gray mengalami reaksi serupa ketika segel indra ketujuhnya terbuka.
Mendengar suara ayah yang begitu dekat di telinganya, secara perlahan tubuh Gray mulai tenang dan berhenti gemetar. Sakit di kepalanya pun perlahan hilang, hanya menyisakan deru napas yang tak beraturan.
“Minum dulu, Nak,” ujar sang ayah sembari membantu Gray untuk meminum air yang sudah ia bacakan sholawat sebelumnya.
“Masih sakit?” tanya sang ayah ketika Gray sudah bisa duduk bersandar di sandaran ranjangnya.
“Apa ‘itu’ terbuka lagi, Yah?” tanya Gray hati-hati sembari mendongak perlahan menatap wajah sang ayah.
Pria paruh baya di sampingnya mengulas senyum menenangkan, sebelah tangannya terangkat dan mengelus penuh kasih sayang puncak kepala anaknya. “Ayah akan berusaha untuk menyegelnya lagi, Di. Kamu jangan khawatir, ya, Nak,” ujar ayah meyakinkan.
Kepala Gray tertunduk perlahan ketika mendengar perkataan sang ayah. Dugaannya benar, indra yang ditakutkannya selama ini kembali terbuka lagi setelah sikian lama. Terlebih Gray sadar, segel yang terbuka adalah segel yang ketiga kali, itu artinya baik ayah maupun kakek, tidak ada yang bisa menyegel indra ketujuhnya lagi.
“Sepertinya Adi akan mengalami hari yang sulit lagi mulai sekarang,” gumam Gray sembari menatap nanar kedua telapak tangannya.
Sang ayah merangkul bahu Gray penuh kasih sayang. Pria paruh baya itu berusaha menguatkan anaknya agar tetap tegar dan selalu tawakal. “Apapun risikonya, ayah akan berusaha untuk menyegelnya, Nak.”
Hanya deheman singkat sebagai respon Gray terhadap ucapan ayahnya. Pemuda itu berusaha menguatkan hati dan mentalnya agar siap menjalani hari-hari sulit ke depannya nanti.
“Ibu mana, Yah?” tanya Gray tiba-tiba.
“Ibu kamu semalaman nemenin kamu di sini, Nak. Dia khawatir sama keadaan kamu. Sekarang ibu lagi jemput kakek ke Bandung,” jawab ayah sembari beranjak dari ranjang dan membuka gorden jendela.
Gray mengembuskan napasnya singkat sembari melempar pandang ke arah jam dinding di kamarnya. Hari sudah beranjak siang, itu artinya ia terlambat untuk pergi ke sekolah.
“Ayah sudah telepon wali kelas Adi, kan?”
“Sudah, tadi ibu yang telepon wali kelas kamu untuk izin, kalau hari ini kamu gak bisa masuk karena demam.”
Gray mengangguk singkat, lalu pemuda itu kembali berbaring dan menyelimut dirinya.
“Kalau lapar ke dapur, ya, ayah sudah buatkan masakan kesukaan kamu.” Pria paruh baya itu menepuk singkat kepala anaknya sebelum melangkah ke arah pintu keluar.
“Bentar, Yah! Adi mau nanya sesuatu dulu.”
Sang ayah yang sudah hampir sampai ke ambang pintu, menghentikan langkahnya dan menoleh pada Gray yang menyembulkan kepala dari balik selimut.
“Tanya apa, Di?”
“Ayah tau nggak, gadis astral yang bersama Adi tadi malam ke mana?”
“Buat apa kamu cari anak itu lagi, Di?” tanya ayah dengan nada datarnya. “Gara-gara dia indra ketujuh kamu terbuka. Lebih baik kamu tidak usah terlibat lagi dengan gadis astral itu.”
“Adi harus berterima kasih dan balas budi ke dia, Yah. Justru energi spiritual gadis itu tanpa sadar membantu Adi, Yah. Kalau dia gak ada di deket Adi, mungkin sewaktu kehabisan energi spiritual, Adi gak bakalan bisa bernapas lagi.”
Benar, faktanya Gray memang merasakan energi spiritual lain tiba-tiba menyelimuti dirinya ketika dia nyaris kehabisan energi spiritual dalam tubuhnya waktu itu.
