Seventh Sense [END Versi Online]
[LAST EPISODE – Master Of Darkness]
Vanya bersyukur bisa mengenal Gray beserta keluarganya. Jika tidak ada ayah pemuda itu, mungkin jiwanya benar-benar telah lenyap tanpa pernah bisa kembali lagi ke raga. Setelah menjelaskan semuanya pada ayah Gray, gadis astral itu pun diteleportasikan oleh Gabriel ke rumahnya.
Vanya menunggu di kamar Gray sambil sesekali memegang lehernya. Kilas balik sebelum tubuh astralnya melebur, kembali terbayang di benak. Baru kali itu Vanya benar-benar merasa takut akan kematian. Bahkan lehernya sampai saat ini masih terasa sakit akibat cengkeraman erat makhluk menjijikan itu.
“Gue harap lo baik-baik aja, Bu. Semoga Om bisa bawa lo pulang dengan selamat,” gumam gadis astral sembari melayang mendekati jendala.
Netranya melempar pandang ke halaman rumah. Kubah gaib pelindung rumah ini entah kenapa di siang hari terlihat sangat jelas di mata Vanya. Kubah itu juga tampak semakin tebal dari sebelumnya.
“Kok, gue jadi gelisah gini, ya? Ya ampun, semoga firasat gue nggak bener. Gue harus yakin, Abu dan Om El pasti baik-baik aja.” Gadis astral itu jadi gelisah sendiri sambil komat-kamit membaca doa.
“Tak terasa sudah hari ke 22, Vanya. Apa kamu yakin bisa membuat pemuda itu jatuh cinta padamu?”
Suara yang sudah tak asing lagi bagi Vanya, tiba-tiba terdengar jelas di indra pendengarannya. Kontan gadis astral itu langsung membalikan tubuh ke arah sumber suara. Sosok berjubah hitam dan wajah yang bersinar menyapa netranya.
“Malaikat pencabut nyawa?” gumam Vanya sembari memicingkan kedua matanya.
“Ya, bertemu lagi kita. Bagaimana kabarmu?” tanya sosok berjubah hitam dan wajah bersinar itu.
“Masih ada beberapa hari lagi. Kenapa Pak Mal datang ke sini?” Vanya malah balik bertanya sembari melayang mendekati sosok itu.
“Tampaknya kamu bersenang-senang dengan situasimu saat ini, ya? Apa kamu sudah mulai merasakan, kenapa pemuda itu terus berada dalam bahaya? Kamu ingat, apa yang pernah saya pesankan saat pertama kali kita bertemu?”
Vanya paham betul, maksud dari pertanyaan sang malaikat pencabut nyawa yang menarik rohnya keluar dari raga itu. “Saya gak seneng-seneng, Pak. Justru saat ini saya sedang berjuang jatuh cinta sama dia dan berusaha membuatnya jatuh cinta juga sama saya. Itu persyaratan yang bapak berikan, bukan?”
“Coba kamu ingat. Apa selama 22 hari ini pemuda itu baik-baik saja setelah bertemu dengamu?”
Vanya tertegun. Potongan adegan demi adegen berbahaya yang ia lalui bersama Gray kembali terlintas di benak. Terbukanya indra ketujuh pemuda itu sampai insiden hari ini. Semua selalu ada dia di dekat Gray. Jadi, apa semua hal tersebut juga ada kaitannya dengan dirinya?
“Sejak awal kamu telah salah memilih pemuda itu, Vanya. Risiko yang dia tanggung berkali-kali lipat dari pada manusia yang bukan keturunan dari malaikat. Mau memilih orang lain pun kamu sudah tak punya banyak waktu lagi. Jadi, saya ke kemari hanya ingin mengatakan dua hal penting padamu. Pertama, keberadaanmu akan selalu membuat pemuda itu dekat dengan maut. Kedua, walaupun kamu berhasil kembali ke raga, kamu tidak akan mengingat kenanganmu bersama pemuda itu.”
Entah sejak kapan air mata itu mengalir membasahi wajahnya. Dada Vanya terasa sesak kala mendengar hal tersebut. Berarti selama ini keberadaannya jugalah yang menjadi pemicu pemuda itu berada dalam bahaya. Terlebih, satu fakta mengejutkan lagi ia ketahui hari ini. Bagaimana mungkin ia harus melupakan kenangan bersama Gray ketika sudah kembali ke raga. Jujur, dua hal yang baru saja ia dengar benar-benar sulit untuk Vanya terima.
“Salah saya sebenarnya apa, sih, Pak?! Bapak yang narik roh saya keluar dari raga. Bapak pula yang menentukan nasib saya! Ini gak adil, Pak! Fine! Saya sadar Gray dalam bahaya karena saya! Tapi kenapa kenangan saya dan Gray dilenyapkan ketika saya sudah kembali ke raga? Bapak mau menyiksa saya secara lahir dan batin?! Sebenarnya Bapak malaikat atau iblis, sih?! Ini berat, Pak! Sampai saat ini saya saja masih nggak terima dengan keadaan ini!” Vanya menjerit meluapkan semuanya. Gadis astral itu tak tahan lagi dengan apa yang ia alami sampai saat ini.
“Jangan menyalahkan saya atas apa yang terjadi padamu saat ini, Vanya. Salahkan ayahmu sendiri, karena dia yang telah menyerahkanmu kepada Sang Penguasa Kegelepan sebagai tumbal untuk mendapatkan kekayaan.”
