Seventh Sense [EP.02]
[EP.02 - Something Impossible]
Di lain tempat dan waktu berbeda. Vanya, seorang gadis bertubuh yang bisa dikatakan pendek, nyaris sesak napas karena kerumunan siswa-siswi dari SMA Gema Nusa dan SMA Bakti Mulya sedang bereuforia di tengah-tengah lapangan basket milik SMA Gema Nusa, dengan musik yang masih memekakkan telinga.
Gadis itu diseret paksa oleh sang teman untuk ikut meramaikan penutupan turnamen basket pada hari ini.
“Sialan banget Si Widy! Awas aja kalau ketemu bakal gue bejek-bejek tuh anak!” umpat Vanya kesal usai terbebas dari kerumunan.
Gadis itu berjalan cepat ke tribun dan mengambil tasnya lalu sedikit berlari menuju pintu keluar stadion milik SMA Gema Nusa ini. Sesampainya di gerbang depan, Vanya merogoh ponsel dari tas dan mendial nomor seseorang dari daftar kontaknya.
Lama menunggu, gadis itu tak dapat jawaban dari orang yang diteleponnya. Vanya berdecak kesal dan mematikan ponselnya, lalu gadis itu pun mulai berjalan meninggalkan gerbang depan SMA Gema Nusa menuju terminal terdekat. Trotoar yang dilewatinya gelap, karena beberapa lampu penerangan jalan tiba-tiba mati seiring dengan langkah kakinya.
Mendadak bulu kuduk Vanya meremang seketika, matanya menatap awas ke kanan dan ke kiri. Semakin cepat langkah kakinya semakin terdengar jelas langkah yang mengikuti di belakangnya. Jantung gadis itu sudah berdetak tak normal, perasaan kalut bercampur cemas menyelimuti hati.
“Akkkhhh!” Refleks, Vanya berteriak ketika merasakan ada yang menepuk pundak sebelah kanannya. Gadis itu menutup rapat kedua matanya dengan telapak tangan.
“Dek, awas ada mobil!!”
“Minggir, Dek!!”
“Dek!!!”
Beberapa teriakkan orang-orang menyadarkan Vanya, gadis itu membuka matanya perlahan dan terkejut karena baru menyadari posisinya saat ini, seingatnya tadi ia tengah berjalan di trotar dan saat ini ia sudah berada di tengah-tengah jalan.
“Cepat minggir, Dek!!” teriak seseorang di pinggir jalan.
“Ha?”
Saat Vanya mendongak sinar yang cukup menyilaukan membuatnya mengernyit dan menyipitkan mata sebelum akhirnya tubuh gadis itu terpental cukup jauh karena sebuah taksi berwarna kuning menabraknya.
“Gue mohon ... gue belum mau mati sekarang,” gumam Vanya dalam hati ketika tubuhnya sudah dalam posisi tertelungkup dengan kepala membentur pinggiran trotar dan mengeluarkan banyak darah segar.
“Ambulans! Telepon ambulans cepat!”
“Angkat pelan-pelan!”
“Cari ponselnya dan hubungi keluarganya!”
Beberapa suara orang yang berkumpul di sekitarnya masih dapat Vanya dengar meskipun samar-samar. Tubuhnya terasa mati rasa, ia tak dapat menggerakkan satu jari maupun anggota tubuh lainnya. Membuka mata saja tidak bisa, terlebih dadanya semakin sesak karena tidak bisa bernapas dengan baik.
“Loh? Bukannya tadi gue kepental?” gumam Vanya sembari menggaruk kepalanya dan menoleh ke arah kerumunan orang di pinggir trotoar yang berjarak cukup jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
“Tunggu dulu, itu kerumunan apaan, sih?” ujarnya bingung sembari mendekati kerumunan orang yang sedang panik di pinggir trotoar.
“Gak mungkin, ini pasti gak mungkin, buktinya gue baik-baik aja, nih!” Vanya menggeleng keras saat netranya menatap sosok yang berada di tengah-tengah kerumunan orang itu.
