Seventh Sense [EP.05]
[EP.05 - I'm Not a Ghost]
Gray tak henti-hentinya mengumpat dalam hati. Pasalnya pemuda indigo itu saat ini bisa dikatakan tengah dijegal oleh sosok astral yang hampir ia tabrak beberapa saat yang lalu.
Sementar Vanya, si gadis astral terduga penjegal motor ninja biru milik Gray, cengar-cengir sembari terkekeh pelan. Gadis itu tersenyum lebar hingga menampakkan deret gigi rapinya.
“Pucuk dicinta ulam pun tiba,” gumam Vanya sembari melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Gray.
“Jangan ngelak, lo tadi negur gue, kan?” todong Vanya dengan jari telunjuk tepat ke mata si pengendara ninja biru.
“Woy, Mbak! Mbak denger nggak, sih? Ngapain mojok di bawah pohon mangga, sih, Mbak?” Gray berteriak cukup nyaring ke sepasang pejalan kaki yang baru saja duduk di bangku beralaskan kertas koran di bawah pohon mangga, tak jauh dari lokasinya saat ini.
Sepasang kekasih tersebut tentu saja malu karena diteriaki oleh Gray, lalu dengan sigap si pria langsung menarik kekasihnya menjauh dari pohon mangga.
“Hadeh! Magrib-magrib gini hampir ternoda aja mata gue,” gumam Gray berusaha mengabaikan Vanya yang semakin mendekati wajahnya. Pemuda itu bergegas menutup kaca helmnya.
“Bau bangkai, keknya gue harus buru-buru pulang, deh!”
“Apa lo bilang? Gue bangkai, ha? Jangan pura-pura gak liat gue, deh!” seru Vanya kesal sembari memukul helm si pengendara ninja biru. Vanya shock karena pukulannya tepat sasaran, helm itu bahkan sampai mengeluarkan bunyi.
“Buset, gue bisa nampol helm!” Vanya berseru girang, lalu dengan rasa penasarannya gadis astral itu mencoba menangkup helm yang digunakan sang pengendara ninja biru dengan kedua tangannya.
Vanya tambah shock, ia bisa menyentuhnya. Gadis astral itu mengguncang-guncang kepala berhelm itu. “Asik! Gue bisa nyentuh orang!”
Darah Gray seketika mendidih mendapat perlakuan tidak senonoh dari gadis astral di depannya ini. Pemuda itu dengan geramnya menepis tangan Vanya yang menempel di sisi kanan dan kiri helmnya.
“Woy Kuntilanak! Lo bisa minggir nggak, sih?” Pemuda pengendara ninja biru itu berteriak nyaring di depan wajah Vanya.
Sontak Vanya menjauhkan diri dari pemuda itu. Gadis astral itu senang bercampur kaget, senang karena akhirnya ia menemukan seseorang yang bisa melihat dirinya, kaget karena suara pemuda itu nyaris merusak gendang telinganya.
“Gue bukan Kuntilanak! Gue masih hidup!” balas Vanya tak kalah nyaringnya dari teriakan Gray beberapa saat yang lalu.
“Cih, udah jadi hantu ngakunya masih hidup? Ada dendam yang belum terbalasakan, Mbak? Btw, gaun putihnya cocok, loh,” cibir Gray sembari terkikik pelan sembari meneliti apa yang gadis itu kenakan.
“Gaun putih apanya? Gue aja pake sweater nih! Eh, kok, baju gue tiba-tiba jadi berubah gini, sih?! Norak banget!” teriak Vanya kaget saat menatap baju yang saat ini ia kenakan.
Gaun putih semata kaki yang sudah tampak kotor dengan noda tanah, menjadikan Vanya benar-benar tampak seperti sosok kuntilanak yang sering ia tonton di film-film horror.
“Udah, Mbak, jangan kaget! Mbaknya, kan, udah meninggal. Jadi mending, Mbak pergi aja dengan tenang, ya, atau kalau ada sesuatu yang Mbak ingin lakukan, tapi semasa hidup belum sempat, kasih tau aja, Mbak, mumpung gue lagi baik, ntar gue bantuin, biar, Mbaknya cepat ke alam baka dan gak gentayangan lagi.”
Kali ini Vanya yang merasa kesal dengan ucapan pemuda pengendara ninja biru itu. Entah apa faktor yang menyebabkan dirinya tiba-tiba mengenakan gaun khas kuntilanak ini, yang jelas Vanya murka dikatain sudah meninggal oleh pemuda di depannya itu.
“Jangan panggil gue, Mbak! Gue bukan Mbak-Mbak, terus gue juga belum mati! Gue bukan hantu!”
Gray berdecak sebal mendengarnya. Sudah banyak jenis makhluk astral yang Gray temui mengaku bahwa ia masih hidup, nyatanya kaki mereka tidak menapak ke tanah lagi. Selama ini ada tiga hal yang Gray ketahui kenapa makhluk astral tidak bisa kembali ke tempat semestinya. Pertama, ada keinginan yang belum terlaksanakan semasa hidup, kedua, ada dendam yang belum terbalaskan dan ketiga, ada anggota keluarga yang masih meratapi kepergiannya.