Pemuda itu sangat yakin bahwa itu adalah energi spiritual si gadis astral yang berada di dekatnya, sebab sebelum Gray memadatkan energi spiritualnya, pemuda itu dapat dengan jelas merasakan hawa dingin yang menenangkan dari energi spiritual gadis astral tersebut.
“Dan karena itu indra ketujuhmu kembali terbuka lagi, Di! Apa kamu masih mau berterima kasih dan balas budi sama gadis itu?!” tanya ayah dengan intonasi tinggi.
“Ayah dan ibu selalu ngajarin Adi untuk berterima kasih pada siapa saja yang sudah memberi kita pertolongan, bukan? Tanpa sadar dia sudah menolong Adi, Yah. Walaupun berat, Adi akan coba ikhlas dengan kondisi saat ini. Ayah gak perlu menyalahkan dia atas apa yang sudah terjadi.”
Raut marah sang ayah perlahan sirna begitu mendengar penuturan anaknya. Hatinya luluh dan tanpa sadar mengangguk sembari tersenyum sebagai respon. Gray benar-benar mengingatkannya pada seseorang yang sangat dekat dengan dirinya dulu.
“Anakku mewarisi sifat dan sikapmu, Ken. Kuharap kamu tenang di alam sana,” gumam sang ayah pelan sebelum menutup pintu kamar anaknya.
“Ayah berangkat ke restoran dulu, ya, Di!” Ayah setengah berteriak ketika sudah berada di luar kamar.
“Hati-hati, Yah!”
Setelah itu hening pun menyapa. Gray mengembuskan napasnya perlahan seraya bangkit dari ranjang menuju meja belajarnya. Gray melepas charger ponsel dan mengecek notifikasi dari benda pipih itu.
Saat jaringan internet tersambung, berbagai notifikasi dari aplikasi masuk di ponselnya. Notifikasi dari grup jurnalistik paling menarik atensi Gray saat ini. Pemuda itu pun membuka ruang obrolan tersebut dan mulai membaca obrolan dari teman-temannya.
[@Grayadiaksa Gue denger lo sakit, Gray? Pulang sekolah nanti kami jenguk, ya. Cepat sembuh Paketu!]
Gray tersenyum membaca pesan dari Rin. Gadis itu walaupun menjengkelkan, tetap saja mempunyai sisi kemanusiaan berupa perhatian.
[Bisa sakit juga Pak @Grayadiaksa?]
Chat dari Bima selalu membuat pemuda itu geleng-geleng kepala.
[Mau nitip apa, Pak @Grayadiaksa? Nanti Gue beliin!]
Atan Titisan Setan, begitulah nama yang diberikan Gray pada kontak temannya itu. Walaupun nadanya seperti bercanda, tetapi anak itu selalu serius dalam berkata.
[Makanya jangan kebanyakan duduk depan laptop, Pak @Grayadiaksa tumbang, kan, akhirnya?!]
Kemudian ada chat dari Zera yang selalu membuat Gray memutar bola mata kesal ketika membacanya. Gadis itu selalu saja asal menafsirkan apa yang terjadi pada dirinya.
Masih banyak lagi obrolan tim tiga di grub tersebut. Namun, Gray memilih tidak membaca keseluruhan isi obrolan teman-temannya itu.
[Penyelidikan terhadap kasus yang sedang kita liput gimana? Sudah dapat identitasnya?]
Usai mengirim pesan tersebut ke grub jurnalistik, pemuda itu beralih membaca chat dari Arkan, teman sebangkunya itu.
[Gray! Kata Pak Kamarudin, lo demam, ya? Abis pulang sekolah gue jenguk ke rumah lo, ya. Tadi tim jurnalistik lo juga ngajakin gue untuk ikut mereka jenguk.]
[Jangan lupa bawa catatan materi hari ini, Ar! Bawakan cemilan yang banyak juga, ya.] Tak lupa Gray menyelipkan emotikon jempol pada akhir pesannya.
Setelah pesan terkirim, Gray mematikan ponsel dan mengganti pakaian, lalu pemuda itu kembali melanjutkan tidurnya.
***
Bersambung

Komentar
Posting Komentar