Itu tubuh Vanya dengan kepala bersimbah darah dan tulang kaki yang menyembul keluar dari daging.
“Apa sekarang gue beneran udah mati? Kayaknya iya, gue gak bisa denger detak jantung gue sendiri dan ....”
“Akkhh!!!” Vanya menjerit histeris saat melihat kakinya tak berpijak di aspal.
“Tubuh gue ... tubuh gue juga kenapa bersinar kek gini?” Vanya panik ketika melihat tubuhnya mengeluarkan cahaya, gadis itu berusaha menggapai seseorang yang melewatinya dan sia-sia saja karena tangannya menembus orang itu.
“Apa ini yang disebut roh? Astaga! Gue bener-bener udah mati! Mana gue belum sempat tobat!” Gadis itu lagi-lagi berteriak histeris sembari menutup kedua matanya, ia meraung tapi tak seorang pun mendengarnya.
“Sudah mati baru ingat tobat, dasar manusia!”
“Hah?” Refleks Vanya membuka wajah dan mendongakkan kepalanya ketika suara seseorang terdengar sangat dekat di telinganya.
Vanya sontak mengernyitkan matanya ketika sesuatu yang menyilaukan mengahalangi pandangannya.
“Vanya Maheswari Binti Harris Prahadi, ikuti saya.” Lagi-lagi suara itu terdengar dekat di telinga Vanya. Namun, Vanya tak dapat menemukan sosok yang memiliki suara itu.
“Siapa yang ngomong? Dan ini siapa lagi, sih, yang nyenterin muka gue? Silau hoy!” Vanya semakin menutup rapat kedua matanya ketika sinar di depannya semakin bersinar terang.
“Ikuti cahaya di depanmu dan jaga ucapan jika tidak ingin jiwamu menghilang dari semesta ini.”
Suara berat itu kembali menusuk telinga Vanya dan kali ini sukses membuatnya gemetar ketakutan. Lalu, perlahan gadis itu pun membuka kedua mata dan mengikuti cahaya di depannya dengan perlahan.
Berjarak lebih dari dua puluh meter dari kerumunan orang, Vanya mendengar suara sirine ambulans, sontak gadis itu membalikkan tubuhnya untuk kembali melihat ke arah orang yang tengah mengerumuni tubuhnya di pinggiran trotoar itu. Tubuhnya diangkat oleh petugas medis ke tandu dan dibawa masuk ke dalam ambulans.
“Jangan khawatir, kamu masih hidup. Terus ikuti cahaya di depanmu.” Seolah tahu apa yang tengah Vanya pikirkan, suara itu tiba-tiba kembali hadir menyapa telinganya.
Vanya mengerjap dengan mata berbinar. Ia sama sekali tidak salah mendengar bahwa suara itu mengatakan ia masih hidup. Dengan penuh semangat meskipun masih sedikit bingung dengan situasinya saat ini, gadis itu kembali melayang mengikuti cahaya yang terus bergerak dengan perlahan di depannya itu.
“Baiklah, saya akan menjelaskan situasimu saat ini.” Cahaya di depan Vanya berhenti bergerak dan Vanya pun kontan menghentikan aktivitas mengikutinya.
“Bentar, tunggu dulu, jadi yang ngomong sama gue sekarang ini siapa, ya?” tanya Vanya hati-hati, kali ini gadis itu berbicara dengan intonasi rendah dan mencoba menjaga sopan santunya.
“Jika kamu manusia yang mempunyai agama, kamu pasti tahu tugas siapa yang mencabut nyawa manusia apabila sudah ajalnya.”
Vanya mengangguk singkat tanda ia mengerti atas apa yang dikatakan cahaya di depannya ini.
“Ma—malaikat pencabut nyawa,” lirih Vanya sembari menunduk dalam, mendadak ia tak berani menatap cahaya di depannya itu.
Rasa terkejut karena mendapati dirinya saat ini hanyalah sebatas roh, tergantikan oleh rasa takut karena saat ini ia benar-benar sudah berhadapan langsung dengan malaikat pencabut nyawa.