Pemuda pengendara ninja biru itu menghela napas sejenak sebelum kembali berujar, “Sudah, Mbak. Gue tau, kok, mati muda itu sangat sulit untuk diterima, tapi mau gimana lagi, Mbak? Yang namanya ajal nggak ada yang tau, kan? Mbak sekarang udah nggak napak lagi, artinya, Mbak sudah bukan makhluk hidup. Kalau, Mbak, sadar akan keadaan Mbak saat ini, mungkin, Mbaknya bisa pergi ke alam baka.”
“Lo ngomong apaan, sih, dari tadi? Gue masih hidup! Roh gue aja yang keluar dari raga!”
“Iya, Mbak! Orang mati, kan, emang rohnya keluar dari raga! Gak mungkin rohnya langsung hilang gitu aja!”
Gray jadi bingung sendiri, bisa-bisanya dia betah ngobrol dengan gadis astral yang masih mengaku hidup ini. Rasa kesalnya terhadap tim tiga di ruang jurnalistik tadi sirna begitu saja, berganti rasa iba terhadap gadis astral di depannya itu.
Sementara Vanya, gadis astral itu geram setengah mati mendengar ucapan si pengendara ninja biru tersebut. Vanya bingung harus mengatakannya dari mana. Yang jelas, Vanya yakin, saat ini hanya pemuda pengendara ninja biru itu yang bisa menyelamatkan hidupnya.
“Serius! Gue masih hidup! Karena hal tak terduga roh gue keluar dari raga, katanya gue bisa balik ke raga, asal gue bisa nemuin orang yang bisa lihat gue!”
Gray mengernyitkan dahi mendengar ucapan gadis astral tersebut. Sebenarnya sedari tadi Gray memang sama sekali tidak mencium bau mayat atau pun bau bangkai, seperti makhluk astral lainnya pada gadis astral di depannya ini. Pemuda pengendara ninja biru itu nyaris mempercayai ucapan Vanya.
“Kata siapa, Mbak? Orang sudah mati, ya, harus kembali ke alam baka, bukan kembali ke raga! Mbaknya mau bangkit dari kuburan?” tanya Gray diselingi dengan kekehannya.
Vanya yang geram pun tanpa sadar melayangkan tangannya memukul helm sang pengendara ninja biru tersebut. Gray sontak saja terkejut dengan perlakuan gadis astral bar-bar di depannya ini.
“Apa, sih, Mbak? Gue bilang fakta, loh! Kenapa pake mukul segala, sih?!”
“Malaikat pencabut nyawa yang bilang gitu ke gue! Pokoknya sekarang, karena gue ketemunya sama lo, lo harus bantu gue kembali ke raga, meskipun lo manusia bar-bar gue gak peduli, deh. Bantuin, ya?”
“Gak ada rencana buat jalin silahturahmi sama makhluk halus, Mbak, maaf, ya,” ujar Gray, lalu pemuda indigo itu kembali menurunkan kaca helm dan menyalakan ninja birunya.
Melihat Gray yang bersiap-siap meninggalkannya, lagi-lagi Vanya merentangkan kedua tangan di depan motor ninja biru. Gadis astral itu memasang wajah memelas untuk menarik perhatian si pengendara ninja biru tersebut.
“Masa lo tega, sih, biarin cewek imut kayak gue gak bisa hidup lagi? Kejam banget lo jadi cowok! Berdosa banget kamu, Mas!”
Di balik helm pemuda pengendara ninja biru itu memutar bola matanya kesal. Tanpa memperdulikan eksistensi si gadis astral, pemuda itu menancap gas melewati gadis astral tersebut.
Vanya melotot tak percaya atas ketidakpedulian si pengendara ninja biru itu. Dengan rasa kesal yang mendominasi, gadis astral itu terbang mengikuti pemuda tersebut.
“Woy! Pokoknya lo harus mau bantuin gue! Kalau nggak, setiap hari lo bakal gue hantuin!” teriak Vanya setelah berhasil mensejajarkan posisinya di samping ninja biru yang tengah melaju.
Gray lagi-lagi mengabaikan gadis astral itu dan menambah kecepatan laju ninja birunya. Tak mau kehilangan kesempatan, Vanya pun berusaha terbang secepat mungkin mengikuti ninja biru tersebut.
“Gak bakal gue lepas sebelum lo setuju untuk bantuin gue!” Gadis astral itu berhasil mendaratkan bokongnya ke jok belakang ninja biru dan memeluk erat pinggang pemuda itu.
Gray berdecak sebal sembari melirik sekilas ke kaca spionnya. “Sial! Apa ini yang namanya ketempelan setan?!” umpat Gray kesal.
Pemuda indigo itu tak menggubris lagi apa pun yang Vanya katakan, Gray membiarkan gadis astral itu menempel di belakangnya. Satu hal yang Gray sadari, sedari tadi ia mencoba membaca ayat kursi. Namun, gadis astral itu masih anteng duduk di belakangnya tanpa merasa kesakitan.
“Punggung lo lebar juga, ya? Enak dijadiin tempat senderan,” ujar Vanya sambil menyenderkan kepalanya ke punggung pengendara ninja biru itu.
Bayangan David dan Widy di taman tadi, kembali menari-nari di ingatan Vanya. Mengingat hal tersebut, tanpa sadar tangannya semakin kencang memeluk si pengendara ninja biru.
***
Bersambung

Komentar
Posting Komentar