Vanya melongo tak percaya atas apa yang baru saja ia dengar. Telinganya masih berfungsi dengan normal. Jadi, minim sekali kemungkinan bahwa ia salah mendengar apa yang baru saja sang mailaikat pencabut nyawa itu katakan. “Bapak ngomong apa, sih?! Bapak fitnah papa saya, ha? Meskipun papa saya jahat kepada mama, dia gak mungkin menjual saya ke Sang Penguasa Kegelapan! Jangankan menjual, papa saja gak tau dengan hal-hal mistis kayak gitu!”
“Kamu ingat apa yang pernah saya katakan padamu dulu? Alasan kamu tidak bisa kembali ke raga. Dulu saya mengatakan tidak bisa memberikan alasan tersebut, bukan? Apa yang kamu dengar tadi adalah alasan yang sebenarnya, Vanya. Dulu saya tidak memberi tahu hal tersebut, karena saya takut kamu akan dendam pada ayahmu sendiri dan berubah menjadi roh jahat yang akhirnya takkan pernah bisa kembali lagi ke raga. Sudah waktunya kamu tahu mengenai kebenaran ini, Vanya.”
“Hantikan sandiwara mejijikan ini, wahai Iblis Biadab!”
Vanya terkejut mendengar suara ayah Gray dari belakangnya, sontak gadis astral itu menoleh ke arah sumber suara dan beringsut mendekati Gabriel yang tengah menggendong Gray.
“Iblis?” gumam Vanya, sambil menatap ayah Gray dan sosok berjubah hitam dengan wajah bersinar itu secara bergantian.
“Mundur ke belakang saya, Van,” titah Gabriel dengan tatapan tajam mengarah pada sosok berjubah hitam di depan sana. Vanya lantas mengikuti ucapan pria paruh baya itu. Otaknya kali ini benar-benar lamban dalam mencerna situasi.
“Mau sampai kapan kau memanfaatkan manusia tak berdosa demi membebaskan tuanmu itu, hm?” Gabriel bertanya sembari mengeluarkan kemampuannya. Pria paruh baya itu membentuk energi spiritualnya menjadi kubah gaib di sekelilingnya dan Vanya.
“Om, maksudnya ini apa, Om? Om kenal sama Pak Malaikat itu?” tanya Vanya semakin kebingungan dengan situasi saat ini. Tekanan udara di dalam kamar Gray juga tak normal. Hawa dingin dan hangat membaur menjadi satu.
“Selama ini kamu telah dimanfaatkan oleh iblis itu, Vanya. Tak ada malaikat pencabut nyawa yang menarik roh manusia yang masih hidup dari raganya.”
Vanya semakin tercengang mendengarnya. Matanya kini beralih menatap sosok berjubah hitam di luar kubah gaib ciptaan ayah Gray. “Iblis? Jadi dia iblis, Om?” tanya Vanya lagi. Namun, Gabriel mengabaikan pertanyaannya.
“Sekanario yang kalian ciptakan benar-benar hampir membuatku lengah. Namun, aku tak sebodoh yang kalian kira. Kembalilah ke wujud menjijikan itu! Berhenti pura-pura menjadi malaikat yang baik hati!”
Sontak Vanya langsung menutup kedua telinganya ketika suara tawa mengerikan mulai menggema. Suara tawa itu berasal dari sosok berjubah hitam yang sampai ini masih Vanya yakini sebagai malaikat pencabut nyawa.
“Tak kusangka, malaikat buangan seperti kau dapat dengan mudah mengetahui hal itu.”
Suara sosok berjubah hitam itu berubah menjadi terdengar berat dan parau, sangat berbeda dengan suara pada saat ia berbicara pada Vanya beberapa saat yang lalu.
“Apa kau kehabisan tangan kanan dan kiri, sehingga menyempatkan diri ikut terlibat dengan konspirasi menjijikan ini?” tanya Gabriel dengan nada sarkasnya.
Tubuh Vanya mendadak gemetar ketakutan saat melihat sosok berjubah hitam itu perlahan berubah menjadi makhluk yang sangat mengerikan. Bertubuh besar dan berbulu hijau toska, dengan tinggi badan hampir mencapai langit-langit kamar. Dua taring panjang menjulur keluar dari mulut serta kepala dengan rambut berbentuk anak-anak ular yang sedang bergumpal. Tak lupa kedua bola mata yang merah sebesar kepalan tangan orang dewasa.
“Om ... dia ... se—sebenarnya dia siapa, Om?” tanya Vanya terbata sembari memegang tangan Gabriel ketakutan.
“Mau bertarung sekarang?” tanya makhluk mengerikan itu sambil menyeringai ke arah Gabriel.
Gabriel tersenyum sinis sebelum berujar, “Jadi ini, wujud menjijikan dari Sing Baurekso, Sang Penguasa Kegelapan itu?” Gabriel mendengkus singkat. “Benar-benar wujud yang sangat mengerikan. Terima kasih sudah mengantarkan nyawa padaku, wahai Iblis Biadab!”
***
Jika kalian penasaran dengan ending dari kisah ini bisa membeli novelnya, ya. Karena cerita ini sudah diterbitkan, loh🤗🙏
Info order bisa chat saya langsung atau langsung cek out via shopee, ya. Di versi cetaknya terdiri dari 37 Chapter, loh😆 di jamin kalian gak bakal kecewa adopsinya.
Terima kasih atas apresiasinya selama ini.

Komentar
Posting Komentar