“Karena campur tangan makhluk astral, saya terpaksa menarik rohmu dari raga. Kamu mempunyai energi spiritual yang sangat kuat, hingga membuat beberapa makhluk astral sebangsa jin kelas atas mengincar rohmu untuk bisa mendapatkan raga yang utuh. Salah satunya Sing Baurekso, jin penguasa hutan dan pegunungan. Hampir saja ia berhasil mengambil rohmu jika saya tidak cepat menarik rohmu keluar.”
“Mendadak, kok, gue berasa masuk dunia fantasy, ya? Malaikat pencabut nyawanya sama ganteng gak, ya, kek di drakor Gobl*n?”gumam Vanya pelan sembari mengerutkan dahinya bingung. Diam-diam ia terkekeh sendiri dengan pemikiran absurdnya itu.
“Yang jelas saat ini kamu tidak mati dan tidak hidup. Secara harfiah ragamu memang masih bernapas, tapi tidak bisa membuka mata karena rohmu sudah bisa dikatakan terpisah secara permanen dari raga. Kenapa kamu tidak mati? Karena pada dasarnya saat ini belum waktunya kamu mati.”
Vanya kembali mengangguk, mencoba mencerna maksud dari apa yang baru saja ia dengar. Jujur saja, otaknya yang bisa dikatakan dibawah standar rata-rata sangat sulit mencerna kata-kata yang malaikat pencabut nyawa itu katakan.
“Jadi ... intinya gue keluar dari raga gue karena ditarik oleh malaikat pencabut nyawa, terus, gue juga gak hidup dan gak mati. Terus gue harus gimana dong? Katanya gue belum waktunya mati?! Terus gimana caranya gue bisa hidup? Kok, gue jadi ribet gini, sih?! Gue belum mau mati!” Vanya kembali ketingkah asilnya, ia tak bisa menahan segala keluhan dan pertanyaan yang mengendap di otaknya begitu saja.
“Baru kali ini saya menemui roh yang cerewetnya seperti kamu.” Tanggapan dari malaikat pencabut nyawa yang berupa cahaya putih di depannya, sukses membuat Vanya memanyunkan bibirnya.
“Astaga, gue barusan dikatain cerewet sama malaikat pencabut nyawa! Sabar, Van!” gumam Vanya dalam hati sembari menggeleng samar.
“Untuk saat ini kamu tidak bisa kembali ragamu dengan alasan yang tidak bisa saya beritahukan. Yang jelas, kamu tetap bisa kembali ke ragamu dengan syarat—”
“Apaan tuh syaratnya?” tanya Vanya tak sabaran, gadis itu semakin mendekati cahaya di depannya.
“Kamu harus mencari seseorang yang bisa mencintai kamu dalam wujud saat ini, karena seseorang yang mencintai kamu apa adanya akan menekan perkembangan energi spiritual tersebut. Jika kamu dapat menemukannya, kamu bisa kembali ke ragamu dengan utuh.”
Vanya semakin mengerutkan dahi dan menyipitkan matanya. Otaknya benar-benar lamban dalam mencerna tiap kata yang dilontarkan oleh malaikat pencabut nyawa di depannya itu.
“Tunggu bentar, Pak. Kok, syaratnya rumit, ya? Jujur, Pak. Ini tuh lebih rumit dari pada ngerjain ulangan Matematika, loh. Syarat yang Bapak kasih benar-benar mustahil untuk dilakukan. Bapak tau sendiri, kan, di antara milliaran orang hanya ada beberapa yang bisa melihat makhluk astral. Lah, kalau sendainya aku gak bisa nemuinnya gimana? Pokoknya, ini tuh mustahil banget, loh, Pak. Jangankan nemuin orang yang bisa mencintai, nemuin orang bisa lihat aku aja mustahil banget rasanya.”
Gadis itu mengeluh tanpa memperdulikan kosa kata yang ia gunakan, beberapa detik kemudian baru ia sadar siapa lawan bicaranya saat ini.
“Astaga, malaikat pencabut nyawa gue panggil Bapak!” gumam Vanya pelan sembari menepuk-nepuk dahinya. “Ini mulut emang gak tau caranya ngerem!”
