Ning Nabila [END versi ONLINE]
Ditulis Oleh : Ferdi Andreas
~~~
Gus Bilal Pov
Malam ini, usai menunaikan salat magrib, aku, Mas Fahmi dan Kang Hasan duduk di teras ndalem sembari mengobrol ringan, sesekali kami tergelak ketika Kang Hasan menceritakan pengalaman konyolnya saat mengajar santri putra, obrolan terusan mengalir, hingga fokusku teralihkan oleh sosok yang tadi sore membuatku gusar bukan kepalang.
Usai menanyakan hubungannya dengan Kiai Abdulah, wajah Nabila berubah pias. Gadis itu juga tampak tak nyaman kala mendengar pertanyaanku. Gadis itu juga sempat membuat beberapa mbak ndalem sibuk mencarinya karena Mbak Azizah tidak dapat menemukan keberadaannya.
Aku sempat panik juga ketika mendengar gadis itu tidak dapat ditemukan, karena rasa khawatir menyelimuti hati, diam-diam aku pun ikut mencari sosok itu sembari merapal doa agar tidak terjadi apa-apa padanya.
Setengah jam berlangsung aku menyusuri beberapa tempat yang sering dikunjungi gadis itu, kulihat Mbak Azizah keluar dari asrama putri sembari mengusap wajahnya dengan kedua tangan, dia tampak mengembuskan napasnya lega. Aku pun menghampiri Mbak Azizah dan menanyakan kenapa dia baru saja keluar dari asrama putri, beliau mengatakan dia mencari Nabila dan ternyata gadis itu ada di kamar sedang tertidur pulas. Dalam diam aku merasa lega mendengarnya.
“Dek, Bilal? Sampean kenapa to?”
Suara Mas Fahmi menyadarkanku dari lamunan, lalu mengusap wajah dengan kedua tangan agar fokus kembali ke obrolan yang sedang berlangsung.
“Nggak, nggak papa kok, Mas,” balasku sembari tersenyum samar.
“Fokusmu kemana to? Dari tadi diem aja?” tanyanya lagi.
“Kepikiran sama lembar jawaban anak-anak yang belum aku koreksi, Mas,” jawabku asal. Mungkin Mas Fahmi sebenarnya tahu apa yang tengah kupikirkan, tapi tak mungkin dia membahasnya di sini karena ada Kang Hasan di antara kami.
“Monggo, Gus, kalau mau mengoreksi, nanti kelupaan,” kata Kang Hasan menimpali.
“Iya juga, Kang,” balasku.
Detik berikutnya entah kenapa ada sesak menyeruak di dada ini kala melihat Kang Hasan langsung mengalihkan pandangan ketika sosok Nabila masuk ke ndelem melalui pintu depan, Kang Hasan tersenyum, pandangannya tak teralihkan bahkan saat Nabila sudah berada di ndalem.
Mas Fahmi menyikutku, fokusku kini teralihkan kepadanya. “Kamu kenapa?” tanya Mas Fahmi tanpa suara, aku menggeleng samar sebagai jawaban.
“Nabila cantik, ya, Gus,” kata Kang Hasan tiba-tiba dengan senyum yang masih terpatri di wajahnya.
“Yo jelas cantik to, Kang, kan, dia keturunan chinnes,” sahut Mas Fahmi sembari terkekeh pelan.
Entahlah, perasaan apa ini. Kenapa terasa ada yang terbakar di dalam sana ketika Nabila dipuji oleh orang lain, rasa tidak terima itu menguasai diri. Astagfirullah, kutepis semua perasaan yang baru saja menghinggapi.
“Mas, Kang, aku permisi dulu, ya, mau lanjutkan pekerjaanku dulu, wassalamu'alaikum,” pamitku sebelum beranjak ketika mereka menjawab salam.
Saat melewati ruang tamu ndalem, aku hanya tersenyum singkat ke arah Mbak Azizah yang menayapa. Dia terlihat senang mengobrol dengan Nabila, saat mata ini bersitatap dengan netra Nabila, aku hanya menikmatinya sedetik, detik berikutnya langsung kualihkan pandangan sembari melanjutkan langkah ke kamar.
***
Embun masih menghiasi suasana di pagi hari. Beberapa santri yang melakukan lari pagi menyapa saat berpapasan denganku dan Mas Fahmi yang sedang jalan santai menikmati udara segar di jalan setapak sekitaran pondok.