“Waktumu tidak banyak, hanya 28 hari waktu yang diberikan untuk kamu bisa menemukan sosok itu dan jika kamu bisa menemukan sosok tersebut, kamu tidak boleh mengatakan padanya, bahwa dia harus mencintai kamu apa adanya. Jadi, biarkan saja dia dengan sendirinya mencintaimu tanpa kamu minta.”
Vanya berdecak sebal mendengar hal tersebut, pasalnya keluhannya sama sekali tidak didengar dan sekarang apa lagi kata sang mailaikat? 28 hari? Sungguh hal itu benar-benar sesuatu yang sangat mustahil untuk ia lakukan.
“Terus kalau aku gak bisa menemukannya bagaimana?” tanya Vanya. Kali ini, gadis itu berusaha mati-matin menekan kata-kata kasar yang sudah berada di ujung lidahnya. Ingin sekali rasanya ia mengumpat karena merasa frustrasi dengan situasinya saat ini.
“Rohmu akan menghilang dan ragamu akan berhenti bernapas.”
“Gak bisa gitu dong! Aku keluar dari ragaku juga karena siapa? Bukan salah aku, kan?” protes Vanya dengan menggebu-gebu. “Gak mau tau! Aku ketemu atau gak ketemu, pokoknya aku harus bisa balik lagi ke raga!”
“Hari ke 26, kamu sudah bisa merasakan sendiri efeknya jika kamu tidak dapat menemukan sosok itu.” Seolah tak mendengar keluhan Vanya cahaya di depan gadis itu terus berbicara.
“Satu hal yang perlu kamu ingat, semakin dekat hubunganmu dengan sosok itu, semakin beresiko pula kelangsungan hidupnya dan yang paling penting, berhati-hatilah terhadap makhluk astral lainnya.”
Seketika cahaya di hadapan Vanya menghilang begitu saja, meninggalkan berjuta tanya di otak standar gadis bertubuh pendek itu.
Baru saja Vanya ingin mengumpat kesal, hidung gadis itu menghidu aroma khas kemenyan dibakar, hal itu sontak saja membuatnya merasa lapar.
“Loh?! Bukannya sekarang gue cuma roh, ya? Tapi kenapa gue bisa lapar gegara nyium bau menyan, sih?!” Gadis itu berdecak sebal dan memegang perutnya.
“Kalau diinget-inget lagi, gue emang belum makan dari tadi pagi, sih,” lirih gadis itu sembari memanyunkan bibirnya.
“Emang sekarang gue bisa makan dalam wujud hantu kek gini? Bodoh amatlah, barangkali hantu bisa makan kemenyan.”
Tanpa pikir panjang, gadis itu melayang mengikuti aroma kemenyan yang semakin menusuk indra penciumannya. Semakin jauh ia melayang, semakin kuat aroma itu tercium.
Vanya berhenti di depan rumah yang cukup megah dengan bagian depan gerbangnya mengluarkan asap. Gadis itu perlahan mendekati asap tersebut dan matanya berbinar melihat nampan berisi buah-buahan, bunga melati dan daun pandan, serta dupa kecil tempat kemenyan dibakar.
“Woah, apa ini yang namanya sesajen? Buahnya bisa gue makan nggak, ya?” gumam Vanya sembari mengulurkan tangannya untuk menyentuh apel di nampan tersebut.
“Asem, apelnya bisa gue pegang!” serunya girang.
Tanpa membuang banyak waktu, gadis itu pun segera melahap apel tersebut dengan rakusnya.
“Dek, itu punya saya.”
Sontak Vanya menghentikan kunyahannya dan menggerakkan lehernya menoleh ke belakang.
“Sueeetan!” teriak Vanya histeris sembari melempar apelnya dan melayang begitu saja.
Pasalnya gadis itu mendapati sosok pria berkemeja biru, tengah melayang dengan setengah wajah yang hancur dan mengeluarkan belatung.
***
Bersambung

Komentar
Posting Komentar