“Dek, ada yang mau Mas sampaikan ke kamu,” ujar Mas Fahmi di sela-sela perjalan santai pagi itu.
“Apa, Mas?” tanyaku sembari menoleh sekilas padanya.
“Kalau kamu serius mau memperjuang Nabila, lebih baik kamu bertindak segera, Dek.” Mas Fahmi menghentikan langkahnya sambil menatap serius ke arahku, aku pun sontak berhenti di sampingnya.
“Kenapa memangnya, Mas?” tanyaku dengan dahi berkerut samar.
Kulihat Mas Fahmi menghela napasnya singkat sebelum berujar, “Kang Hasan juga menyukai Nabila, Dek.”
Bungkam, lidah terasa kelu untuk menanggapi. Mendadak perasaan aneh itu kembali menyeruak ke permukaan.
“Setelah sampean ninggalin kami tadi malem di teras, dia cerita ke Mas kalau sebenarnya dia sudah lama menyukai Nabila,” sambung Mas Fahmi.
Pasokan oksigen di pagi hari terasa menipis di sekitarku. Ucapan Mas Fahmi menancap tepat ke ulu hati. Apa aku harus merelakan sebelum memperjuangkan? Tidak, aku tidak selemah dan sepengecut itu untuk merelakannya begitu saja.
“Kalau dia jodohku, mau dia disukai oleh siapapun atau dia menyukai siapapun, insya Allah akan kembali padaku, Mas,” ucapku optimis. Ya, optimis, hanya dengan berpikir optimis aku bisa menyingkirkan segala perasaan risau yang melanda raga ini saat mengetahui Kang Hasan menyukai Nabila.
“Tetap aja to, Dek, kalau kamu nggak memperjuangkan dia terus lihat dia deket sama Kang Hasan, yang sakit hati siapa? Kamu, kan?”
Aku hanya tersenyum samar menanggapi ucapan Mas Fahmi, berusaha kerasa meredam perasaan asing yang dapat kusimpulkan sebagai bentuk dari kecemburuan ini agar tidak mencuat ke permukaan.
“Nggak papa awalnya sakit, Mas, insya Allah akhirnya bahagia,” kataku sembari terkekeh pelan, meskipun tak dapat kusangkal hati ini semakin gusar.
Mas Fahmi menggeleng samar mendengar ucapanku, aku terkekeh pelan melihat reaksinya. “Mas, aku tahu Mas mendukungku dengan Nabila, untuk itu, terima kasih, Mas,” Seulas senyum kulempar pada Mas Fahmi.
“Apapun itu, asal kamu bisa bahagia dan bertanggung jawab dengan pilihanmu, Mas akan selalu dukung, Dek,” Aku mengangguk samar sembari tersenyum lagi padanya.
“Apa menurut, Mas, aku harus segera ngomong ke Abah dan Umi untuk menolak perjodohan itu?” tanyaku kemudian.
Mas Fahmi kembali melangkah, aku secara spontan mengikutinya. Hening, Mas Fahmi tidak langsung menjawab pertanyaanku. Raut wajahnya tampak gelisah, ada rasa kekhawatiran yang tersirat dari sorot matanya.
“Sebenarnya memang bagus kalau kamu segera ngomong soal hal ini, tapi ....”
Ada jeda yang tercipta sebelum Mas Fahmi melanjutkan kalimatnya. “Mas juga nggak tega kalau liat orang tua kita kecewa, Dek,” lanjutnya sendu.
Aku hanya bisa mengembuskan napas berat kala mendengarnya. Benar apa yang baru saja dikatakan Mas Fahmi, hal ini pasti akan membuat abah dan umi kecewa padaku.
Apa aku harus mengorban perasaan mereka untuk kebahagiaanku? Atau malah aku yang harus merelakan Nabila demi abah dan umi? Jujur saja, dua pilihan itu sangat berat untuk kupilih.
“Jadi, menurut, Mas. Aku harus gimana?” tanyaku sembari menatap serius ke arah Mas Fahmi.
“Cari tahu dulu, Dek. Nabila suka sama kamu juga atau nggak. Percuma kalau kamu memperjuangkannya sementara dia sama sekali nggak punya perasaan apa-apa sama kamu.”
Ya, aku juga ingin mengetahui hal itu, tapi bagaimana? Mendadak rasa gelisah itu semakin kentara kurasakan. Bagaimana kalau Nabila tak menyukaiku? Akankah aku bisa tetap memperjuangkannya sampai dia mempunyai rasa yang sama sepertiku? Astagfirullah, aku tak ingin menjadi manusia yang terkesan memaksakan kehendak seperti itu.
“Gimana? Gimana agar aku tahu dia juga mempunya rasa yang sama sepertiku atau nggak, Mas?”
“Coba nyatain perasaan kamu ke dia, kalau dia juga suka sama kamu. Perjuangkanlah, ikhtiar, bahkan Mas juga akan membantumu berbicara ke abah untuk menolak perjodohan itu.”
“Gimana kalau ternyata Nabila tidak punya rasa apa-apa?”
“Jangan pesimis! Tergantung kamu sendiri, keputusan akhir juga ada di tanganmu. Ini hidup kamu, Dek. Kalau dia layak untuk diperjuangkan, kenapa tidak?”
Saat itu aku tidak menjawab lagi ucapan Mas Fahmi. Benar, sepertinya aku harus coba mencari tahu bagaimana perasaan Nabila terhadapku, setelah itu aku akan bertanya kepada hati ini, masih layakkah dia untuk kuperjuangkan kalau dia mengatakan tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadapku?
***
Seulas senyum terbit di wajahku kala netra ini menangkap sosok Nabila baru saja memasuki area kantin bersama kedua temannya, mereka tampak tertawa riang, entah apa yang mereka obrolkan sepanjang jalan, sedang netra ini tak lepas memandang sosoknya sebelum senyum di wajahku lenyap seketika saat Kang Hasan menghampiri mereka.
Pria itu tersenyum hangat kepada Nabila. Ya, hanya kepada gadis itu ia tersenyum, entah apa maksudnya, pandangannya pun berbeda. Tampak mereka ngobrol sedikit sebelum akhirnya Kang Hasan melambaikan tangannya padaku, aku hanya membalasnya dengan anggukan singkat.
“Kenapa nggak dimakan makanannya, Gus?” tegur Kang Hasan ketika pria itu sudah duduk tepat di depanku.
Aku menatapnya sekilas sebelum kembali menatap mie ayam di meja. Benar-benar tidak berselera untuk menyantap makanan itu saat mengingat Nabila juga balas tersenyum hangat kepada Kang Hasan, ada rasa tak terima yang lagi-lagi menyeruak ke permukaan.
“Sudah nggak napsu lagi, Kang,” balasku seadanya.
“Oh, ya, Gus. Sampean inget, kan, beberapa hari yang lalu kalau saya mau ngomong sesuatu?” tanya Kang Hasan tiba-tiba.
“Iya, Kang, inget. Sok atuh kalau mau cerita sekarang.”
Kang Hasan tersenyum penuh arti, ia tampak menggaruk tengkuknya sesaat, seperti orang malu-malu ingin mengatakan sesuatu.
“Itu, loh, Gus. Kayaknya saya mau ngajakin Nabila ta’aruf, saya sudah lama suka sama dia. Saya nggak bisa nunda lama-lama lagi, takut keburu sama orang nanti,” ucap Kang Hasan malu-malu.
Sendok yang ada di tangan tanpa sadar tergenggam erat, seiring teririsnya bongkahan daging bernama hati di dalam sana. Aku tak merespons, telinga seakan berdengung saat Kang Hasan menceritakan tanpa henti betapa kagumnya ia pada sosok Nabila selama ini.
***
Pikiranku berkecamuk, memikirkan planning Kang Hasan yang akan segera mengajak Nabila ta’aruf. Berkali-kali kupejamkan mata berharap perasaan aneh itu teredam. Lembar-lembar jawaban di depanku tak lagi kuhiraukan.
Sepertinya aku yang harus terlebih dahulu menyatakan perasaan kepada gadis itu sebelum Kang Hasan. Bukannya apa, aku hanya belum bisa menerima jika Nabila mengiyakan ajakan Kang Hasan nantinya. Itu artinya aku tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk menyatakan perasaan ini kepadanya.
Kutumpuk lembar-lembar jawaban menjadi satu, lalu menyimpannya di laci meja kerja abah. Aku pun beranjak dari ruangan itu.
Seperti biasa, angin di sore hari begitu menyegarkan. Namun, kali ini tidak bisa menyegarkan hati yang mulai gelisah ini. Sepanjang langkah mencari gadis itu aku berusaha memberikan sugesti pada diri sendiri, agar bisa menerima apapun keputusan gadis itu nantinya.
Lama aku mengitari pondok, tapi gadis itu belum tertangkap oleh netra ini. Saat melewati asrama putri Sarah dan satu temannya lagi tampak baru saja keluar dari sana tapi tak ada Nabila di antara mereka. Kuberanikan diri untuk bertanya kepada dua gadis itu. Sarah pun dengan santai menjawab kalau gadis itu sedang berada di gazebo di sisi halaman. Setelah berterima kasih aku pun segera melangkahkan kaki menuju tempat tersebut.
Tak butuh waktu lama, dari kejauhan aku sudah dapat menangkap sosok gadis itu tengah serius membaca buku. Entah apa yang dibacanya, sesekali gadis itu mengerutkan dahi kemudian mangut-mangut sendiri, seperti membaca sesuatu yang berat saja.
“Assalamualaikum."
Gadis itu sedikit terkejut mendengar suaraku, buru-buru ia menutup buku yang sedang dibaca lalu berdiri sembari menundukkan kepala singkat.
“Wa—alaikumsalam, Gus,” jawabnya sedikit terbata. Mungkin dia merasa tidak nyaman dengan jarak yang cukup dekat seperti ini, aku pun mundur beberapa langkah.
“Maaf kalau saya mengganggu,” kataku kemudian. Sesekali aku menarik napas mencoba meredam apa yang tengah berdetak cepat di dalam sana, berharap gadis di depan ini sama sekali tidak mendengarnya.
“Nggak, Gus. Ada apa, ya?” tanyanya dengan alis bertaut.
Aku tak kunjung menjawab, memikirkann kata apa yang harus kurangkai saat ini.
“Gus?”
Detakkan di dalam sana semakin kentara kurasa, sekali lagi kutarik napas panjang lalu mengembuskan perlahan, bismillah. Jika tidak sekarang, mungkin aku tidak akan punya kesempatan lagi.
“Mungkin ini terlalu cepat, tapi saya harus menyampaikan sekarang.”
Ada jeda yang cukup lama tercipta di antara kami. Nabila semakin mengerutkan dahi, menuntut agar aku segera menyelesaikan apa yang baru saja kuucapkan.
“Saya ... saya ingin mengutarakan apa yang beberapa hari ini mengganjal." Kembali kuhirup dalam oksigen yang terasa kian menipis. Mengisi kekuatan untuk berucap. "Saya menyukaimu, Nabila."
Akhirnya kalimat itu berhasil kuucapkan, di antara keraguan yang tercipta. Satu sisi aku merasa lega, tapi di sisi lain tengah merutuki betapa bodohnya aku hanya karena urusan cinta.
Hening, Nabila langsung bergeser beberapa langkah ke samping. Ekspresi wajahnya sulit kuartikan, keterkejutan jelas kentara. Namun, dapat kulihat ada semburat merah jambu di kedua pipinya. Wajah itu menunduk kemudian.
Tidak tahu berapa lama hening tercipta. Dari ekor mata, Nabila tak tenang berdirinya. Jemarinya saling menaut. Ia mendongak sekilas, lalu kembali menunduk.
“Saya hanya mau tanya. Apa kamu mempunyai perasaan yang sama seperti saya atau tidak. Jika iya, saya akan memperjuangkan kamu, maksudnya, saya akan menikahi kamu setelah lulus nanti.”
Lagi, gadis itu masih membisu. Namun tampak sekali ia seolah ingin berucap, bibir mengulum seperti menahan sesuatu. Aku hanya bisa menghela napas panjang melihatnya.
“Nabilaaa! Sampean di cari Bu Nyai buruan!” teriakkan memekakan telinga itu bersumber dari belakangku, kontan aku menoleh ke sumber suara. Tak jauh dari gazebo ada Sarah dan satu temannya lagi tengah melambai-lambaikan tangannya ke arah Nabila.
“Gus, saya—saya permisi dulu, wassalamualikum.”
“Saya tunggu jawaban kamu, walaikumsalam,” balasku.
Gadis itu langsung berlalu dari hadapan, aku hanya bisa mendesah kecewa karena tak dapat mendengar respons darinya, tak mengapa yang penting aku sudah bisa bernapas sedikit lega karena sudah berhasil mengutarakan isi hati. Apapun jawabannya, semoga tidak membuatku kecewa.
***
T A M A T
Versi Onlen!
Masih bisa dipesan, ya. Silakan hubungi kontak WA dibawah ini.
0812-7881-0381 (Ferdi Andreas)

Komentar
Posting Komentar